Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2012

SEORANG BUDAK DAN TIGA POTONG ROTI


Suatu ketika, Ja’far bin Abi Thalib berjalan ke luar rumah hingga ia sampai ke sebuah kebun kurma. Di tepi kebun tersebut, ada seorang budak sahaya hitam tengah duduk menjaga domba gembalaannya.
Si budak tersebut sedang memegang tiga potong roti. Ketika ia hendak makan, tiba-tiba datanglah seekor anjing mendekat. Anjing itu terlihat begitu lapar dan kurus.
Tanpa bicara, sang budak tersebut melempar sepotong roti miliknya kepada anjing itu. Dalam sekejap, anjing itu melahap roti hingga habis.
Sang budak hitam itu kembali melempar rotinya yang kedua, dan dalam sekejap juga dilahap habis oleh anjing itu. Dan kemudian si budak melemparkan rotinya yang ketiga hingga tak tersisa lagi roti di tangannya.
Melihat pemandangan itu, Ja’far lantas mendekati budak tersebut dan bertanya:
“Berapa roti yang engkau punya?”
“Ya, 3 buah, seperti yang engkau lihat?”. Jawab si budak.
“Engkau masih punya roti yang lain?”.
“Tidak ada lagi untuk hari ini”.
“Lantas, mengapa engkau berikan semua pada anjing itu?”. Tanya Jak’far heran.
“Tuan, di kampung dan daerah kebun ini tidak ada anjing. Jadi saya tahu, bahwa anjing ini datang dari tempat yang sangat jauh untuk mencari makan. Ia pasti sangat lapar. Saya tidak ingin membiarkannya kelaparan”. Ujar budak itu.
“Lalu, bagaimana engkau sekarang? Engkau sudah tidak punya roti?”.
“Tidak mengapa, Tuan. Biarlah saya lapar untuk sehari ini. Belum sebanding dengan anjing ini yang lapar berhari-hari…”.
Ja’far terperangah mendengar jawaban budak hitam legam itu. Ia lantas membandingkan dengan dirinya sendiri yang serba berkecukupan, tapi jiwanya kalah dermawan dengan seorang hamba sahaya yang miskin papa.
Seketika itu juga, Ja’far pergi menemui tuan pemilik budak ini dan membelinya. Selain itu, Ja’far juga pergi menemui tuan pemilik kebun kurma tersebut dan juga membelinya. Setelah itu, Ja’far membebaskan budak tersebut dan menyerahkan kebun itu kepadanya.

Seorang Pemuda di Gerbong Kereta… (Kisah Inspiratif)


Di sebuah gerbong kereta api yang penuh, seorang pemuda berusia kira-kira 24 tahun melepaskan pandangannya melalui jendela. Ia begitu takjub melihat pemandangan sekitarnya. Dengan girang, ia berteriak dan berkata kepada ayahnya:
”Ayah, coba lihat, pohon-pohon itu… mereka berjalan menyusul kita”.
Sang ayah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan wajah yang tidak kurang cerianya. Ia begitu bahagian mendengar celoteh putranya itu.
Syahdan, di samping pemuda itu ada sepasang suami-istri yang mengamati tingkah pemuda yang kekanak-kanakan itu. Mereka berdua merasa sangat risih.
Kereta terus berlalu. Tidak lama pemuda itu kembali berteriak:
“Ayah, lihat itu, itu awan kan…? lihat… mereka ikut berjalan bersama kita juga…”.
Ayahnya tersenyum lagi menunjukkan kebahagiaan.
Dua orang suami-istri di samping pemuda itu tidak mampu menahan diri, akhirnya mereka berkata kepada ayah pemuda itu:
“Kenapa anda tidak membawa anak anda ini ke dokter jiwa?”
Sejenak, ayah pemuda itu terdiam. Lalu ia menjawab:
“Kami baru saja kembali dari rumah sakit, anakku ini menderita kebutaan semenjak lahir. Tadi ia baru dioperasi, dan hari ini adalah hari pertama dia bisa melihat dunia dengan mata kepalanya”.
Pasangan suami itu pun terdiam seribu bahasa.
* * *
Setiap orang mempunyai cerita hidup masing-masing, oleh karena itu jangan memvonis seseorang dengan melihat zahirnya saja. Barangkali saja bila anda mengetahui kondisi sebenarnya anda akan tercengang.
Maka kita perlu berfikir sebelum bicara…
Sumber: Facebook sahabat

Ayah Sang Putri… (Kisan Inspiratif)

Di suatu petang, sepasang suami istri tengah berkumpul di ruang keluarga bersama putri kecil mereka. Kala asyiknya mereka bercengkerama, sang istri bertanya:
“Sayang, apakah kamu mencintai putri kita ini?”
“Tentu saja” Jawab sang suami.
“Bagaimana seandainya, kalau putri kita ini besar nanti, lalu ia menikah dengan seorang pria, kemudian pria itu menyakiti hati putrimu sehingga ia menangis”.
“Oh, aku tidak akan memaafkan pria yang telah membuat putriku ini menangis”. Jawab sang suami penuh semangat.
“Sayang, tahukah kamu bahwa aku juga memiliki seorang ayah yang sangat mencintaiku. Dan ibuku pernah mengajukan pertanyaan yang sama, dan ayahku juga menjawab persis seperti jawabanmu tadi”.

