Kamis, 26 April 2012

Tradisi Melepas Keperawanan di Afrika




ilustrasi
Entah   ini karena kemajuan, atau memang kebablasan. Afrika Selatan sudah  menjadi negara demokratis, tapi juga negara bebas yang perkembangannya  menyerupai Amerika Serikat. Bahkan, soal hubungan seks pun cenderung  bebas sehingga timbul beberapa ekses sosial. Sebuah film remaja diputar di SABC, televisi terbesar di Afsel, pada pukul 21.00 waktu setempat. Intinya,  sinetron itu berkisah tentang siswa-siswa high school(setingkat SMA).  Di Afsel hanya ada elementary school yang terdiri dari kelas I sampai  VII. Kemudian, sekolah dilanjutkan ke high school dari kelas VIII sampai  XII.
Dalam kisah itu, para siswa menyiapkan pesta kelulusan.  Mereka akan mengadakan pesta di rumah salah satu siswa yang besar dan  luas. Namun, sebelum pesta tiba-tiba ada tulisan-tulisan di sekolah yang  mengejek para siswa yang masih perjaka dan perawan. Seolah, hal sakral  dan terpuji itu justru dianggap aneh oleh orang Afsel, manakala mereka  sudah menginjak usia 18 tahun.
Lalu, terjadilah pesta kelulusan  itu. Dan, siswi yang tadinya perawan dan siswa yang tadinya perjaka  berusaha melepasnya di malam itu. Di lantai atas sudah tersedia beberapa  kamar untuk melepas keperawanan dan keperjakaan itu. Siswa yang  menemukan pasangan atau pasangan lama bisa bergantian memakai kamar  untuk melakukan hubungan seks.
Menurut orang-orang Afsel, pesta  itu selalu terjadi di bulan Juni atau awal Juli, ketika datang masa  kelulusan high school. Biasanya, pesta dilakukan secara  sembunyi-sembunyi atau dikemas seperti pesta kelulusan biasa.
Tahun  ini, banyak pesta sembunyi-sembunyi, baik secara berkelompok maupun  berdua dilakukan sebelum Piala Dunia 2010. Tentu, pesta melepas keperawanan dan keperjakaan. Dengan demikian, mereka akan bisa menikmati  Piala Dunia 2010 dengan status “membanggakan” bagi pendapat mereka.
“Ya,  di sini ada tradisi seperti itu. Sepertinya pengaruh dari Amerika.   Biasanya sehabis kelulusan. Bagi yang masih menjaga norma, ini tentu  mengkhawatirkan,” kata Djaka Widyatmadja, staf KBRI di Pretoria, yang  sudah tinggal di Afsel selama 15 tahun.
Hal itu dibenarkan oleh  Lesogo, seorang sukarelawan Piala Dunia yang bermarkas di FIFA Fan Fest  Inner Free Park, Johannesburg. Menurutnya, di Afsel jika sudah berumur  18 tahun bebas menentukan pilihan dan bertindak. Bahkan, mereka juga  bebas berhubungan seks, atau memutuskan menikah, karena sudah dianggap  bisa bertanggung jawab dan mandiri.
“Terus terang, saya juga  melakukan hal itu dan itu sudah lumrah. Tapi, saya melakukannya setelah  berumur 18 tahun. Di Afsel, berhubungan seks dengan gadis di bawah 18  tahun merupakan pelanggaran hukum dan bisa didakwa dengan pasal  pemerkosaan yang hukumannya sangat berat,” kata Lesogo.
Meski  begitu, kasus hilangnya keperawanan di Afsel bisa terjadi saat masih  kecil di bawah 18 tahun. Ini berhubungan dengan keyakinan lokal. Dan,  praktik seperti ini masih sering terjadi. Bahkan, praktik ini sempat  ngetren karena ada isu bahwa AIDS bisa hilang jika berhubungan seks  dengan balita.
Sebagai catatan, kasus HIV/AIDS di Afsel masih  tinggi. Bahkan, Afsel termasuk negeri paling banyak pengidap AIDS-nya.  Menurut catatan UNAIDS pada 2007, jumlah penderita AIDS di Afsel  mencapai 5.700.000 orang. Artinya, Afsel menjadi negeri paling tinggi  dalam hal jumlah penderita AIDS.
Menyambut Piala Dunia tahun 2010  lalu, kabarnya pesta melepas keperawanan dan keperjakaan cukup banyak.  Memang dua hal itu tak ada hubungannya. Namun, mereka ingin menikmati  Piala Dunia bersama pacarnya dan sudah dalam status sering berhubungan  seks.
Yang pasti, hubungan antara pemuda dan pemudi di Afsel  memang bebas. Bahkan, tak jarang mereka mempertontonkan kemesraan, baik  pelukan maupun ciuman bibir, di depan umum tanpa rasa risih. Orang-orang  di sekitarnya pun juga cuek saja, seolah sudah menjadi pemandangan  biasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

jika agan dan aganwati mau titip komentar atau pesan dipersilahkan ya