Tampilkan postingan dengan label CITIZEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CITIZEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2012

Berburu Barang Mewah di Belanda

Oleh Dian Maya Safitri, Visiting Fellow Universitas Leiden, Belanda.

SIANG itu, dengan semangat ’45 saya bergegas menuju ke daerah Willembarendstraat di kota Leiden, Belanda. Tepatnya, ke sebuah toko yang menjual barang-barang bekas yang bernama Het Werenhuis. Tempat ini selalu dibicarakan dan direkomendasikan oleh teman-teman Indonesia saya.

Setelah tersesat dan bertanya pada tak kurang dari lima orang Belanda yang saya jumpai di jalan, saya akhirnya menemukan juga toko tersebut, yang gagah berdiri setinggi dua lantai. Jangan Anda bayangkan bahwa toko barang bekas di Belanda itu jelek dan kumuh seperti di Indonesia. Het Warenhuis di sini sangatlah tertata rapi dan kelihatan berkelas seperti toko-toko lain yang ada di Negeri Kincir Angin ini.

Barang yang dijual pun sangat beragam, mulai dari VCD, buku, pakaian musim dingin, mainan, kereta bayi, sampai TV. Bahkan, Anda juga bisa menemukan berbagai lukisan artistik serta keramik asli buatan Bavaria atau Inggris dengan harga sangat miring.

Saya membeli sebuah piring keramik ukuran sedang dengan lukisan pemandangan istana Eropa dan diproduksi di Inggris dengan hanya membayar 2,50 euro. Padahal, saya menaksir bahwa harga asli keramik seperti itu bisa lebih dari 20 euro. Untuk kualitas, Anda tak perlu kuatir, karena semua barang yang ada di sini bukan made in China, seperti yang bisa Anda temui di toko-toko suvenir se-antero Belanda.

Barang-barang ini biasanya disumbangkan secara cuma-cuma oleh para pemilik yang terdahulu karena tidak membutuhkannya lagi untuk kemudian dijualkan oleh Het Warenhuis. Berbeda dengan Jerman yang memiliki floehlmarkt (pasar loak), di Belanda semua barang yang ingin disumbangkan diorganisir oleh Het Warenhuis.

Tiap hari mereka bisa mendapatkan stok berbagai macam barang yang berbeda. Jika Anda suka dengan suatu barang, segeralah membelinya, karena bisa jadi Anda besok kecewa ketika barang itu tidak ada lagi. Karena harganya yang murah dan kualitas yang terjamin, tak heran jika banyak orang berbondong-bondong ke sini, termasuk orang Belanda sendiri.

Het Warenhuis buka tiap hari Selasa hingga Sabtu, mulai pukul 10.00 pagi sampai pukul 05.00 sore. Saya menyarankan untuk pergi ke tempat ini dengan sepeda, mengingat rumitnya jalan dan susah ditempuh dengan bis. Belanda memang negara paling nyaman dan ramah untuk para pesepeda, yang memang tersedia jalur khusus sepeda (fietspad).

Saran yang lain dari saya, jika Anda berniat membayar dengan uang tunai, pastikan uang tersebut pecahan kecil seperti 20 euro atau 50 euro. Jangan membayar dengan pecahan 100 euro atau di atasnya, karena akan membuat kasirnya heboh. Toko-toko di Belanda jarang sekali bertransaksi dengan pecahan euro yang besar untuk mengantisipasi perampokan.

Di Het Warenhuis, Anda dapat memuaskan hasrat belanja Anda tanpa perlu kuatir akan menguras kocek Anda. Jadi, jika suatu hari nanti Anda berencana ke Belanda, pastikan untuk memasukkan Het Warenhuis dalam daftar “obyek wisata” Anda yang wajib dikunjungi. Selamat berbelanja!    

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Selasa, 10 Januari 2012

Chow Kit ‘Pasar Aceh’ di Malaysia

Oleh Teuku Muttaqin Mansur, PhD Student, Faculty of Law Universiti Kebangsaan Malaysia

RASANYA tidak ada masyakarakat Aceh yang tidak pernah mendengar kawasan Chow Kit Malaysia, sebab kawasan ini dikenal sebagai pasar dagangnya masyarakat Aceh di Malaysia. Sehingga apabila mengunjungi Malaysia, seolah belumlah dianggap lengkap apabila tidak singgah untuk mengunjungi “pasar Aceh” di Malaysia ini.

Suatu kali, saya bersama isteri berkesempatan menemani dua tamu dari Aceh untuk melihat-lihat keunikan pasar Chow Kit tersebut. Dan sebetulnya saya belum terlalu familiar dengan kawasan itu, meski begitu, ini adalah kali ke tiga saya mengunjungi kawasan tersebut selama hampir empat bulan saya berada di Malaysia.

Pasar Chow Kit terletak di ujung utara Jalan Tunku Abdul Rahman Tapi, para pedagang asal Aceh kebanyakan berjualan di sepanjang jalan Raja Alang yang bersisian dengan Safuan Plaza. Atau, apabila kita turun di Stasiun Kereta Api Monorail, lalu menyeberangi jalan, dan belok kiri langsung tiba di pasar Chow Kit.

Di sepanjang kiri-kanan jalan Raja Alang, di kawasan Chow Kit, banyak pedagang Aceh berjualan. Di kawasan ini, atau tepatnya di depan Safuan Plaza, terlihat kios buah-buahan berjejer serta warung nasi dan mie Aceh, yang banyak dicari oleh masyarakat Aceh sendiri maupun orang Melayu.

Sementara itu kedai-kedai runcit (kelontong) berada teratur setelahnya, begitupun kios-kios jamu yang juga milik masyarakat Aceh ini berjejer dengan rapi. Mudah saja kita mengenal para pedagang Aceh, sebab semua mereka menggunakan bahasa Aceh dalam bertutur, persis seperti Pasar Aceh di Aceh, kecuali ada pembeli orang Melayu.

Memang pedagang Aceh di Malaysia sebenarnya tidak hanya di Chow Kit ini saja, banyak yang lainnya menyebar di wilayah lain, seperti di Puchong, Sungai Tangkas, Kajang, Bandar Tasik Selatan, Sungai Buloh tapi Chow Kit adalah sentralnya. Konon, menurut seorang pedagang di sana, jika bulan Maulid tiba, di kawasan Chow Kit ini kerap digelar Kenduri Maulid dengan menyembelih 12-15 ekor sapi.

Saat ini pun pedagang di sini telah membentuk sebuah wadah yang menyatukan dan memperkuat ikatan para pedangan yaitu Dewan Perdagangan Aceh Malaysia (DPAM). DPAM pada periode pertama ini diketuai oleh Datok Muhammad Feisol bin Hassan sebagai presiden steering committee.

Bagi saya dan istri, berkunjung ke pasar Acehnya orang Aceh di Malaysia itu, mempunyai makna tersendiri. Mungkin, setiap orang Aceh yang berkunjung ke Malaysia dan kemudian mampir juga di Chow Kit, bisa melihat keberhasilan masyarakat Aceh dibandingkan dengan warga lain dari Indonesia yang menetap di negara jiran tersebut.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Gereja Calvari Jadi Masjid Joplin di AS

BERBEDA dengan apa yang terjadi di Cordova, Spanyol, di mana setelah kejatuhan pemerintahan Islam pada 1236 Masehi, Raja Ferdinand III yang berkuasa saat itu memerintahkan untuk mengubah fungsi masjid jamik menjadi sebuah gereja katedral. Di Joplin, Missouri, Amerika Serikat, justru sebaliknya, sebuah gereja dialihkan fungsinya menjadi masjid.

Menurut seorang jamaah Masjid Joplin --nama masjid yang sebelumnya merupakan sebuah gereja itu-- pada 2007 lalu, masyarakat muslim di kota ini membeli sebidang tanah seluas sekitar 2,5 hektare beserta sebuah bangunan yang berdiri di atasnya dengan harga 270.000 dolar AS atau sekitar Rp 2,6 miliar.

Bangunan yang berdiri kokoh di atas tanah seluas 2,5 hektare yang berlokasi di 1302 South Black Cat Road, Joplin, Missouri, AS, itu tidak lain adalah Gereja Calvary Apostolic. Konon, gereja ini dijual karena jumlah jemaatnya semakin berkurang. Biaya perawatan bangunannya juga terus membengkak, tak terkecuali biaya untuk bayar rekening listrik, air, dan gas.

Sekarang, bangunan dengan arsitektur yang seutuhnya masih berbentuk gereja itu, berubah fungsi menjadi sebuah masjid yaitu Masjid Joplin. Sesuai dengan fungsinya, maka masjid ini sepenuhnya digunakan untuk keperluan ibadah, pendidikan, tempat untuk bersilaturrahmi dan musyawarah masyarakat muslim di Joplin, Missouri, AS.

Bagunan masjid tersebut kini dibagi menjadi beberapa bagian. Yakni, aula besar yang dulu digunakan untuk tempat ibadah umat Kristiani, sekarang digunakan sebagai ruang utama untuk shalat berjamaah. Sedangkan ruangan belakang digunakan sebagai tempat pertemuan dan tempat berbuka puasa bersama di bulan Ramadhan. Ada juga satu ruang belajar dan ruangan bermain untuk anak-anak.