Cerpen Terjemahan: SULTAN


S U L T A N

Penulis Asli: Qusay el-Syeikh Askar[1]
Dialihbasakan oleh bahasa: Armansyah
Layar tersibak perlahan.
Tapi panggung drama itu masih kelihatan sepi. Para penonton menunggu pertunjukan dimulai.  Lama menunggu, para pelakon satu pun belum juga kelihatan. Semua mata hanya melihat sebuah singasana keemasan terletak kokoh ditengah-tengah panggung.
Suasana hening menunggu pertunjukan dimulai…Akhirnya, sang sutradara muncul. Seorang pria gemuk, pendek dan berkepala botak. kedua ujung dutubuhnya terlihat jelas. Ia terlihat sangat gugup hingga kelihatan seperti orang linglung. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Dengan segenap keberanian yang dimilikinya, ia berdiri menghadap hadirin di tengah-tengah latar panggung.
“Tuan-tuan…” ia memulai kata-katanya dengan gemetar.
“Sekarang, anda semua hanya melihat singasana ini… drama ini tidak dapat dimulai karena orang yang akan memerankan raja tidak ada. Karena itu, siapa diantara Tuan-tuan sekalian yang sanggup memerankannya?” sambung sang sutradara.
Para hadirin mengira sutaradara ini sedang bersandiwara. Atau ia sedang menyembunyikan sesuatu dibalik kata-katanya tadi, barangkali sebuah kejutan atau permainan.
Hening. Tak ada jawaban…
Lama sang sutradawa menunggu jawaban, tapi tidak ada.
Para hadirin hanya saling pandang satu sama lain.
“Tuan-tuan, jangan mengira saya sedang bergurau… saya benar-benar butuh seseorang yang ingin berperan sebagai raja…” katanya setengah putus asa.
Sang sutradara lalu turun dari panggung meninggalkan singasana yang ada di belakangnya. Ia berhenti di sela-sela tempat duduk di dekat para hadirin. Ia menyapa seorang penonton…
“Tuan, anda mau berperan sebagai raja?”
“Oh, tidak…”
Lalu ia pindah ke seorang penonton wanita di dekat dinding.
“Nyonya, anda mau memerankannya? Kami akan menukar raja menjadi ratu…”.
“Tidak… tidak…”.
Ia terus berjalan menusuri barisan penonton. Penonton panik dan mulai heboh. Akhirnya sang sutaradara kembali ke panggung dengan raut muka penuh kesedihan.
“Tuan-tuan… Saya tidak yakin kita bisa memulai drama malam ini tanpa seorang raja. Walau pun sebenarnya, peran raja ini tidak memerlukan usaha yang begitu berarti… Raja hanyalah seorang yang duduk di singasana, memberi perintah dan lain-lain…”
Sutradara berhenti bicara, dan penonton kembali heboh. Ia kembali menyambung pembicaraannya.
“Terserah kalian mau mengatakan ‘Sutradara sialan’… saya hanya mengatakan yang sebenarnya kepada kalian. Pemeran raja yang sebenarnya telah mati malam ini. Saya sendiri juga tidak menyangka hal ini akan terjadi…”.
Sutaradara berhenti lagi bicara. Ia kembali ingin melihat reaksi para hadirin  terhadap ucapannya. Karena ia melihat mereka tenang-tenang saja, ia lalu melanjutkan kembali kata-katanya.
“Tak seorang pun bisa lolos dari kematian… Solusi satu-satunya agar drama malam ini segera dimulai adalah, seseorang diantara Tuan-tuan mau bermurah hati berperan sebagai raja…”.
Para hadirin memanfaatkan kesempatan diamnya sutradara untuk kembali membuat kehebohan. Tapi dari akhir barisan bangku penonton, terdengar sebuah suara…seorang pemuda.
“Saya…saya…”
Saat itu juga, raut muka sutradara berubah. Airmuka keputusasaan yang sedari tadi terlukis di wajahnya berubah menjadi cerah penuh harapan…
“Baiklah… tugasmu hanyalah naik panggung sekarang dan duduk di kursi emas itu…”.
Ketika pemuda itu mendekat ke latar penggung, wajahnya terlihat jelas karena tersorot terangnya lampu hias. Usianya sekitar tigapuluh tahun, sorot matanya memancarkan keanehan. Tubuhnya tinggi. Ia memakai pakaian abu-abu.
Siulan dan yel-yel terdengar riuh…
“Sultan… Sultan… Sultan…!!!”.
Sang pemuda kembali menoleh ke belakang. Ia bergumam…
“Tuan, sebenarnya saya tadi hanya bergurau. Sebenarnya mereka lah yang mendorong saya ke sini…” bisiknya pada sutradara.
Sutradara terpaku melongo.  Di depannya, ia hanya melihat seraut wajah serius yang tidak mungkin bergurau separah ini. Tapi bagaimanapun, ia sedang membutuhkan seseorang yang akan memerankan raja.
Siulan dan yel-yel terus bergema. Sekarang susana benar-benar heboh.
“Sultan… Sultan…!!!”.
“Nama saya Sultan… Sultan bin al-Waliy… karena itu mereka bergurau dengan saya… tangan-tangan mereka lah yang mendorong saya ke depan sini…”
Sutradara terus-menerus ingin meyakinkan wajah yang memiliki kemampuan bergurau begitu hebat di depannya. Semua penonton menampik penolakan pemuda itu..
“Kamu sudah dekat dengan panggung ini… dan nama kamu Sultan?…”
Tapi pemuda itu segera memotong pertanyaan sutaradara.
“Kalau begitu, saya memiliki satu syarat sebelum saya menduduki singasana emas itu”
“Tidak apa-apa… kita akan sepakat begitu kamu masuk ke ruang ganti pakaian”.
Pemuda itu masih berdiri mematung. Sang sutradara meletakkan tangannya di pundak pemuda itu. Tapi ia tetap mematung.
“Selama saya harus kembali ke sejarah dahulu, saya akan mengajukan syarat itu…”.
“Kamu mengira saya akan menolak syarat kamu itu?”.
“Baiklah… tapi bagaimana dengan para penonton?”
Sutaradara segera berdiri menghadap penonton . ia menggaruk kepala botaknya.
“Apakah Tuan-tuan menginginkan sandiwara ini segera dimulai?”
Penonton kembali heboh, semuanya meneriakka kata setuju.  Lalu sang pemuda berkata di depan mereka.
“Saya ada satu syarat. Kalian semua harus mentaati semua perintah saya…”.
Para hadirin begitu bersemangat supaya sandiwara segera dimulai. Mereka kembali bersiul dan bertepuk tangan.
“Sultan, kami setuju…. Sultan, kami setuju…”.
Pemuda itu segera pergi menuju ruang ganti pakaian. Ia terlihat tenang berwibawa. Setelah itu, ia duduk di singasana dengan pakaian klasik. Sejarah seakan-akan berbaur dengan tubuhnya. Ia dikelilingi bala tentara yang dilengkapi peralatan perang. Di belakang singasana, ada dua orang pengawal dilengkapi pedang mengkilap. Segala sesuatu yang ada di belakang seakan menggambarkan sebuah kejadian besar.
Sang raja masih terdiam. Para tentara siap siaga… serta dua orang pengawal selalu siaga bila tiba-tiba terjadi kejadian yang mengejutkan. Raja masih terdiam… sedangkan para pelakom lain terlihat sedang menunggu perintah dari raja penuh kesabaran.
Hening. Lama sekali.
Penonton kembali heboh…
Sekejap setelah kehebohan itu, sang raja bergerak bangkit dari singasana. Ia mendekat ke pinggir panggung sambil terus dikawal bala tentarany. Akhirnya ia berkata…
“Tuan-tuan… kalian telah menyetujui syarat saya tadi, karena itu saya menjatuhkan hukuman mati kepada kalian semua… kalian telah melanggar perintah raja…”
Lalu salah seorang pengawal segera berbalik ke tangga tempat turun menuju ke arah hadirin. Sedangkan bala tentara yang dilengkapi senjata perang segera terjun menuju kursi-kursi penonton…
***

