Senin, 15 Oktober 2012

Cerpen Terjemahan: SULTAN


S U L T A N

Penulis Asli: Qusay el-Syeikh Askar[1]
Dialihbasakan oleh bahasa: Armansyah
Layar tersibak perlahan.
Tapi panggung drama itu masih kelihatan sepi. Para penonton menunggu pertunjukan dimulai.  Lama menunggu, para pelakon satu pun belum juga kelihatan. Semua mata hanya melihat sebuah singasana keemasan terletak kokoh ditengah-tengah panggung.
Suasana hening menunggu pertunjukan dimulai…Akhirnya, sang sutradara muncul. Seorang pria gemuk, pendek dan berkepala botak. kedua ujung dutubuhnya terlihat jelas. Ia terlihat sangat gugup hingga kelihatan seperti orang linglung. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Dengan segenap keberanian yang dimilikinya, ia berdiri menghadap hadirin di tengah-tengah latar panggung.
Tuan-tuan…” ia memulai kata-katanya dengan gemetar.
Sekarang, anda semua hanya melihat singasana ini… drama ini tidak dapat dimulai karena orang yang akan memerankan raja tidak ada. Karena itu, siapa diantara Tuan-tuan sekalian yang sanggup memerankannya?” sambung sang sutradara.
Para hadirin mengira sutaradara ini sedang bersandiwara. Atau ia sedang menyembunyikan sesuatu dibalik kata-katanya tadi, barangkali sebuah kejutan atau permainan.
Hening. Tak ada jawaban…
Lama sang sutradawa menunggu jawaban, tapi tidak ada.
Para hadirin hanya saling pandang satu sama lain.
Tuan-tuan, jangan mengira saya sedang bergurau… saya benar-benar butuh seseorang yang ingin berperan sebagai raja…” katanya setengah putus asa.
Sang sutradara lalu turun dari panggung meninggalkan singasana yang ada di belakangnya. Ia berhenti di sela-sela tempat duduk di dekat para hadirin. Ia menyapa seorang penonton…
Tuan, anda mau berperan sebagai raja?”
Oh, tidak…”
Lalu ia pindah ke seorang penonton wanita di dekat dinding.
Nyonya, anda mau memerankannya? Kami akan menukar raja menjadi ratu…”.
Tidak… tidak…”.
Ia terus berjalan menusuri barisan penonton. Penonton panik dan mulai heboh. Akhirnya sang sutaradara kembali ke panggung dengan raut muka penuh kesedihan.
Tuan-tuan… Saya tidak yakin kita bisa memulai drama malam ini tanpa seorang raja. Walau pun sebenarnya, peran raja ini tidak memerlukan usaha yang begitu berarti… Raja hanyalah seorang yang duduk di singasana, memberi perintah dan lain-lain…”
Sutradara berhenti bicara, dan penonton kembali heboh. Ia kembali menyambung pembicaraannya.
Terserah kalian mau mengatakan ‘Sutradara sialan’… saya hanya mengatakan yang sebenarnya kepada kalian. Pemeran raja yang sebenarnya telah mati malam ini. Saya sendiri juga tidak menyangka hal ini akan terjadi…”.
Sutaradara berhenti lagi bicara. Ia kembali ingin melihat reaksi para hadirin  terhadap ucapannya. Karena ia melihat mereka tenang-tenang saja, ia lalu melanjutkan kembali kata-katanya.
Tak seorang pun bisa lolos dari kematian… Solusi satu-satunya agar drama malam ini segera dimulai adalah, seseorang diantara Tuan-tuan mau bermurah hati berperan sebagai raja…”.
Para hadirin memanfaatkan kesempatan diamnya sutradara untuk kembali membuat kehebohan. Tapi dari akhir barisan bangku penonton, terdengar sebuah suara…seorang pemuda.
Saya…saya…”
Saat itu juga, raut muka sutradara berubah. Airmuka keputusasaan yang sedari tadi terlukis di wajahnya berubah menjadi cerah penuh harapan…
Baiklah… tugasmu hanyalah naik panggung sekarang dan duduk di kursi emas itu…”.