Selain shalat berjamaah lima waktu, di masjid ini juga digelar berbagai aktivitas keagamaan lainnya, seperti kegiatan mengaji untuk anak-anak muslim setiap sore. Lalu, pada setiap akhir pekan, juga diselenggarakan hari keluarga Muslim, menerima kunjungan berbagai kelompok masyarakat dari agama lain yang ingin mengetahui dan belajar tentang Islam.

Dari semua kegiatan keagamaan tersebut, yang juga sangat membanggakan adalah imam masjid ini berasal dari Aceh, Lahmuddin. Sejauh ini, beliau termasuk sosok yang sangat dihormati dan disegani, tidak hanya oleh masyarakat Muslim di Missouri dan Arkansas, tapi juga oleh masyarakat nonmuslim di sana.

Pak Lahmuddin juga masih sangat fasih berbahasa Aceh, walaupun beliau sudah tinggal di Amerika bertahun-tahun. Pada tahun 2011 beliau berhajat untuk pulang dan kembali menetap di Indonesia, namun masyarakat muslim di kota Joplin tidak memperkenankannya. Mereka minta pak Lahmuddin agar terus menjadi imam di masjid tersebut.***

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : hasyim

Manajemen Air di Australia Selatan

Sarwo Edhy Sofyan, Dosen Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Unsyiah.Alumnus The University of Adelaide, Australia

BENUA Australia merupakan benua yang paling kering di dunia. Curah hujan rata-ratanya hanya mencapai 450 mm(http://www.bom.gov.au/climate/change/rain.shtml). Di benua tersebut hanya ada satu negara yaitu Australia, merupakan sebuah negara berbentuk monarki konstitusional federal. Ada enam negara bagian dan dua teritorial di Australia yaitu: New South Wales, Queensland, Australia Selatan, Tasmania, Victoria, Australia Barat, Teritorial Utara, dan Teritorial Ibu Kota Australia. Dari wilayah tersebut, Australia Selatan yang beribukotakan Adelaide adalah negara bagian terkering di benua yang terkering, dengan curah hujan rata rata berada dibawah 100 mm. Walaupun demikian, suplai air di sana selalu terjaga karena majemen air nya yang baik.

Sebelum tahun 2006-2007, ketersedian air untuk daerah Australia Selatan sangat tergantung pada curah hujan dan recycle air buangan. Air hujan di tampung di dalam waduk yang terletak di Mt Lofty Ranges, kemudian diolah menjadi air bersih yang layak untuk di gunakan. Selain dari penampungan air hujan, air dari sungai murray juga di gunakan untuk memback-up supply air bersih. Akan tetapi sejak tahun 2007, kekeringan yang parah terjadi di Australia yang di akibatkan oleh perubahan iklim, sehingga penyediaan air yang bergantung pada iklim tersebut tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan air bersih, dan oleh karena itu harus di cari jalan keluar untuk mengatasinya.

Saat ini hampir 75% supply air Australia Selatan tergantung pada sungai, reservoirs dan aquifer, sedangkan sisanya tergantung pada pembatasan penggunaan air (water restrictions), dan hasil daur ulang air limbah. Pengolahan dan pendistribusian air dilakukan oleh suatu perusahaan pemerintah yang bernama SA Water, yaitu semacam PDAM kalau di Indonesia. Selain untuk keperluan rumah tangga, Air juga dimanfaatkan untuk suplai ke ladang-ladang pertanian seperti ladang anggur, cherry dan strawberry. Manajemen air yang baik ini juga telah merubah Australia selatan dari daerah yang kering menjadi lahan pertanian yang subur.

Untuk mengatasi meningkatnya kebutuhan air di masa yang akan datang, pemerintah Australia selatan telah memperkenalkan suatu program yang bernama “Water for good” yaitu suatu rencana yang komprehensif yang bertujuan menjamin suplai air untuk wilayah Adelaide dan Australia Selatan hingga tahun 2050. Program ini mengatur tentang

pembatasan dan efisiensi penggunaan air yaitu dengan mengurangi penggunaan air pada level rumah tangga, pemerintahan dan juga untuk tujuan komersil. Selain itu juga diatur tentang biaya penjualan air yang bertujuan untuk menekan penggunaan air yang tidak efisien. Aturan baru tersebut di harapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan air sebagaimana mestinya. Pemerintah juga membuat rencana jangka panjang untuk menjamin ketersediaan air bersih, yaitu dengan merencanakan penggunaan bermacam sumber air, sehingga ketergantungan terhadap air permukaan dan air tanah dapat di kurangi. Untuk menjamin ketersediaan air bersih pada tahun 2050, pemerintah telah merencanakan penggunaan lima sumber air yaitu bersumber dari 45% air sungai, reservoir dan aquiver, 30% recycled air limbah, 15% hasil penyulingan dari air laut dan sisanya berasal dari penampungan air hujan. Dengan manajemen dan perencanaan jangka panjang ini, tentunya ketersediaan air yang cukup akan tercapai di masa yang akan datang.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

'Rampoe Indonesia' di Universitas Nanchang

Oleh Baihaki M Yahya, Alumnus Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry dan Calon Master Journalism di Nanchang University, Cina

MENYAMBUT tahun baru 2012 ini, Xin Nanchang University, Cina, tempat saya melanjutkan studi S2 Master Journalism, tak hanya menampilkan budaya atau kesenian dari negara berjulukan Tirai Bambu itu, tapi juga kesenian dari negara luar, termasuk Indonesia yang menampilkan tari Rampoe Indonesia.

Mahasiswa asal Indonesia di kampus Nanchang berjumlah 35 orang yang berasal dari tiga pulau, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Aceh hanya mengirim empat mahasiswa untuk melanjutkan studinya di kampus ini. Tahun ini adalah tahun perdana Nanchang University menerima mahasiswa asing yang berasal dari Indonesia termasuk Aceh.

Tim yang dipimpin Agust Fathuddin dari Semarang (Jawa Tengah) dan saya dari Aceh sebagai pelatih tari Rampoe Indonesia, dinyatakan lolos dan berhak tampil pada acara tersebut. Tari Rapoe Indonesia yang terinspirasi dari paduan beberapa gerakan Tari Saman, Ratoh Duek, Likok Pulo, dan Kecak Bali dimainkan oleh 20 penari.

Berbalut kostum merah dengan sedikit bis hitam, dengan slayer merah bermotif pita kuning di kepala, serta kain songket merah putih menghias pinggang penari, ditambah permainan lampu panggung dengan aneka cahaya, membuat kostum penari Rampoe Indonesia yang sederhana itu tampak mewah dan berwibawa.

Tak pelak, saat salam pembuka dengan ucapan “Assalamualaikum...” keluar dari kerongkongan Sulaiman, mahasiswa Aceh selaku syeh, yang disusul dengan masuk dan terbentuknya konfigurasi penari Rampoe Indonesia, membuat ribuan penonton terpana. Bahkan, sejumlah mahasiswa muslim dari Jordania, Arab Saudi, dan Afrika, ikut berteriak “Allahu Akbar...”

Hentakan gerakan di loat tsa tari Rampoe Indonesia yang berjumlah 20 orang, segera membuat riuh suasana yang tadinya hening, sunyi dan sepi. Syair-syair merdu yang dilantunkan Sulaiman, tampak begitu memukau hingga disambut dengan tepukan tangan meriah oleh para penonton di tempat perhelatan akbar itu.

Gerakan-gerakan padu dan serempak yang lazim terlihat pada tari Saman, dimainkan dengan apik sekali oleh para penari. Demikian pula tepukan pinggang dan dada yang kerap terlihat pada tari Likok Pulo dan Ratoh Duek, atau menjulur tangan ke atas seperti pada tari Kecak Bali, dilakukan dengan menarik dan mengundang decak kagum penonton.

Dengan serentak dan serempak, para penari menyanyi dan menarikan tarian Aceh. Padahal, 20 mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang menjadi penari Rampoe Indonesia pada malam itu, tak satu pun memiliki latar belakang sebagai penari. Mereka hanya digembleng dalam satu latihan yang berlangsung cuma 20 hari.

Dalam budaya Cina, applause sebagai bentuk epresiasi hanya dilakukan di akhir pertunjukan. Tapi, saat tari Rampoe Indonesia tampil di atas panggung, sambutan dan teriakan histeris tak kunjung berhenti. Tak terkecuali para dosen dan pimpinan Universitas Nanchang yang duduk di kursi depan, ikut memberikan standing applause panjang.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Belajar Lalu Lintas ala Jerman

Oleh Syahrizal, Dosen STAIN Malikussaleh, melaporkan dari Jerman

SISTEM pengaturan lalu lintas yang baik tentu saja dapat mengurangi kecelakaan pengguna jalan. Berbeda dengan negara kita, yang hampir saban hari terjadi kecelakaan lalu lintas, di negara-negara maju, seperti Jerman, tingkat kecelakaan pengguna jalan sangat langka terjadi.