[1]Sastrawan dan budayawan asal Saudi Arabia. Cerpen ini ditulis tahun 1987
Dikutip dari: Harian Riau Pos, 2 April 2006

Jumat, 24 Agustus 2012

Kisah Menarik Tentang Uang, Hutang dan Bunga



Mitos Uang



Cerita favorit saya tentang sistem kredit (hutang) sebagai uang adalah "Saya Menginginkan Seluruh Dunia Plus 5%." Bagi Anda yang tidak menyukai bacaan panjang dan berat, dongeng itu bisa menjadi cerita pembuka selera Anda.

Hari ini saya akan memposting sebuah dongeng lagi. Cerita ini berisi hal yang sama, tentang kredit sebagai uang, sistem yang sudah dipakai di seluruh dunia selama beberapa ratus tahun terakhir (silahkan baca "Sejarah Pedagang Uang").Bagi Anda yang masih hidup dalam ilusi bahwa Indonesia merdeka tahun 1945, bangunlah dari tidurmu.. Kita semua masih adalah budak, bedanya hanya tuan kita sekarang tidak muncul langsung di hadapan kita, memerintah kita untuk bekerja paksa.

Setiap sen uang di negara kita, dan juga negara lainnya adalah kredit, alias hutang. Dan Uang muncul hanya dalam bentuk kredit. Kita semua adalah penyewa uang, tidak lebih dari itu.

Yang namanya hutang harus dibayarkan kembali plus bunga yang tidak diciptakan oleh bankir. Sampai kapan pun total hutang tidak mungkin dilunasi. Tahun demi tahun, kita bekerja untuk hanya untuk melayani dan memperkaya sang pencipta kredit, para bankir...Rata Penuh
***

Judul Asli : MONEY MYTH
Pengarang : Louis Even

1. Korban Kapal Tenggelam


Karena suatu kecelakaan sebuah kapal tenggelam. Pada akhirnya, tinggal 5 yang selamat, mereka menaiki sebuah rakit dan dibawa oleh arus ombak.
Kelima orang ini: Frank, si tukang kayu. Paul, seorang petani. Jim, peternak. Harry, penanam agrikultur. Dan Tom, seorang mineralogist.

2. Sebuah Pulau Yang Diberkati


Bagi kelima orang ini, menginjakkan kembali kaki ke daratan, bahagianya ibarat baru bangkit dari kuburan. Syukurnya pulau yang mereka datangi ini adalah tanah yang subur. Jim, si peternak, sepenuhnya yakin dia bisa beternak dengan baik binatang-binatang di pulau itu. Paul juga meyakini tanah di pulau ini mudah untuk ditanami. Harry menemukan bahwa beberapa pohon buah-buahan di sana, bila dirawat dengan baik, akan menghasilkan panen yang lumayan. Pulau itu juga penuh dengan pohon, Frank si tukang kayu akan dengan mudah mendapatkan kayu dan mulai membangunkan rumah-rumah. Dan si Tom, walaupun kekurangan alat kerja, tapi dengan keahliannya, masih sanggup menambang secara sederhana kekayaan alam di sana.

3. Kekayaan Yang Sebenarnya

Inilah mereka yang sedang bekerja. Si tukang kayu membangun rumah dan perabotan. Awalnya mereka mencari makanan seadanya. Tetapi dengan berlalunya waktu, tanah-tanah mulai dikerjakan dengan rapi di ditanami, dan si petani pun mulai bisa menikmati panennya.


Waktu terus berlalu, dengan kerja keras dari kelima orang ini, pulau yang mereka datangi ini pun menjadi semakin kaya. Kekayaan mereka bukanlah dalam bentuk emas atau kertas uang perbankan, tetapi kekayaan dari barang-barang yang benar-benar memiliki nilai, kekayaan dalam bentuk makanan, pakaian, hunian, dan segala yang lain yang diperlukan oleh manusia.

Setiap orang mengerjakan apa yang dia bisa. Surplus dari produksinya mereka saling bertukar satu sama lain. Walaupun kehidupan tidak gampang, karena masih banyak hal lainnya yang mereka nikmati sebelumnya sebelum kapal mereka tenggelam sekarang masih tidak ada, tetapi setidaknya mereka sekarang terbebas dari yang namanya pajak, atau rasa takut akan sitaan harta. Mereka hidup dengan sulit tetapi setidaknya bisa menikmati buah dari pekerjaan mereka.