Ketika pemuda itu mendekat ke latar penggung, wajahnya terlihat jelas karena tersorot terangnya lampu hias. Usianya sekitar tigapuluh tahun, sorot matanya memancarkan keanehan. Tubuhnya tinggi. Ia memakai pakaian abu-abu.
Siulan dan yel-yel terdengar riuh…
Sultan… Sultan… Sultan…!!!”.
Sang pemuda kembali menoleh ke belakang. Ia bergumam…
Tuan, sebenarnya saya tadi hanya bergurau. Sebenarnya mereka lah yang mendorong saya ke sini…” bisiknya pada sutradara.
Sutradara terpaku melongo.  Di depannya, ia hanya melihat seraut wajah serius yang tidak mungkin bergurau separah ini. Tapi bagaimanapun, ia sedang membutuhkan seseorang yang akan memerankan raja.
Siulan dan yel-yel terus bergema. Sekarang susana benar-benar heboh.
Sultan… Sultan…!!!”.
Nama saya Sultan… Sultan bin al-Waliy… karena itu mereka bergurau dengan saya… tangan-tangan mereka lah yang mendorong saya ke depan sini…”
Sutradara terus-menerus ingin meyakinkan wajah yang memiliki kemampuan bergurau begitu hebat di depannya. Semua penonton menampik penolakan pemuda itu..
Kamu sudah dekat dengan panggung ini… dan nama kamu Sultan?…”
Tapi pemuda itu segera memotong pertanyaan sutaradara.
Kalau begitu, saya memiliki satu syarat sebelum saya menduduki singasana emas itu”
Tidak apa-apa… kita akan sepakat begitu kamu masuk ke ruang ganti pakaian”.
Pemuda itu masih berdiri mematung. Sang sutradara meletakkan tangannya di pundak pemuda itu. Tapi ia tetap mematung.
Selama saya harus kembali ke sejarah dahulu, saya akan mengajukan syarat itu…”.
Kamu mengira saya akan menolak syarat kamu itu?”.
Baiklah… tapi bagaimana dengan para penonton?”
Sutaradara segera berdiri menghadap penonton . ia menggaruk kepala botaknya.
Apakah Tuan-tuan menginginkan sandiwara ini segera dimulai?”
Penonton kembali heboh, semuanya meneriakka kata setuju.  Lalu sang pemuda berkata di depan mereka.
Saya ada satu syarat. Kalian semua harus mentaati semua perintah saya…”.
Para hadirin begitu bersemangat supaya sandiwara segera dimulai. Mereka kembali bersiul dan bertepuk tangan.
Sultan, kami setuju…. Sultan, kami setuju…”.
Pemuda itu segera pergi menuju ruang ganti pakaian. Ia terlihat tenang berwibawa. Setelah itu, ia duduk di singasana dengan pakaian klasik. Sejarah seakan-akan berbaur dengan tubuhnya. Ia dikelilingi bala tentara yang dilengkapi peralatan perang. Di belakang singasana, ada dua orang pengawal dilengkapi pedang mengkilap. Segala sesuatu yang ada di belakang seakan menggambarkan sebuah kejadian besar.
Sang raja masih terdiam. Para tentara siap siaga… serta dua orang pengawal selalu siaga bila tiba-tiba terjadi kejadian yang mengejutkan. Raja masih terdiam… sedangkan para pelakom lain terlihat sedang menunggu perintah dari raja penuh kesabaran.
Hening. Lama sekali.
Penonton kembali heboh…
Sekejap setelah kehebohan itu, sang raja bergerak bangkit dari singasana. Ia mendekat ke pinggir panggung sambil terus dikawal bala tentarany. Akhirnya ia berkata…
Tuan-tuan… kalian telah menyetujui syarat saya tadi, karena itu saya menjatuhkan hukuman mati kepada kalian semua… kalian telah melanggar perintah raja…”
Lalu salah seorang pengawal segera berbalik ke tangga tempat turun menuju ke arah hadirin. Sedangkan bala tentara yang dilengkapi senjata perang segera terjun menuju kursi-kursi penonton…
***

[1]Sastrawan dan budayawan asal Saudi Arabia. Cerpen ini ditulis tahun 1987
Dikutip dari: Harian Riau Pos, 2 April 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

jika agan dan aganwati mau titip komentar atau pesan dipersilahkan ya