Hal ini disebabkan karena para pengguna jalan saling menjaga keselamatan antara satu sama lain, tidak saling mendahului, dan sangat patuh aturan lalu lintas. Rambu lalu lintas di Jerman berfungsi dengan baik dan sangat dipatuhi sehingga tidak seorang pun yang berani menerobos lampu merah, sebagai isyarat berhenti.

Tentu tak perlu khawatir kalau mematuhi rambu lalu lintas karena akan menciptakan keamanan bagi para pengguna jalan, baik pejalan kaki, pemakai sepeda, pengguna mobil, pengguna jasa bus, maupun tram (kereta api dalam kota). Pokoknya terlihat teratur dan tertib sekali.

Pengguna jalan di Jerman harus mengambil jalur di sebelah kanan, berbeda dengan tempat kita yang mengambil jalur sebelah kiri. Di Jerman, kalau ada yang mengambil jalur di sebelah kiri, berarti telah melanggar aturan lalu lintas dan dianggap telah berbuat kesalahan.

Sanksi yang diberikan bermacam-macam sesuai dengan tingkat kesalahan, di antaranya teguran dan peringatan yang simpatik dari sesama pengguna jalan, bukan menerima cacian. Teguran itu tentu saja memberi peringatan kepada pengguna jalan agar menggunakan jalur jalan yang benar dan berhati-hati demi menjaga keselamatan bersama.

Saya sendiri di Jerman pernah menerima teguran karena belum mengerti menggunakan jalur lalu lintas. Suatu hari saya dan anak pergi ke sungai. Saya jalan kaki sambil menemani dan mengawasi anak saya yang bersepeda. Kebetulan saya dan anak mengambil jalur jalan sebelah kiri. Sedangkan pengguna jalan lainnya saya lihat mengambil jalur jalan sebelah kanan.

Dalam perjalanan kira-kira ± 100 meter lagi mendekati areal sungai, seorang nenek dengan jalan pelan-pelan mendatangi dan menegur saya dengan bahasa Jerman. Karena saya tidak bisa berbicara bahasa Jerman, apa yang ia katakan saya pun tidak mengerti. Saya cuma bisa mengangguk-angguk sambil menjawab “yes, yes dan thanks you”.

Setelah nenek itu pergi, saya tebak saja, mungkin maksud ucapan nenek itu adalah menegur saya agar tak menggunakan jalur jalan sebelah kiri, karena bukan saja menyalahi aturan lalu lintas, tapi berbahaya bagi keselamatan saya dan anak. Akhirnya saya dan anak menyeberangi jalan dan mengambil jalur jalan sebelah kanan.

Amannya menggunakan jalan di Jerman karena di samping saling menjaga keselamatan orang lain, juga karena adanya pembagian jalan. Ada jalan khusus bagi pejalan kaki, pengguna sepeda, pemakai mobil pribadi, dan jalan khusus tram. Masing-masing pengguna jalan harus mengambil jalan sendiri yang telah ditentukan demi keamanan dan keselamatan bersama.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Sultanah Bahiyah, Perpustakaan 'Milik' Sendiri

Oleh Fifi Yusmita, mahasiswa di Uiversitas Utara Malaysia

SULTANAH Bahiyah merupakan sebuah perpustakaan lima lantai milik Universitas Utara malaysia. Perpustakaan ini memiliki berbagai keunggulan dalam hal meningkatkan mutu serta kualitasnya, dari sisi fasilitas yang ditawarkan, terdapat enam ruangan spesial yang bisa dinikmati oleh pengunjung perpustakaan ini, yaitu discussion room, spesial reading room, carrel room, reading room, music room dan viewing room. Carrel room merupakan satu ruangan yang paling diminati oleh mahasiswa Aceh yang sedang menyelesaikan studinya di Universitas Utara Malaysia. Ruangan yang terletak di lantai lima ini, selain menawarkan kenyaman juga disertai dengan berbagai fasilitas yang dapat dipergunakan oleh mahasiswa yang telah memesan carrel room ini.

Perpustakaan ini dilengkapi dengan tekhnologi serta sistem informasi yang sangat canggih. Online resource yang ditawarkan seperti jurnal lokal, jurnal internasional, thesis, newspaper, exam paper, research paper, online database dan lain sebagainya sangat membantu mahasiswa dalam menyelesaikan studi mereka di Universitas Utara Malaysia. Mahasiswa di diberikan akses yang memadai untuk mencari dan mendapatkan informasi yang mereka inginkan, sehingga mahasiswa yang menjadi anggota dari perpustakaan ini akan merasa seperti memiliki ratusan ribu koleksi pribadi di dalam genggaman, hal ini dirasakan karena informasi apa pun dapat dengan mudah diraih oleh pengunjung perpustakaan ini.

Children’s corner adalah fasilitas lain yang ditawarkan oleh perpustakaan Sultanah Bahiyah. Ruangan anak-anak ini sangat nyaman dari segi interior dan koleksi yang tersedia. Pengunjung perpustakaan ini dapat dengan langsung menikmati koleksi untuk anak-anak seperti buku-buku fiksi, buku pengetahuan umum, ensiklopedia, majalah anak-anak, film anak-anak dan lain sebagainya.

Perpustakaan ini melayani pengunjungnya dari pukul 8 pagi sampai pukul 10 malam, sedangkan untuk mendapatkan online resource, pengunjung dapat mengunjungi perpustakaan Universitas Utara Malaysia ini dalam waktu 24 jam. Pemandangan ini sangat kontras bila dibandingkan dengan Perpustakaan yang kita miliki di Aceh yang hanya melayani pengunjungnya dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 05.00 sore hari, serta fasilitas online yang belum memadai untuk para anggota perpustakaan serta pengunjung perpustakaan.

Besar harapan dari mahasiswa Aceh yang sedang menyelesaikan studi Master dan PhD di Universitas Utara Malaysia agar pemerintah dan perguruan tinggi Aceh agar lebih peduli terhadap mutu dan kualitas pendidikan Aceh, salah satunya dengan memperbaiki sistem perpustakaan serta memperbaharui teknologi yang digunakan, hal ini sangat penting demi terciptanya putra putri daerah yang berilmu pengetahuan.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Bank Petani oleh Petani

Oleh Joni Marsius, Deputi Pemimpin BI Banda Aceh Bidang Ekonomi Moneter

PADA seminar akhir tahun 2011 bertempat di Bank Indonesia Banda Aceh dihadirkan seorang yang tidak biasanya, yakni seorang petani Agam Sumatera Barat yang hanya berpendidikan kelas empat SD bernama Masril Koto. Masril Koto makin dikenal masyarakat Indonesia, sesaat setelah muncul di acara Kick Andy, Metro TV karena keganjilannya mendirikan lembaga keuangan di daerah Agam yang disebutnya “Bank Petani”. Disebut ganjil karena bank terebut tidak lazim dalam praktik perbankan pada umumnya atau bahkan untuk kategori Lembaga Kuangan Mikro sekalipun.

Belakangan, karena tidak mengikuti kaidah perbankan umumnya, sehingga tidak dimungkinkan diawasi oleh Lembaga Pengawas Perbankan, maka Bank Petani tersebut berubah nama menjadi Lembaga Kuangan Mikro Agribisnis (LKMA). Dalam waktu singkat, jaringan LKMA berkembang menjadi 300 unit dengan total aset tidak kurang dari Rp90 Miliar. Karena keunikan dan kemampuan lembaganya menjawab kebutuhan keuangan petani, bisa jadi inilah yang menyebabkan Masril menjadi teman diskusi menteri pertanian dalam mengembangkan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP).

Berbeda dengan Prof.DR. Renald Kasali atau Tung Desem Waringin (TDW) yang tahun 2011 lalu juga diundang menjadi pemateri seminar di Banda Aceh, yang dengan fasih mengucapkan istilah ekonomi atau istilah popular keuangan lainnya, Masril mengucapkan dengan kaku, bahkan butuh waktu sejenak mencerna apa yang baru diucapkannya.

Suasana ger-geran saat Masril bicara dengan istilah bahasa Inggris.

Masril Koto berbagi pengalaman berharga yang dapat menjadi pelajaran LKM yang beroperasi di Aceh. Pesan penting pertama yang disampaikannya untuk pengurus LKM Aceh, adalah kejujuran dan jangan khianat kepada orang yang menitip uang maupun pada diri sendiri, ini yang harus dijadikan sifat dasar pengurus. Nasihat keduanya, berfikirlah di luar kebiasaan perbankan (out of the box), janganlah berlagak seperti bank umum atau BPR. Pasar LKM adalah tempat yang tidak dimasuki oleh perbankan.

LKMA-nya Masril menyalurkan pinjaman tanpa jaminan fisik. Namun tetap minimal dengan pinjaman bermasalah, dengan kiat memanfaatkan kearifan lokal. Orang Sumbar malu kalau disebut penghutang, walaupun mereka berhutang. Saat terjadi tunggakan, yang dilakukan oleh LKMA adalah mengumumkan penunggak di surau/masjid berikut mencantumkan namanya di papan pengumuman masjid termasuk juga ninik mamak yang menjamin penghutang. Masril menyarankan ke LKM Aceh untuk memanfaatkan budaya lokal untuk mengendalikan pinjaman bermasalah.