Sambil berupaya untuk hidup, mereka tetap berdoa, berharap suatu hari mereka bisa kembali lagi berkumpul dengan keluarga mereka seperti dulunya.

4. Sebuah Ketidaknyamanan Yang Serius

Dengan berlalunya waktu, akhirnya mereka menemukan sebuah hal yang sangat menggangu, mereka tidak memiliki uang sebagai medium pertukaran yang lebih baik. Produk yang mereka pertukarkan, tidak selalu ada di tangan saat sebuah transaksi dijalankan. Contoh, kayu yang diberikan kepada petani tidak bisa dibayar oleh si petani sebelum 6 bulan masa tanam berakhir. Kadang-kadang lagi, seseorang memiliki sesuatu yang nilainya lebih besar daripada yang barang yang ada di tangan rekan dagangannya.


Orang-orang ini, walaupun mereka tahu cara memproduksi barang, kekayaan yang sebenarnya, tetapi bagaimana menciptakan uang, simbol dari kekayaan, adalah di luar kemampuan pikir mereka. Tentu saja, orang-orang berpindidikan juga kadang-kadang sama, demikian juga para pejabat di pemerintahan, semuanya tidak tahu bagaimana uang harus diciptakan.

5. Datangnya Seorang Pendatang

Suatu hari, saat kelima orang ini sedang duduk-duduk di pantai, mendadak datang sebuah kapal kecil dengan seorang penumpang. Orang ini ternyata adalah seorang korban yang selamat dari kapal lain yang juga tenggelam, nama orang ini adalah Oliver.


Bahagia karena memiliki teman baru, kelima orang ini memperlakukan dia dengan sangat baik, dan mereka pun bercerita kepada Oliver tentang kesulitan mereka karena tiadanya uang untuk digunakan.

“Oh, puji Tuhan,” Kata Oliver, “Karena saya sebenarnya adalah seorang bankir. Dalam waktu singkat, saya akan merancang sebuah sistem keuangan yang saya jamin akan memuaskan kalian semua. Kalian akan mulai kembali ke peradaban.”

Kelima orang ini pun bersyukur luar biasa atas datangnya bankir tersebut, ibarat malaikat yang diutus oleh Tuhan. Bukankah kita-kita, yang hidup dalam peradaban yang maju, memang terbiasa memuja para bankir, sang penguasa dan darah dari sistem finansial kita?

6. Dewa Peradaban

“Oh Bapak Oliver, sebagai bankir kami, tugas Anda satu-satunya adalah menjaga uang kami, Anda tidak perlu bekerja di lapangan.”


Oliver mulai mengambil barang-barang yang dia selamatkan dari kapalnya yang tenggelam, kertas dan sebuah mesin cetak, lengkap dengan tintanya, dan juga sebuah tong besar.

Tong ini, kata Oliver, “Berisi harta yang paling berharga… Emas!”

“Wow…. Hebat, benar-benar malaikat utusan Tuhan. Barang kuning ini, walaupun lebih sering disembunyikan dan tidak kelihatan, tetapi senantiasa memiliki kekuasaan yang amat besar, bahkan bisa mempengaruhi nasib dari sebuah bangsa."

“Kawan-kawan, emas ini lebih dari cukup untuk kalian semua. Tetapi emas ini tidak untuk disirkulasikan. Emas harus tersembunyi. Emas adalah jiwa dari uang yang sehat, dan yang namanya jiwa selalu tidak kelihatan. Saya akan menjelaskannya nanti saat Anda mendapatkan suplai uang Anda yang pertama.”

7. Galian Rahasia

Oliver bertanya kepada kelima orang ini tentang berapa kira-kira yang mereka butuhkan untuk memulai perdagangan, dan mereka menjawab “$200 sudah cukup.”

Kelima orang ini bahagia sampai tidak bisa tidur, dalam kepala mereka sekarang penuh dengan gambaran emas di tangan mereka.


Oliver sendiri, bekerja penuh semangat karena bahagianya dia akan nasibnya sebagai bankir. Mula-mula dia menggali sebuah lubang untuk meletakkan tong yang berisi emas itu. Kemudian dia pun sibuk mencetak uang-uang kertas $1 baru sebanyak $1000.

“Hebat, betapa sederhananya membuat uang. Semua nilainya datang dari produk yang bisa dibelinya. Tanpa produksi, kertas-kertas ini sebenarnya sampah. Kelima customer saya yang naïf tidak menyadari ini. Mereka benar-benar berpikir uang ini nilainya datang dari emas. Kebodohan mereka adalah alasan mengapa saya adalah tuan mereka.”

Besoknya, kelima orang ini pun menghampiri Oliver.

8. Siapa Pemilik Uang Ini?

Lima set uang sudah siap di atas meja.


Oliver berkata, “Sebelum Anda mengambilnya, saya ingin perhatian dari Anda. Basis dari uang ini adalah emas. Dan emas yang saya simpan adalah emas saya. Konsekwensinya, uang ini adalah uang saya. Tapi jangan bersedih, saya akan meminjamkannya kepada Anda. Namun, Anda harus membayar bunga. Mengingat uang sangat susah didapat, saya rasa 8% tidaklah terlalu tinggi.”

“Oh, tentu saja, Pak Oliver,” Kata kelima orang itu.

Oliver menyambung, “Hal yang terakhir kawan, bisnis adalah bisnis, walaupun antara kawan akrab. Sebelum Anda mengambil uang ini, masing-masing dari Anda harus menandatangani surat ini. Anda berjanji akan membayar bunga dan juga pinjaman pokok, bila tidak saya akan memiliki hak untuk menyita aset Anda. Tentu saja, ini hanya formalitas. Properti Anda tidaklah menarik bagi saya, saya hanya ingin uang. Saya yakin saya akan mendapatkan uang saya kembali, dan Anda juga tidak akan berpisah dengan harta Anda.”

“Hm, masuk akal Pak Oliver. Kami akan bekerja lebih keras lagi supaya bisa membayar Anda kembali.” Dan kelima orang ini pun mengambil uang tersebut dan mulai menggunakannya.

9. Sebuah Masalah Arimatika

Uang dari Oliver beredar dengan cepat di pulau tersebut. Perdagangan, karena dipermudah oleh adanya uang, pun meningkat dua kali lipat. Semua orang bahagia. Si bankir pun mulai mendapat status dan rasa hormat dari kelima orang tersebut.


Tetapi, mari kita lihat… Mengapa si Tom tampak murung? Karena Tom, sama seperti teman-temannya, telah menandatangani surat perjanjian kepada Oliver. Dalam waktu satu tahun, $200 + $16 bunga harus dikembalikan. Tetapi Tom hanya menyisakan beberapa dolar sekarang, dan waktu untuk membayar sudah semakin dekat.

Sudah lama juga dia bimbang.. Oliver meminjamkan $1000 kepada mereka berlima, tetapi uang yang harus dikembalikan adalah $1080. Sekalipun mereka berlima mengembalkan semua uang di tangan kepada Oliver, mereka masih kekurangan $80. Tak seorang pun memiliki $80 ini.

Memang mereka yang memproduksi barang, tetapi mereka tidak memproduksi uang. Oliver pada dasarnya bisa mengambil alih seluruh pulau ini, karena mereka berlima sama sekali tidak sanggup membayar kepada Oliver sesuai perjanjian.

Tom pun mulai berdiskusi dengan keempat temannya, Tom berhasil menjelaskan kepada mereka tentang anehnya sistem ini. Teman-teman Tom mulai mengerti, dan mereka pun memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan Oliver.

10. Bankir Yang Baik Hati

Lima orang ini pun berdebat dengan Oliver tentang masalah ini.


“Mana mungkin kami sanggup membayar $1080 kalau semua uang yang eksis hanya $1000?”

Oliver mendengarkan dengan tenang, dan kemudian menjawab kepada mereka, “Bankir yang baik selalu beradaptasi dengan keadaan. Mulai sekarang kalian hanya perlu membayar bunganya saja kepadaku. Pokok pinjaman bisa Anda simpan terus.”

“Maksudnya $200 pinjaman kami dianggap lunas?” Tanya salah satu dari mereka.

“Tentu saja tidak. Bankir tidak akan menghapuskan hutang. Yang saya maksudkan adalah mulai sekarang Anda hanya perlu membayar bunganya saja, $80 per tahun kepada saya. Mungkin di antara kalian ada yang kekurangan uang karena kurangnya perdagangan. Kalau begitu, organisasikan komunitas Anda seperti sebuah bangsa. Buat sebuah sistem kontribusi, yaitu apa yang kita sebut dengan pajak. Orang yang punya lebih harus membayar lebih, dan yang kekurangan membayar lebih sedikit.”

Kelima orang ini pun pergi dengan diam, tetapi dalam hati mereka masih bingung.

11. Oliver Yang Bersuka-Ria

Oliver kembali sendiri. Dia berpikir: “Bisnis lagi bagus. Orang-orang ini memang pekerja yang rajin, tetapi mereka bodoh. Ketidaktahuan dan kenaifan mereka adalah kekuatan saya. Mereka meminta uang, dan yang saya berikan kepada mereka adalah rantai perbudakan.”


“Tentu saja, mereka bisa saja membuang saya ke laut. But hei… Saya punya tanda tangan mereka. Mereka orang-orang jujur, mereka akan menepati perjanjiannya. Orang jujur dan pekerja keras memang ada di dunia untuk diperbudak para ahli finansial.”

“Oh Mammon! Saya merasakan kegeniusan perbankan merangkai keseluruhan hidupku. Oh Tuanku! Betapa benarnya kamu saat kamu berkata: Izinkan saya mengontrol uang sebuah negara, dan saya tidak peduli siapa yang membuat hukumnya. Sayalah tuan di pulau ini karena sayalah yang mengontrol uangnya.”

“Jiwaku penuh dengan antusiasme dan ambisi. Aku bisa mengenalikan seluruh alam semesta. Apa yang aku, Oliver, lakukan di sini bisa aku lakukan terhadap seluruh dunia. Oh! Andaikan saja saya bisa meninggalkan pulau ini, saya tahu pasti saya bisa mengendalikan seluruh dunia tanpa perlu mengenakan mahkota raja.”

“Kebahagiaan tertinggi saya adalah kalau saya bisa menerapkan filosofi ini di pikiran orang-orang yang akan memimpin masyarakat: bankir, industrialis, politisi, reforman, guru, jurnalis, dll, semuanya akan menjadi budakku. Publik akan merasa puas hidup dalam perbudakan di saat para elit di antara mereka akan menjadi pengawas mereka.”

12. Biaya Hidup Yang Tak Terjangkau

Situasi perlahan-lahan bertambah buruk di pulau ini. Produksi memang meningkat, dan aktifitas barter turun ke minimum. Oliver menerima bunga pinjamannya secara teratur. Yang lain harus berpikir bagaimana menyisakan uang untuknya. Dengan demikian, uang tidak benar-benar beredar dengan bebas.

Mereka yang membayar lebih banyak pajak memprotes. Mereka menaikkan harga jual barangnya sebagai kompensasi atas kerugiannya. Mereka yang tidak membayar pajak akhirnya harus menghadapi biaya hidup yang terus meningkat. Bila seseorang akhirnya bekerja untuk yang lain, dia akan terus-menerus meminta kenaikan gaji untuk memenuhi ongkos hidup yang terus meningkat.