Ketiga, karena selalu berbikir di luar kebiasaan, maka jadilah kreatif dalam menjalankan LKM. Pikirkan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Buatlah produk pinjaman dan simpanan yang sesuai dengan usaha mikro. Masril mencontohkan bagaimana ia memodifikasi produk simpanan perbankan menjadi produk tabungan berjangka di LKMA, seperti tabungan melahirkan, tabungan kawin, dan tabungan sakit. Saya kagum karena Masril yang tidak tamat SD itu paham prinsip prudensial mengelola lembaga keuangan. Dengan penjelasan ala Masril, ia telah menjelaskan bahwa LKM harus menjaga likuiditas (cash rasio), seperti pada sarannya untuk menyisihkan 20% dari dana yang berhasil dihimpun untuk berjaga-jaga dan mencari sumber dana berjangka, serta mengatur penyaluran ke pinjaman pertanian dengan silkus kurang dari 6 bulan. LKM harus menjaga arus kas (cash flow) LKM yang sehat (maturity profile). Ia juga mengajarkan bagaimana mengendalikan (memitigasi) risiko dengan prinsip pinjaman kecil tetapi banyak (prinsip legal lending limit), serta pinjaman selektif dan terbatas untuk komoditi dengan harga fluktuatif.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Hari Keluarga di Qatar

Oleh Edi Syahputra Barus, Staf Seksi Penanggulangan Bencana Kota Banda Aceh.

SAYA berkunjung ke Qatar dua hari menjelang Lebaran Idul Fitri 1432 Hijriyah lalu. Dengan suhu yang lumayan ekstrim menjadikan Qatar kurang cocok untuk tujuan liburan bagi yang mencari suhu adem. Warga Indonesia yang saya jumpai umumnya ke Qatar dalam rangka bekerja dan bersekolah. Jadi kalau berkunjung ke Qatar dalam rangka liburan, akan sedikit mengherankan.

Menurut beberapa tenaga kerja Indonesia yang saya jumpai, perlakuan penduduk asli sangat baik kepada pendatang dan gajinya lumayan besar. Sehingga suatu keberuntungan apa bila mendapat pekerjaan di Qatar dibandingkan dengan negara-negara teluk lainnya. Konon, pemerintah setempat memberikan perlindungan hukum yang baik bagi para tenaga kerja asing, termasuk Indonesia.

Ada beberapa tempat wisata yang dapat kita jumpai di Qatar, seperti Souq Al Waqif, Corniche, pearl of Qatar, dan lain-lain. Yang cukup mengesankan bagi saya adalah Souq Al Waqif, yang merupakan suatu pasar tradisional. Di sini, dijual berbagai macam pernak-pernik, termasuk cafe-cafe yang menyediakan makanan khas Qatar.

Satu adat istiadat unik di Qatar adalah Family Day (Hari Keluarga). Pada hari-hari libur tertentu di Qatar, pada lokasi-lokasi wisata di sana hanya yang berkeluarga yang boleh masuk. Minimal sepasang, seorang lelaki dan wanita. Sedang yang sendirian ataupun sekumpulan orang yang berjenis kelamin sama tidak diperbolehkan masuk.

Pada saat itu saya sedang berjalan-jalan sendirian, tiba-tiba seorang polisi memanggil saya. Setelah saya hampiri, dia mengatakan, “go, go”. Hal tersebut cukup membingungkan, karena saya merasa penampilan saya tidak tampak seperti gelandangan ataupun mencurigakan, lalu kenapa saya diusir dari situ.

Awalnya saya membandel, saya terangkan dengan bahasa Inggris kalau saya itu turis, bukan gelandangan, namun dia tetap mengatakan: “Go, go, family day!”. Karena tak mau mencari masalah di gampong orang, saya akhirnya mengalah dengan berpura-pura pergi dan menyingkir dari tempat itu.

Tapi, karena merasa belum puas jalan-jalan, saya kembali ke lokasi obyek wisata tersebut lewat jalan lain berupa lorong-lorong kecil. Celakanya, di setiap lorong yang saya masuki, ada petugas polisi yang berjaga-jaga, mengawasi jalannya perayaan family day. Dan, saya pun kembali diusir, menjauh dari lokasi wisata tersebut.

Ternyata tidak hanya saya sendiri yang bernasib sama, sesampai di terminal bus, penuh sesak dengan orang-orang yang diusir juga. Di terminal bus Doha, ada sebuah supermarket milik orang Indonesia, “Qatindo”. Setelah berjumpa sesama orang Indonesia, barulah saya tahu penyebab kejadian tersebut.

Pada saat “Family Day” hanya yang berkeluarga boleh masuk. Mungkin ini dilakukan supaya keharmonisan keluarga dapat lebih ditingkatkan setelah beberapa waktu terpakai buat bekerja. Bisa jadi hal tersebut cukup aneh bagi kita, namun bagaimanapun, seperti kata pepatah, “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”.

Adat istiadat tiap negara berbeda-beda, yang menjadi ciri khas negara tersebut dan tak bisa diganggu gugat.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Berkunjung ke Otsuchi Jepang

Oleh Eva Mutia Dewi,  Guru Bahasa Inggris di Kougetsu School

APA yang kami telah lakukan di Jepang adalah hal terbaik yang terjadi di dalam hidup saya. Kami, enam orang, adalah utusan dari pemerintah Aceh dan juga bantuan dari PAC (people Assosiation Consiece) di Jepang yang terdiri dari 5 anak dari sekolah SMPN dan SMAN 1 Peukan Bada. Saya adalah guru bahasa Inggis dan penasihat LCO (Lost children operation). Kami ke sana khususnya untuk berbagi cerita dan melihat langsung daerah tsunami di Sendai, Iwate, Otsuchi Jepang selama sepuluh hari dari tanggal 16-23 November 2011.

Meskipun kami di sana mempunyai jadwal yang sangat padat dan sibuk tapi allhamdulilah semua senang dan lancar. Kami sampai di Haneda Airport Tokyo, 16 November 2011, pukul 11 malam. Besok paginya kami mengunjungi kedutaan Indonesia Tokyo, di kedutaan kami bercerita tentang kedatangan kami ke kota Otsuchi.

Dari Tokyo kami melanjutkan perjalanan yang cukup panjang dengan menyewa bus selama tujuh jam menuju Iwate, Kota Otsuchi. Sampai ke Iwate kami berjumpa dengan Gubernur Iwate dan kami disambut dengan baik. Kami juga berjumpa dengan bupati Otsuchi. Selama tiga hari di Otsuchi kami didampingi oleh salah seorang pegawai kantor gubernur Iwate. Di sana kami tinggal di asrama.

Hawa dingin 5 derajat celsius tidak menahan sedikit pun semangat kami. Saya melihat daerah tsunami Otsuchi sama seperti Aceh 7 tahun lalu semua bagunannya rata dengan tanah. Kami juga mengunjungi empat sekolah dasar dan satu sekolah negri setingkat SMP. Di sekolah tersebut kami berbagi cerita. Sesi tanya jawab dan juga bernyanyi Indonesia Pusaka dalam bahasa Jepang. Kami disambut luar biasa hangat oleh guru dan murid-murid Otsuchi.

Kami juga membawa kenang-kenangan berupa spanduk yang berisi pesan-pesan dari anak korban tsunami di Aceh. Meskipun mereka juga korban tsunami, tapi mereka tetap semangat bahkan mereka menceritakan apa yang membuat mereka cepat melalui dan membangun kembali kota mereka.

Nyakti Mardalena berbagi cerita dan semangat dengan murid kelas 6 sekolah dasar di Otsuchi, ternyata semua mempunyai perasaan yang sama ingin membagi semangat untuk menuju masa depan gemilang.

Kunjungan kami Otsucbi diliput oleh tiga surat kabar lokal, satu surat kabar nasional di Jepang dan dua stasiun tv lokal Iwate Jepang. Kami juga disambut meriah pada malam harinya dalam acara pertukaran kebudayaan, sebuah pertunjukan yang luar biasa.

Saya sempat menyuguhkan nasi goreng seafood ala Indonesia kepada 50 orang penduduk Otsuchi. Selama delapan hari di Otsuchi, Jepang saya benar-benar merasa bahwa ini akhir tahun yang sangat menyenangkan dan melelahkan.  

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Sekolah Afrika Berlantai Tanah

Oleh Junaedi Namploh, Pekerja Kemanusiaan Asal Aceh, Melaporkan dari Juba, Sudan Selatan

SUNGGUH sebuah pemandangan yang mengharukan sekaligus menyedihkan tatkala melihat murid sekolah di tanah Afrika duduk di lantai tanah berdebu. Menyimak dengan seksama butir demi butir pelajaran yang diberikan guru mereka. Sementara kita, terkadang lebih memilih ke luar kelas pada jam belajar yang padahal difasilitasi dengan meja tulis, kursi, dan papan tulis yang sudah memadai.

Murid di tanah Afrika ini sangat betah dalam ruangan kelas yang hanya diatapi oleh rerumputan dan berdindingkan kayu-kayu kering layaknya perjara tawanan zaman perang Vietnam atau layaknya kandang kambing di negeri kita.

Kesedihan semakin terasa ketika melihat anak-anak dari Benua Hitam tersebut bertelanjang dada dan kaki duduk rapi mengikuti pelajaran yang diberikan oleh gurunya.