Moral sudah sangat rendah, tidak ada lagi kesenangan dalam hidup. Tidak juga semangat dalam bekerja. Untuk apa juga? Penjualan sangat sulit. Kalaupun menjual, akhirnya harus membayar pajak. Ini benar-benar sebuah krisis. Dan kelima orang ini saling menuduh satu sama lain bahwa mereka menuntut terlalu banyak sumbangan dari yang lain.

Suatu hari, Harry, yang duduk merenungkan situasi mereka, akhirnya tiba pada sebuah kesimpulan akhir. Perubahan sejak kedatangan si perancang sistem moneter baru mereka telah merusak segalanya di pulau itu. Tentu saja, mereka berlima juga memiliki kesalahan, tetapi tetap saja sistem dari Oliverlah yang menyebabkan kerusakan terbesar.

Harry berhasil menjelaskan kepada teman-temannya. Satu demi satu dari mereka akhirnya paham, dan mereka pun memutuskan untuk mengadakan pembicaraan lagi dengan Oliver.

13. Diperbudak Oleh Oliver

Pertengkaran hebat pun terjadi.

“Uang benar-benar kurang di pulau ini kawan, karena Anda mengambilnya dari kami! Kami membayar dan membayar, dan tetap saja kami berhutang sama banyaknya seperti sebelumnya. Kami sudah bekerja dengan sangat keras, tetapi kondisi kami bahkan lebih buruk dibanding sebelumnya. Hutang! Hutang! Yang ada pada kami hanyalah hutang!”


“Oh, kawan, bicaralah yang masuk akal! Kehidupan kalian sudah lebih baik, terima kasih kepadaku. Sistem perbankan yang baik adalah aset terbaik sebuah bangsa. Tetapi supaya bisa berfungsi maksimal, Anda harus mempercayai bankirnya. Datanglah padaku seperti datang pada ayahmu. Apakah uang yang Anda inginkan? Tidak masalah, simpanan emasku masih cukup untuk menerbitkan ribuan dolar yang lain. Saya akan meminjamkan kepada kalian seribu dolar lagi, Anda tinggal menjaminkan aset Anda kepadaku.”

“Jadi sekarang hutang kami menjadi $2000! Dan kami harus membayar dua kali lipat bunga sepanjang sisa hidup kami!”

“Ya, benar --- Tetapi saya akan meminjami kalian lagi saat nilai properti Anda meningkat. Kalian tidak perlu membayar saya apapun selain bunga. Kalian bisa menggabungkan semua hutang kalian menjadi satu, kita akan menyebutnya konsolidasi hutang. Kalian bisa menambah hutang itu, tahun demi tahun.”

“Dan menaikkan pajak, tahun demi tahun?”

“Tentu saja, tetapi pendapatan Anda kan juga akan meningkat setiap tahun.”

“Jadi, semakin pulau ini maju karena usaha kami, semakin besar hutang publik kami!”

“Iya, emangnya kenapa! Sama seperti di manapun di peradaban yang lain. Tingkat peradaban sebuah komunitas selalu bisa dilihat dari seberapa besar ukuran hutang mereka kepada bankir.”

14. Srigala Memakan Domba

“Itukah yang namanya sistem moneter yang sehat, Pak Oliver?”


“Bapak-bapak, semua uang yang baik adalah berbasis emas, dan muncul dari bank dalam bentuk hutang. Hutang nasional adalah hal yang baik. Ini akan mencegah kalian merasa puas diri. Ini akan membuat pemerintahan manapun lebih bijak, yang diturunkan oleh bankir. Sebagai bankir, sayalah obor cahaya peradaban di pulau ini. Sayalah yang akan mendikte politik dan mengatur standar hidup kalian.”

“Pak Oliver, kami bukan orang berpindidikan, tetapi kami tidak ingin peradaban seperti itu di sini. Kami tidak akan meminjam satu sen pun lagi dari Anda. Tidak masalah uang baik atapun tidak baik, kami tidak ingin lagi bertransaksi denganmu.”

“Bapak-bapak, saya benar-benar kecewa dengan keputusan kalian. Tetapi bila kalian mengingkari perjanjian ini, ingat, saya punya tanda tangan kalian. Bayar saya semuanya – pokok pinjaman dan bunga.”

“Tetapi itu mustahil, Pak. Kalaupun kami mengembalikan semua uang yang ada di pulau ini, kami masih tidak bisa melunasinya.”

“Saya tidak bisa membantu. Kalian sudah menandatangani perjanjian ini sebelumnya, bukan?”

“Berdasarkan isi kontrak, dengan demikian saya berhak menyita semua properti kalian. Kalian harus mentaati apapun yang saya katakan sekarang. Kalian akan terus mengeksploitasi pulau ini, dan terus melayani saya. Sekarang kalian keluar! Dan tunggu perintah dari saya besok.”

15. Mengendalikan Media

Oliver tahu pasti siapa yang mengendalikan uang, dialah yang mengendalikan bangsa. Tetapi dia juga sadar, untuk mempertahankan kekuasaan, sangat penting untuk mempertahankan agar masyarakat tetap bodoh, dan terus mengalihkan perhatian masyarakat ke hal yang lain.

Oliver mengamati bahwa dari 5 orang itu, 2 termasuk konservatif dan 3 adalah liberal.

Harry, yang termasuk netral di antara mereka berlima, menyadari bahwa mereka semua memiliki kebutuhan dan aspirasi yang sama, menyarankan agar dibentuk sebuah perserikatan bersama, untuk memberikan tekanan kepada penguasa. Serikat semacam ini, tentu saja tidak diizinkan oleh Oliver. Ini akan berarti akhir dari kekuasaannya. Tidak ada diktator dan ahli finansial manapun yang sanggup menghadapi masyarakat yang bersatu, masyarakat yang terdidik.

Dan dengan demikian, Oliver pun mulai menciptakan perpecahan di antara mereka. Dia membiayai dua jenis Koran. “The Sun” untuk para liberal, dan “The Star” untuk para konservatif.


Topik umum “The Sun” adalah: Penderitaan terjadi karena kaum pengkhianat konservatif telah menjual kepentingan bersama kepada perusahaan besar. Dan topik umum “The Star” adalah: Hancurnya negara, bisnis pada umumnya, dan hutang publik adalah karena tanggung jawab para liberal.

16. Sebuah Harta Terapung

Suatu hari, Tom, saat berada di pantai, menemukan sebuah perahu kosong yang terapung di tepian.


Di dalamnya, terdapat sebuah naskah yang masih dalam kondisi baik, “Tahun Pertama Kredit Sosial.”

Dia membacanya dengan teliti, dan akhirnya dengan bahagia berkata, “Inilah yang kita cari! Seharusnya kita memahami hal ini sebelumnya.”

“Nilai uang datang bukan dari emas, tetapi dari produk di mana uang itu bisa digunakan untuk membeli.”

Sederhananya, uang adalah unit akuntansi, berpindah-pindah mengikuti pembelian dan penjualan. Total uang tergantung total produksi.

Setiap saat produksi meningkat, unit uang pun ikut meningkat. Tidak diperlukan bunga saat uang diciptakan. Kemajuan dinilai bukan dari naiknya hutang publik, tetapi dari dividen yang diciptakan oleh masing-masing individual. Harga barang adalah disesuaikan dengan daya beli dari koefisien harga. Kredit sosial.

Tom berlari dengan cepat, tak sabar untuk menemui teman-temannya.

17. Uang – Akuntansi Dasar

Tom mengajarkan kepada teman-temannya apa yang barusan dikirim oleh Tuhan kepada mereka, kredit sosial.

“Inilah yang kita perlukan, tanpa si bankir dan emasnya, tanpa perlu untuk melibatkan diri dalam hutang”

“Saya akan membuka masing-masing sebuah account atas nama kalian semua. Di sisi kanan kolom adalah kredit yang meningkatkan nilai account Anda, dan di sisi kiri adalah debit yang mengurangi nilai account Anda.”

“Setiap orang membutuhkan $200 untuk memulai. Tak masalah. Kita menulis $200 di sisi kredit di buku masing-masing.”


Frank membeli dari Paul sebanyak $10. Kita mengurangi $10 dari Frank, dan menambah $10 ke Paul.

Jim membeli dari Paul sebanyak $8. Kita mengurangi $8 dari Jim, dan menambah $8 ke Paul.

Paul membeli dari Frank sebanyak $15. Kita mengurangi $15 dari Paul, dan menambah $15 ke Frank.

dst... sama seperti cara uang berpindah tangan sebelumnya.

Bila seseorang membutuhkan uang untuk meningkatkan produksinya, kita menerbitkan kredit yang diperlukan kepadanya. Setelah dia menjual produk-produknya, dia mengembalikan uang itu ke dana kredit. Demikian juga dengan pekerjaan umum, dibiayai oleh kredit baru.

Dengan demikian, secara periodik nilai di account masing-masing orang akan meningkat, tetapi tanpa mengambil nilai kredit dari orang yang lain. Uang, dalam cara ini, adalah pelayan manusia, bukan sebaliknya. Inilah dividen nasional.

18. Bankir Yang Patah Hati

Komunitas ini sekarang menjadi anggota kredit sosial. Hari berikutnya, Oliver menerima selembar surat dari mereka berlima:

“Bapak tersayang! Anda telah mendorong kami ke dalam lembah hutang dan mengeksploitasi kami. Kami tidak membutuhkan Anda lagi dalam sistem keuangan kami. Mulai sekarang, kami akan menerbitkan uang kami sendiri, tanpa emas, tanpa hutang, dan tanpa pencuri. Kami akan mendirikan sistem kredit sosial di pulau ini. Dividen nasional akan menggantikan hutang nasional.

“Kalau Anda memaksa untuk dibayarkan kembali, kami akan membayar Anda semua uang yang Anda berikan kepada kami, tidak satu sen lebih dari itu. Anda tidak bisa mengklaim uang yang tidak Anda ciptakan.”

Oliver putus asa. Kerajaannya mulai goyah. Impiannya pudar. Apa yang bisa dia lakukan? Segala argumen adalah percuma. Mereka berlima sudah memiliki kredit sosial. Uang dan kredit bukan lagi hal yang misterius bagi mereka berlima, sama seperti Oliver.


“Oh Tuhan, orang-orang ini sudah menang lewat kredit sosial. Apakah saya sebaiknya meminta maaf kepada mereka? Ikut dalam sistem mereka? Tidak, tidak boleh! Lebih baik saya menyingkir dan menjaga jarak dulu dengan mereka!”

19. Kebohongan Yang Terbongkar

Untuk melindungi klaim di masa mendatang oleh Oliver, kelima orang ini memutuskan bahwa Oliver harus menandatangani dokumen bahwa dia telah mengambil kembali semua yang dia miliki sejak dia datang ke pulau ini.

Maka mereka pun melakukan inventori: perahu, dayung, mesin cetak, dan tentu saja emasnya.

Oliver harus memberitahukan di mana dia mengubur emasnya. Kemudian mereka pun pergi menggalinya, tanpa perasaan respek yang berlebihan mengenai apa yang sedang mereka cari. Kredit sosial telah membuat mereka memandang rendah emas.


Mereka mengangkat tong yang berisi emas tersebut. Betapa terkejutnya mereka, emas yang diklaim Oliver ternyata hanyalah berisi batu. Batu!! Mereka telah diperdayai Oliver selama ini.

“Kita telah mengadaikan semua harta kita demi mendapatkan beberapa lembar uang kertas yang dijamin oleh batu! Ini perampokan, pembohongan!”

“Hampir saja kita memarahi dan membenci satu sama lain demi kebohongan ini. Dasar setan.”