Dalam kondisi yang serba minim itu, terlihat pemandangan membanggakan ketika murid-murid di tanah Afrika datang lebih cepat dan mengucapkan selamat pagi kepada guru mereka. Saya yang pernah jadi guru di tanah air merasa prihatin akan tingkah laku anak-anak didik kita yang terkadang masih harus dipaksa oleh orang tua untuk ke sekolah.

Anak-anak dari belahan lain dunia ini, seperti di Afrika, misalnya, meski masih sangat terkebelakang dalam fasilitas dasar apalagi teknologi, tetapi semangat untuk bersekolah luar biasa tinggi. Mereka belum mengenal tulisan kapur yang terpampang di papan tulis, sementara kita sudah membaca tulisan spidol dengan tulisan yang berderet rapi di papan tulis putih bersih. Bahkan sistem pendidikan di negeri kita sudah ada yang berbasis multimedia.

Di Afrika sana, mereka juga belum mengenal baju seragam, sementara kita sudah memiliki seragam bersih dan berganti-ganti. Mereka masih duduk di lantai tanah, sementara kita sudah difasilitasi kursi dan meja yang sangat memadai. Begitulah.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Kamis, 05 Januari 2012

Menduniakan Ilmuwan Aceh

SEBANYAK 55 ilmuwan Aceh yang sedang melanjutkan pendidikan master dan doktor, dan beberapa di antaranya tercatat sebagai dosen dan professor di berbagai perguruan tinggi di negara jiran Malaysia mendeklarasikan berdirinya International Asscociation of Acehnese Scholars (IAAS) atau disebut juga Ikatan Ilmuwan Aceh Internasional.

Penggagas IAAS antara lain Dr Syafiie Syam (Universiti Putra Malaysia), Dr M Iqbal Mochtar (Universitas Islam Antara Bangsa Malaysia), Dr Azhari M Syam (Universitas Malikussaleh), Rahmat Fadhil (Universitas Syiah Kuala), Dandi Bachtiar (Universitas Lampung), dan Muhammad Sayuti Fadhil (Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe).

Organisasi ini lahir bersamaan dengan Duek Pakat Ilmuwan Aceh Malaysia yang menghasilkan salah satu kesepakatan untuk membentuk forum ilmuwan Aceh di tingkat dunia internasional.

Visi organisasi IAAS ini adalah untuk membangun kebersamaan seluruh potensi ilmuwan Aceh di seluruh dunia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang melibatkan partisipasi warga dunia. Sedangkan misinya adalah meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar-ilmuwan di berbagai negara untuk memajukan institusi pendidikan, pembangunan berkelanjutan, institusi riset, dunia usaha dan masyarakat.

Dari wadah ini diharapkan lahir spesifikasi ilmuwan Aceh lainnya, seperti Ikatan Ahli Mekanikal Aceh Internasional, Ikatan Ahli Nuklir Aceh Internasional, Ikatan Dokter Aceh Internasional, Ikatan Ahli Pertahanan Aceh Internasional, Ikatan Ahli Perkapalan Aceh Internasional, dan lain-lain.

Saat ini IAAS diketuai seorang Presiden yaitu Dr Syafiie Syam (UPM) dan Sekjend Dr M Iqbal Mochtar (UIAM). Sedangkan di jajaran penasihat tercatat tokoh-tokoh Aceh di Malaysia dan Indonesia seperti Prof Dr Tan Sri Sanusi bin Junid (Presiden Ikatan Masyarakat Aceh Malaysia atau IMAM), Prof Dr Syamsuddin Mahmud (mantan Gubernur Aceh), dan Prof Madya Puan Sri Nila Inangda Manyam Keumala Daud Beureu’eh (pensyarah di Universitas Malaya).

Dalam rentang waktu tiga bulan ke depan ilmuwan Aceh akan mengadakan pertemuan perdana tahunan di Universitas Islam Antara Bangsa Malaysia pada 26 Maret 2012 bersamaan dengan Konferensi Internasional Pembangunan Aceh (Aceh Development Internasional Conference atau ADIC) 2012 yang informasinya bisa diperoleh melalui website www.adic2012.yolasite.com. Sedangkan berbagai kegiatan yang terkait dengan Ikatan Ilmuwan Aceh Internasional bisa dilihat di laman website www.iaas-aceh.org.

Ke depan juga akan dibentuk komunitas-komunitas keilmuan berdasarkan disiplin ilmu dan kompetensi yang dimiliki oleh orang-orang Aceh di seluruh dunia. Untuk sementara ini setidaknya ada 15 komunitas di IAAS.(*)

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

Editor : hasyim

Mencari Jejak Bangsa Melayu

Oleh Muhammad Isa, Mahasiswa Doctoral School of Physics Universiti Sains Malaysia

TIM dokter dari Eijkman Institute for Molecular Biology yang bernaung di Kementrian Riset dan Teknologi (Kemenriset) Republik Indonesia, melakukan tes DNA terhadap Meri Yulanda alias Herawati (16) korban yang hilang saat diterjang gelombang tsunami 26 Desember 2004, kembali ke orang tuanya, demikian penggalan informasi yang dimuat Serambi Indonesia, 29/12/2011.

Berita di atas menarik bagi saya untuk ikut berbagi pengalaman, karena di penghujung tahun 2011 tepatnya tanggal 31 Desember 2011, di sekretariat Acehnese Student Club (ASC) Pulau Pinang telah berlangsung donor darah untuk pengambilan sampel sebanyak 6 mililiter atau lebih kurang satu sendok makan untuk sebuah riset mencari jejak asal-usul bangsa Melayu melalui kajian analisis genetik.

Kegiatan ini merupakan rangkaian riset dalam rangka menjejaki asal-usul bangsa Melayu melalui kajian morfologi, sejarah, sosio-budaya dan analisis genetik. Untuk kajian genetika di sekretariat ASC relawan donor darah diikuti sekitar 11 orang mahasiswa asli Aceh yang sedang belajar di Universiti Sains Malaysia. Sebelumnya tim kajian ini juga telah mengambil sampel darah di Kampong Yan Kedah sebanyak 35 orang yang merupakan keturunan Aceh tempo dulu dan sudah menjadi warga di sini. Kajian kali ini khusus diperuntukkan bagi orang Aceh karena untuk suku lain juga ada kajian tersediri yang dilakukan pada tempat yang berbeda dengan tim yang lain. Tim yang bertugas berjumlah 4 orang terdiri dari dokter dan perawat, ada yang sudah bekerja di rumah sakit dan ada yang masih mahasiswa pascasarjana dari kampus kesihatan Universiti Sains Malaysia yang beralamat di negeri Kelantan.

Selain pengambilan sampel darah kajian genetika juga dilakukan wawancara untuk mendapatkan beberapa data atau kriteria yang harus diisi oleh setiap donor mirip seperti borang data yakni, data demografik (nama, umur, jenis kelamin), kriteria inklusi (tiga generasi submelayu yang sama, ibu-bapak dilahirkan di negeri yang sama, tinggal berterusan dan beragama Islam), kemudian kriteria eksklusi (tidak tahu asal-usul keluarga, salah satu ahli keluarga lahir di luar negeri, sejarah penyakit yang pernah dialami). Kajian ini nantinya akan bermuara pada tes DNA sehingga akan jelas identitas sampel yang diambil. Secara umum kegiatan berlangsung aman dan sukses sesuai dengan rencana awal serta dalam suasana santai penuh kekeluargaan.

Meskipun kegiatan atau proyek riset ini untuk mendapatkan data ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan medis. Namun menjadi pertanyaan saya yang bukan bidangnya, seberapa penting kajian seperti ini dalam sebuah daerah/Negara. Apakah untuk mendapatkan nilai tambah dalam penguatan persatuan bangsa dengan mengetahui asal usulnya atau malah sebaliknya. Untuk mencari identitas diri yang hilang atau memang sejarah sekarang sudah remang-remang sehingga perlu kajian khusus untuk mendapatkan jawaban yang terang benderang dari berbagai tinjauan ilmu.

Kalau melihat sejarah Melayu, Aceh sangat erat kaitannya dan tak dapat dipisahkan, bahkan Aceh merupakan Kerajaan yang pernah jaya dan disegani saat dipimpim Sultan Iskandar Muda yang membawa perubahan dan peradaban yang luar biasa hebatnya hingga semenanjung Malaya. Sejarah memang akan terus berulang, kajian ini saya pikir penting diterapkan di Aceh agar generasi sekarang dan akan datang mendapat pencerahan. Apa yang terjadi hari ini di Aceh tak dapat dipisahkan dari kejadian sebelumnya.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Belajar Lalu Lintas ala Jerman

Oleh Syahrizal, Dosen STAIN Malikussaleh, melaporkan dari Jerman

SISTEM pengaturan lalu lintas yang baik tentu saja dapat mengurangi kecelakaan pengguna jalan. Berbeda dengan negara kita, yang hampir saban hari terjadi kecelakaan lalu lintas, di negara-negara maju, seperti Jerman, tingkat kecelakaan pengguna jalan sangat langka terjadi.

Hal ini disebabkan karena para pengguna jalan saling menjaga keselamatan antara satu sama lain, tidak saling mendahului, dan sangat patuh aturan lalu lintas. Rambu lalu lintas di Jerman berfungsi dengan baik dan sangat dipatuhi sehingga tidak seorang pun yang berani menerobos lampu merah, sebagai isyarat berhenti.

Tentu tak perlu khawatir kalau mematuhi rambu lalu lintas karena akan menciptakan keamanan bagi para pengguna jalan, baik pejalan kaki, pemakai sepeda, pengguna mobil, pengguna jasa bus, maupun tram (kereta api dalam kota). Pokoknya terlihat teratur dan tertib sekali.

Pengguna jalan di Jerman harus mengambil jalur di sebelah kanan, berbeda dengan tempat kita yang mengambil jalur sebelah kiri. Di Jerman, kalau ada yang mengambil jalur di sebelah kiri, berarti telah melanggar aturan lalu lintas dan dianggap telah berbuat kesalahan.

Sanksi yang diberikan bermacam-macam sesuai dengan tingkat kesalahan, di antaranya teguran dan peringatan yang simpatik dari sesama pengguna jalan, bukan menerima cacian. Teguran itu tentu saja memberi peringatan kepada pengguna jalan agar menggunakan jalur jalan yang benar dan berhati-hati demi menjaga keselamatan bersama.

Saya sendiri di Jerman pernah menerima teguran karena belum mengerti menggunakan jalur lalu lintas. Suatu hari saya dan anak pergi ke sungai. Saya jalan kaki sambil menemani dan mengawasi anak saya yang bersepeda. Kebetulan saya dan anak mengambil jalur jalan sebelah kiri. Sedangkan pengguna jalan lainnya saya lihat mengambil jalur jalan sebelah kanan.

Dalam perjalanan kira-kira ± 100 meter lagi mendekati areal sungai, seorang nenek dengan jalan pelan-pelan mendatangi dan menegur saya dengan bahasa Jerman. Karena saya tidak bisa berbicara bahasa Jerman, apa yang ia katakan saya pun tidak mengerti. Saya cuma bisa mengangguk-angguk sambil menjawab “yes, yes dan thanks you”.

Setelah nenek itu pergi, saya tebak saja, mungkin maksud ucapan nenek itu adalah menegur saya agar tak menggunakan jalur jalan sebelah kiri, karena bukan saja menyalahi aturan lalu lintas, tapi berbahaya bagi keselamatan saya dan anak. Akhirnya saya dan anak menyeberangi jalan dan mengambil jalur jalan sebelah kanan.

Amannya menggunakan jalan di Jerman karena di samping saling menjaga keselamatan orang lain, juga karena adanya pembagian jalan. Ada jalan khusus bagi pejalan kaki, pengguna sepeda, pemakai mobil pribadi, dan jalan khusus tram. Masing-masing pengguna jalan harus mengambil jalan sendiri yang telah ditentukan demi keamanan dan keselamatan bersama.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Manajemen Air di Australia Selatan

Sarwo Edhy Sofyan, Dosen Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Unsyiah.Alumnus The University of Adelaide, Australia

BENUA Australia merupakan benua yang paling kering di dunia. Curah hujan rata-ratanya hanya mencapai 450 mm(http://www.bom.gov.au/climate/change/rain.shtml). Di benua tersebut hanya ada satu negara yaitu Australia, merupakan sebuah negara berbentuk monarki konstitusional federal. Ada enam negara bagian dan dua teritorial di Australia yaitu: New South Wales, Queensland, Australia Selatan, Tasmania, Victoria, Australia Barat, Teritorial Utara, dan Teritorial Ibu Kota Australia. Dari wilayah tersebut, Australia Selatan yang beribukotakan Adelaide adalah negara bagian terkering di benua yang terkering, dengan curah hujan rata rata berada dibawah 100 mm. Walaupun demikian, suplai air di sana selalu terjaga karena majemen air nya yang baik.

Sebelum tahun 2006-2007, ketersedian air untuk daerah Australia Selatan sangat tergantung pada curah hujan dan recycle air buangan. Air hujan di tampung di dalam waduk yang terletak di Mt Lofty Ranges, kemudian diolah menjadi air bersih yang layak untuk di gunakan. Selain dari penampungan air hujan, air dari sungai murray juga di gunakan untuk memback-up supply air bersih. Akan tetapi sejak tahun 2007, kekeringan yang parah terjadi di Australia yang di akibatkan oleh perubahan iklim, sehingga penyediaan air yang bergantung pada iklim tersebut tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan air bersih, dan oleh karena itu harus di cari jalan keluar untuk mengatasinya.

Saat ini hampir 75% supply air Australia Selatan tergantung pada sungai, reservoirs dan aquifer, sedangkan sisanya tergantung pada pembatasan penggunaan air (water restrictions), dan hasil daur ulang air limbah. Pengolahan dan pendistribusian air dilakukan oleh suatu perusahaan pemerintah yang bernama SA Water, yaitu semacam PDAM kalau di Indonesia. Selain untuk keperluan rumah tangga, Air juga dimanfaatkan untuk suplai ke ladang-ladang pertanian seperti ladang anggur, cherry dan strawberry. Manajemen air yang baik ini juga telah merubah Australia selatan dari daerah yang kering menjadi lahan pertanian yang subur.

Untuk mengatasi meningkatnya kebutuhan air di masa yang akan datang, pemerintah Australia selatan telah memperkenalkan suatu program yang bernama “Water for good” yaitu suatu rencana yang komprehensif yang bertujuan menjamin suplai air untuk wilayah Adelaide dan Australia Selatan hingga tahun 2050. Program ini mengatur tentang

pembatasan dan efisiensi penggunaan air yaitu dengan mengurangi penggunaan air pada level rumah tangga, pemerintahan dan juga untuk tujuan komersil. Selain itu juga diatur tentang biaya penjualan air yang bertujuan untuk menekan penggunaan air yang tidak efisien. Aturan baru tersebut di harapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan air sebagaimana mestinya. Pemerintah juga membuat rencana jangka panjang untuk menjamin ketersediaan air bersih, yaitu dengan merencanakan penggunaan bermacam sumber air, sehingga ketergantungan terhadap air permukaan dan air tanah dapat di kurangi. Untuk menjamin ketersediaan air bersih pada tahun 2050, pemerintah telah merencanakan penggunaan lima sumber air yaitu bersumber dari 45% air sungai, reservoir dan aquiver, 30% recycled air limbah, 15% hasil penyulingan dari air laut dan sisanya berasal dari penampungan air hujan. Dengan manajemen dan perencanaan jangka panjang ini, tentunya ketersediaan air yang cukup akan tercapai di masa yang akan datang.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

'Rampoe Indonesia' di Universitas Nanchang

Oleh Baihaki M Yahya, Alumnus Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry dan Calon Master Journalism di Nanchang University, Cina

MENYAMBUT tahun baru 2012 ini, Xin Nanchang University, Cina, tempat saya melanjutkan studi S2 Master Journalism, tak hanya menampilkan budaya atau kesenian dari negara berjulukan Tirai Bambu itu, tapi juga kesenian dari negara luar, termasuk Indonesia yang menampilkan tari Rampoe Indonesia.

Mahasiswa asal Indonesia di kampus Nanchang berjumlah 35 orang yang berasal dari tiga pulau, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Aceh hanya mengirim empat mahasiswa untuk melanjutkan studinya di kampus ini. Tahun ini adalah tahun perdana Nanchang University menerima mahasiswa asing yang berasal dari Indonesia termasuk Aceh.

Tim yang dipimpin Agust Fathuddin dari Semarang (Jawa Tengah) dan saya dari Aceh sebagai pelatih tari Rampoe Indonesia, dinyatakan lolos dan berhak tampil pada acara tersebut. Tari Rapoe Indonesia yang terinspirasi dari paduan beberapa gerakan Tari Saman, Ratoh Duek, Likok Pulo, dan Kecak Bali dimainkan oleh 20 penari.

Berbalut kostum merah dengan sedikit bis hitam, dengan slayer merah bermotif pita kuning di kepala, serta kain songket merah putih menghias pinggang penari, ditambah permainan lampu panggung dengan aneka cahaya, membuat kostum penari Rampoe Indonesia yang sederhana itu tampak mewah dan berwibawa.

Tak pelak, saat salam pembuka dengan ucapan “Assalamualaikum...” keluar dari kerongkongan Sulaiman, mahasiswa Aceh selaku syeh, yang disusul dengan masuk dan terbentuknya konfigurasi penari Rampoe Indonesia, membuat ribuan penonton terpana. Bahkan, sejumlah mahasiswa muslim dari Jordania, Arab Saudi, dan Afrika, ikut berteriak “Allahu Akbar...”

Hentakan gerakan di loat tsa tari Rampoe Indonesia yang berjumlah 20 orang, segera membuat riuh suasana yang tadinya hening, sunyi dan sepi. Syair-syair merdu yang dilantunkan Sulaiman, tampak begitu memukau hingga disambut dengan tepukan tangan meriah oleh para penonton di tempat perhelatan akbar itu.

Gerakan-gerakan padu dan serempak yang lazim terlihat pada tari Saman, dimainkan dengan apik sekali oleh para penari. Demikian pula tepukan pinggang dan dada yang kerap terlihat pada tari Likok Pulo dan Ratoh Duek, atau menjulur tangan ke atas seperti pada tari Kecak Bali, dilakukan dengan menarik dan mengundang decak kagum penonton.

Dengan serentak dan serempak, para penari menyanyi dan menarikan tarian Aceh. Padahal, 20 mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang menjadi penari Rampoe Indonesia pada malam itu, tak satu pun memiliki latar belakang sebagai penari. Mereka hanya digembleng dalam satu latihan yang berlangsung cuma 20 hari.

Dalam budaya Cina, applause sebagai bentuk epresiasi hanya dilakukan di akhir pertunjukan. Tapi, saat tari Rampoe Indonesia tampil di atas panggung, sambutan dan teriakan histeris tak kunjung berhenti. Tak terkecuali para dosen dan pimpinan Universitas Nanchang yang duduk di kursi depan, ikut memberikan standing applause panjang.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Selasa, 03 Januari 2012

Cara Orang Jerman Merayakan Tahun Baru

TAHUN baru disambut suka cita yang luar bisa oleh masyarakat Jerman. Termasuk di sebuah kota saya tinggal, Dresden. Sungai yang melintasi wilayah Eropa, Elbe namanya, selalu menjadi sentra perayaan. Sungai yang menjadi kebanggaan masyarakat, lambang keberuntungan, dan kejayaan.

Sebagaimana saya saksikan pada akhir tahun lalu, orang datang berduyun-duyun ke sana, tua muda, pria wanita. Kebanyakan mereka datang bersama kekasih, teman, atau keluarga.

Orang-orang telah membeli beraneka jenis kembang api beberapa hari sebelumnya. Mereka membawanya ke sana menggunakan ransel atau tas besar, begitu banyaknya bahan yang dipersiapkan. Sebagian yang lain datang hanya sebagai penonton, rata-rata pelajar dan mahasiswa dengan keterbatasan uang saku.

Menjelang tengah malam, mulai pukul 10, orang-orang makin berdesak-desakan berkumpul mencari tempat sedekat mungkin dengan Sungai Elbe. Sekitar sungai, khususnya di kawasan wisata Altstadt (kota tua) menjelma jadi lautan manusia. Seramai apa pun orang-orang berkumpul, meskipun rata-rata menenteng botol bir atau minuman keras lainnya, tak sedikit pun terjadi kericuhan, perkelahian, maupun tawuran. Semua berjalan tertib.

Dengan menghadap ke arah sungai, para pembawa kembang api mulai beraksi. Mula-mula hanya “pemanasan” dengan beberapa kembang api sederhana. Bersahut-sahutan dari satu sudut ke sudut lainnya. Seakan itu adalah bel pertanda pesta sedang dimulai. Masing-masing membuka botol bir pertama mereka.

Dentuman keras bertubi-tubi, diikuti pecahan kembang mekar di langit. Pantulan percikan cahaya warna-warni terlihat meriah di dalam air. Langit bertubi-tubi memekarkan kembang-kembang. Semakin larut malam, kembang api kian banyak. Di asrama mahasiswa, di malam tahun baru terdapat pengecualian dari peraturan asrama yang tidak boleh melakukan aktivitas menyangkut api di balkon. Para mahasiswa bersuka cita dengan membakar kembang api berbagai jenis. Di rumah-rumah penduduk juga tak kalah meriah. Orang-orang seakan bekerja selama setahun hanya untuk membakar duitnya di malam itu.

Ambulans siap siaga di jalan-jalan, ditambah patroli polisi di mana-mana. Tak jarang sirene ambulans meraung-raung keras membelah malam di antara desingan mercon. Saya memantau dari balik jendela kamar di lantai 7, tak berminat membakar kembang api, apalagi menjambangi Elbe. Suara dentuman bertub-tubi mengingatkan saya akan dentuman AK-47 ketika masih rawan konflik di kampung saya di Aceh dan saya masih trauma dengan bunyi serupa.

Dari jendela kamar, pemandangan indah itu tetap sangat jelas terlihat. Bahkan di sebelah kiri jendela, di balkon asrama, beberapa orang berkumpul sambil memegang botol minuman di tangannya, dan membakar kembang api bergantian. Saya akhirnya menutup jendela, khawatir kembang api salah sasaran, lalu membelok ke tempat saya memantau. Menonton dari balik kaca jendela juga tak kalah seru.

Tepat pukul 24.00, seakan dikomando, semua tempat meletup-letup bersamaan dan berterusan memancarkan aneka warna di langit. Bunga-bunga itu terus berhamburan tak henti-henti. Dentuman-dentuman itu menurun perlahan jumlahnya seiring waktu sampai pukul 3 pagi. Asap mengepul tebal di langit. Saya membayangkan, beginilah Palestina saat digempur Israel laknatullah. Asap dari peluru-peluru haus nyawa, asap dari bom-bom molotov, semuanya menyatu membumihanguskan rakyat Palestina.

Asap kembang api itu begitu tebalnya sehingga dalam beberapa menit, gedung-gedung di sekitar asrama saya tak kelihatan. Dalam remang-remang itu, ambulans meraung-raung lagi, sepertinya terdapat korban. Hal yang lumrah di saat orang bermain-main dengan api. Jutaan euro hangus malam itu dalam beberapa menit saja. Keesokan harinya jalanan sepi. Sampai pukul 9, orang-orang belum tampak di jalan-jalan.

Kalau ingin membumihanguskan orang-orang di daerah ini, datanglah pada hari tahun baru. Mereka masih teler oleh pengaruh berbotol-botol alkohol untuk perayaan tahun baru sehingga sangat mudah dilumpuhkan. Ini bukan ajakan, melainkan hanya sekadar kelakar.

Tak perlu mencontoh cara mereka menikmati akhir tahun, karena hal itu nyata tidak berfaedah dan menjadi kontroversi di kalangan mereka sendiri. Sebuah tradisi yang selain merusak diri juga merusak ekonomi. Yang membuat saya tak habis pikir, bagaimana mereka mengatur diri, sehingga semabuk apa pun tidak melakukan tawuran, perkelahian, atau merusak fasilitas umum? Pada poin ini saya angkat topi.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

Editor : hasyim

Namaku Jufrizal, di Cina jadi Fujia

Jufrizal
Adalah mahasiswa Aceh di Nanchang University-China


PERTENGAHAN September 2011, pertama kali saya mengikuti ujian kemampuan dasar bahasa mandarin di Nanchang University, saya hanya bisa menghela nafas panjang seperti menghirup udara di ruang hampa. Hal serupa juga dirasakan oleh tiga teman saya dari Aceh waktu itu.

Sore itu, di ruangan kelas berkumpul mahasiswa internasional penerima beasiswa dari pemerintahan Cina sedang serius mengerjakan soal ujian kemampuan dasar bahasa mandarin. Saya hanya bisa tersenyum lebar melihat lembaran soal. Semua soal ditulis dengan menggunakan bahasa Hanzi (bahasa simbol), tak ada huruf abjad satupun di lembaran soal.

Hasil ujian ini menentukan kami untuk mengisi kelas-kelas belajar bahasa mandarin selama satu tahun di Nanchang University. Ada empat tingkatan kelas bahasa diperuntukkan bagi mahasiswa asing. Dari sekian banyak penerima beasiswa mahasiswa internasional, hanya dari Aceh sejak awal belum pernah mendapatkan pendidikan dasar bahasa mandarin. Dan akhirnya kami ditempatkan di kelas dasar.

Di kelas dasar, ada juga dari teman Semarang dan Makasar serta negara lainnya. Seorang teman dari Makasar mengatakan pada saya, pemerintahan daerahnya sangat merespons positif dengan keberadaan lembaga pendidikan bahasa mandarin. Di kampus mereka saja ada lembaga bahasa mandarin. Selain itu, ada sebagian sekolah-sekolah di Makasar ada mata pelajaran pendidikan bahasa mandarin.

Mendengar penjelasan dia, memberikan pemahaman dalam benak saya. Kalau dipikir-pikir, Aceh sangat tertinggal dalam dunia pendidikan. Mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi di Aceh.

Saya dan ke tiga teman saya pun lulus seleksi beasiswa dari pemerintahan Cina setelah mengikuti seleksi dari pemerintahan Cina dan berkat rekomendasi dari Pembantu Dekan IV Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, Abdul Rani Usman. Dia juga Ketua Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin-Aceh (BKPBM-Aceh).

Setelah tiba di Cina, saya baru tahu ternyata pemerintahan Cina sangat merespons dan memberikan apresiasi positif kepada lembaga pendidikan di luar negeri yang memiliki tujuan memperkenalkan budaya dan bahasa mandarin di negaranya.

Siang itu, Kamis 29 Desember 2011, saya baru saja mengikuti ujian semester kuliah bahasa mandarin. Pada ujian kali ini, saya tak mematung seperti patung duka cita saat ujian pertama kali penentuan kelas bahasa mandarin. Sebagian soal dalam huruf hanzi, sudah saya pahami, ya walaupun masih banyak kekurangan.

Pada suatu ketika ujian chinese character ada kejadian lucu terjadi di kelas. Saya lupa-lupa ingat bagaimana tulisan nama saya sendiri dengan huruf hanzi. Seketika itu saya bergegas maju ke depan mengambil kartu mahasiswa di dalam tas. Ya setiba di Cina semua mahasiswa internasional diharuskan memiliki nama Cina. Nama Cina saya adalah Fujia.

“Fujia, untuk apa kamu mengambil kartu mahasiswamu di dalam tas,” ujar Mrs. Wang. Dia adalah pengasuh mata kuliah chinese character, dan juga Pembimbing Akademik (PA) saya di Nanchang University.

“Laoshi, saya lupa bagaimana tulisan nama saya sendiri,” jawab saya polos.

Seketika, suasana serius mengerjakan soal ujian menjadi pecah dengan gelak tawa dari teman-teman saya  di kelas siang itu. Maklum saja, tuk bisa menulis dan membaca dalam bahasa mandarin bagi pemula harus bisa mengingat 3.000 karakter huruf hanzi. Dan ini bukan perkara mudah, selain itu banyak aturan intonasi pengucapannya lagi.

Salah-salah intonasi pengucapan, bisa salah makna dari kata-kata yang kita ucapkan nantinya. Tapi saya yakin, sesulit apapun tantangan yang saya alami pasti ada hikmat dipenghujung nantinya. ***
--------------
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

Editor : arif

Yogyakarta, si ‘Kota Buku’

Muhajir Al FairusyMahasiswa Antropologi UGM, Melaporkan dari Yogyakarta


SIANG itu cuaca di kota pelajar, Yogyakarta, terasa agak panas, saya sedang mengendarai motor bersama teman di jalan raya Yogya-Solo, terlihat beberapa spanduk ukuran sedang di pinggir jalan yang selalu setia memberikan informasi silih berganti kepada pengguna jalan. Kali ini tertulis dan terpampang kalimat yang menurut saya cukup menarik dan pasti selalu terjadi di akhir tahun, “Diskon buku 30%”, “Grebek buku: Mari jadikan Yogya kota wisata buku” 30 Desember 2011-05 Januari 2012, dan ada beberapa tempat lainnya dengan pesan yang sama, itulah beberapa penggalan pesan kalimat yang menarik perhatian kami.

Tidak salah menobatkan Yogya kota pelajar, selain memiliki kampus dan perguruan tinggi yang banyak di tengah kota yang sederhana juga hampir separuh manusia yang berdomisili di Yogya adalah pelajar ditambah semangat membeli dan membaca buku hampir di setiap pustaka dan toko buku, tempat-tempat seperti ini tidak pernah sepi di Yogya sebut saja toko buku Toga Mas, Social Agency, Mizan, dan Gramedia yang selalu dikunjungi oleh pembeli, bahkan percetakan buku hampir ada di setiap sudut kota Yogya. 

Di akhir tahun tidak hanya tahun masehi juga tahun hijriah selalu saja ada berkah untuk membeli dan memperoleh beberapa buku di Yogya dengan harga yang lebih murah meskipun di hari-hari biasa harganya juga tergolong murah bahkan tidak kalah murah dari buku-buku di Pasar Senen Jakarta. Sebagai seorang mahasiswa tentu ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, hampir dalam tiga hari ini saya dan teman menghabiskan separuh hari di toko buku dan pameran buku akhir tahun.

Kagum dan menarik melihat antusiasme pengunjung yang memadati toko buku dan stand pameran, mulai dari anak-anak yang sibuk mengobrak-abrik rak komik hingga tidak ketinggalan orang-orang tua yang sudah berumur ikut berburu buku, beragam buku dan penerbit di stand berjajar rapi, sebut saja seperti Mizan, Obor dan beberapa penerbit lainnya di stand “Grebek buku”. Uniknya beberapa bahkan kebanyakan stand menawarkan buku-buku islami mulai dari ensklopedia Islam, hadits, sejarah Islam hingga buku yang mengandung nilai tasawuf.

Harga yang ditawarkan bervariasi, kalau di toko buku diskonnya hanya 30% di stand pemeran bisa mencapai 60% dan tidak ketinggalan buku yang diobral mulai Rp5.000 hingga Rp20.000. Buku-buku yang diobral tetap bermutu dan menarik untuk dibaca, namun pembeli harus memilih-milih sesuai seleranya. Terutama buku-buku sastra seperti novel dan lainnya menjadi pajangan utama saat akan mengelilingi toko buku dan stand yang sedang merayakan “cuci gudangnya”.

Yogya selalu memberikan ketenangan dan kesederhanaan, mungkin karena daerahnya yang bukan termasuk kota industri seperti Jakarta dan Surabaya. Di Yogya manusia diajak untuk hidup sederhana seperti pola berpakaian sahaja dan makan angkringan di pinggir jalan hanya bermodalkan alas tikar di trotoar jalan-jalan kota Yogya dan paling penting keramahan rakyatnya serta keuntungan sebagai pelajar menikmati suasana “diskonnya” di akhir pergantian tahun.

Saya berharap di Aceh semua toko buku memberikan diskon khusus seperti di sini dan menggelar stand akhir tahun tentu akan lebih bermakna untuk merangsang minat baca semua masyarakat. Membangun peradaban tentu dimulai dari membaca, memahami dan mengamalkan, semakin tinggi minat membaca sebuah bangsa tentu akan semakin baik pola hidup masyarakatnya. Berpedoman pada Yogya yang ingin menjadikan kota wisata buku, tentu Aceh bisa mengikutinya.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri

Jumatan Perdana di Keelung City

Oleh Dedi Fazriansyah Putra Mahasiswa PhD of Aquaculture, National Ocean Taiwan University (NTOU)

KEELUNG City adalah satu kota yang terletak di bagian paling utara Pulau Formosa berjarak sekitar 45 menit perjalanan bus dari Taipei, ibu kota Taiwan. Kota ini juga dijuluki sebagai ‘Kota Hujan’ layaknya kota Bogor di Indonesia. Di sini, tinggal seribuan buruh pabrik, nelayan, dan pekerja Indonesia, termasuk 10 mahasiswa Aceh yang sedang menuntut ilmu di bidang kelautan dan perikanan.

Kota yang berciri khas gaya hidup materialistik dan hedonism ala Taiwan ini, memiliki lebih dari seribuan Buruh Migran Indonesia (BMI) yang mayoritas Islam dan belasan mahasiswa muslim yang berasal dari Indonesia, Malaysia dan Gambia.

Dilihat dari keberadaan jumlah penganut Islam, sudah sepatutnya kota ini memiliki sarana ibadah yang memadai untuk shalat berjamaah lima waktu termasuk shalat Jumat. Namun sungguh ironis, hingga saat ini tidak ada satu tempat ibadah pun yang sesuai untuk melaksanakan shalat Jumat bagi muslim sebagaimana kota-kota besar lainnya di Taiwan.

Tidak tersedianya sarana ibadah bagi muslim ini membuat para mahasiswa dan para BMI muslim, harus bersusah payah menempuh jarak yang lumayan jauh untuk menunaikan shalat Jumat, di Grand Mosque, Taipei City. Bahkan, terkadang tak jarang ada yang terpaksa tak bisa ikut jumatan karena jadwal kuliah atau riset sangat dekat dengan waktu shalat Jumat di Taipei City yang menghabiskan waktu 3-4 jam perjalanan.

Tapi, alhamdulillah, sekarang telah terwujudnya shalat Jumat perdana bagi muslim di Keelung City yang berlokasi di lantai dua restoran Riang Jaya (milik orang Indonesia) di pusat kota Keelung City, Taiwan. Gagasan mendirikan Shalat Jumat ini, pertama kali didiskusikan oleh mahasiswa Aceh ketika memperingati dan refleksi 7 tahun tsunami Aceh di Student Activity Center, NTOU, Senin 26 Desember 2011 lalu.

Shalat Jumat perdana itu dihadiri oleh sembilan mahasiswa Aceh, mahasiswa Gambia dan belasan BMI muslim. Ketika itu, yang menjadi khatib dan sekaligus bertindak sebagai imam shalat adalah Ustaz Niknik Abdurahman dari Jakarta. Beliau ikut berperan serta membimbing kami mahasiswa Aceh dan para BMI untuk bersama-sama mengadakan Jumatan perdana di Kota Keelung ini.

Sedangkan yang menjadi muazzin pertama pada Jumatan perdana itu adalah Omar A Bah, mahasiswa S2 NTOU yang berasal dari Gambia, Afrika Tengah dan azan yang kedua dikumandangkan dengan merdu sekali oleh Haekal Azief Haridhi, mahasiswa S2 NTOU asal Aceh.

Setelah shalat Jumat, jamaah yang terdiri dari Mahasiswa Aceh, Gambia dan rombongan BMI mengadakan makan bersama sambil mendengarkan tausiah yang disampaikan oleh Bapak Dani Sanjaya selaku tokoh BMI di Keelung City. “Dengan shalat Jumat perdana ini, kita berharap menjadi tonggak awal bangkitnya Islam dan cahaya hidayah di Keelung City, Formosa,” katanya.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor : bakri