Frank yang marah besar pun mengambil kapaknya, dan si bankir pun melarikan diri menuju hutan.

20. Selamat Tinggal Kepada Pulau

Oliver kemudian menghilang.

Tak lama kemudian, sebuah kapal melewati pulau mereka, dan melihat kelima orang ini. Mereka pun mengikuti kapal ini menuju ke tujuan kapal, Amerika Serikat.


Mereka membawa bersama mereka naskah kredit sosial mereka, yang menyelamatkan mereka dari si ahli finansial licik, Oliver, dan mereka pun berjanji akan berusaha menghubungi managemen yang menulis naskah ini begitu mereka sampai ke Amerika. Mereka sudah bertekad untuk menjadi juru bicara sistem ini.
***"Orang kaya berkuasa atas orang miskin.
Orang yang berhutang adalah budak dari yang menghutangi."
- Amsal 22 : 7 -


http://pohonbodhi.blogspot.com/2009/01/mitos-uang.html

Minggu, 29 Juli 2012

Kisah Si Pahit Lidah Mengutuk Pengantin Jadi Batu





  • detail berita



Senin, 25 Juni 2012

Kisah Seorang Tukang Bakso



Quote:



Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai.. Hujan rintik-rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor….. terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak-anak, siapa yang mau bakso?

“Mauuuuuuuuu..”
, secara serempak dan kompak anak-anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya.

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang-uang itu pisahkan? Barangkali ada tujuan?”

“Iya pak, memang sengaja saya memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain / amal ibadah, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman seorang muslim”.


“Maksudnya…?”
, saya melanjutkan bertanya.

“Iya Pak, kan agama dan islam menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Sengaja saya membagi 3 tempat, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari untuk keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq /sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar, Maka kami sepakat dengan istri bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji.. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan ibadah haji."


Hatiku sangat… sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…? termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…?

Ia menjawab, “Itulah sebabnya Pak, justru kami malu kepada Tuhan kalau bicara soal Rezeki karena kami sudah diberi Rizky. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat..?

Menurut saya definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri ebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita kok."


“Masya Allah… sebuah jawaban dari seorang tukang bakso”.

Sahabat…..

Cerita perjalanan spiritual ini sangat sederhana dan jadi inspirasi. Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Amien……..


Dalam hadits Qudsi,
“Sesungguhnya Allah berfirman: Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku dan Aku akan senantiasa menyertainya apabila berdoa kepada-Ku” (HR. Bukhari Muslim)

Selasa, 19 Juni 2012

Tragis! Seorang Perempuan Meninggal 90 Menit Sebelum Menikah



 Jemma Webb bersama Alex kekasihnya saat bertunangan (sumber: The Sun)
Kisah inspiratif perempuan penderita kanker.
Manusia memiliki rencana tapi Tuhan pula yang memutuskan. Perempuan bernama Jemma Webb meninggal dunia 90 menit sebelum melangsungkan pernikahannya.


Perempuan tersebut bernama Jemma Webb. Ia berencana menikah dengan tunangannya, Sabtu lalu sekitar pukul 16:30 waktu setempat namun dia meninggal pada pukul 15.00. Webb meninggal di usianya yang baru menginjak 32 tahun. Ia sudah dimakamkan pada Selasa (27/3).

Pernikahan mereka sebenarnya akan dilangsungkan April mendatang, namun lantaran kondisi Webb yang sudah mulai memburuk akibat kanker ovarium yang dideritanya, pernikahan itu pun diputuskan untuk digelar sesegera mungkin.

Saat memberikan sambutan untuk mengantarkan jenazah tunangannya itu, hati Alex merasa sedih. Namun ia merasa sang kekasih banyak mengilhami banyak perempuan untuk melawan kanker ovarium. "Sebenarnya hari itu adalah hari kebahagiaan kami," ujar Alex. "Di jam 14.00 kondisinya mendadak semakin buruk dan tidak berapa lama kemudian dia sudah pergi," imbuh Alex.

"Dia selalu optimis dapat mengalahkan penyakitnya dan dia katakan kepada setiap orang yang mengalaminya untuk memotivasi mereka," tutur Alex. "Jemma mungkin memiliki kanker namun semua orang kagum dengan apa yang dilakukannya untuk melawan penyakitnya itu," imbuh Alex.

Jemma Webb pertama kali mengalami gejala kanker pada tahun 2008 dan mulai menjalani kemoterapi pada Februari 2010. Dia bekerja dengan Alex di EDF Energy di Exter dan menjadi dekat hanya sembilan bulan sebelum kematian Jemma.

Alex sendiri tidak mengetahui jika perempuan pujaan hatinya itu menderita kanker saat awal-awal perkenalan. "Saya tidak tahu kalau dia sakit," ujarnya.

"Kami menjalani hubungan yang normal seperti orang-orang kebanyakan, tapi dua bulan kemudian kanker langsung menyebar ke hati dan paru-parunya dan aku harus tetap berada disampingnya, karena saya mencintainya" ujar Alex.

Bulan Januari 2012 Alex mulai merencanakan untuk membuat acara pernikahan, namun ia baru mendapatkan jadwal menikah 18 April di Colehayes Park, sebuah mansion Grade II Georgia  di Dartmoor National Park.

Namun tanggal 16 Maret, pasangan ini memutuskan untuk memajukan tanggal pernikahan karena kesehatan Jemma semakin memburuk. Mereka mengatur izin khusus untuk mendaftarkan pernikahan mereka dengan sebuah upacara yang direncanakan berlangsung pukul 16.30 pada tanggal 17 Maret. Namun Jemma meninggal pada pukul 15.00 sore, disamping Alex dan keluarganya.

Janet, ibunda Jemma menjelaskan, jika putrinya itu tergabung dalam yayasan Eve Appeal untuk memerangi kanker dengan penelitiannya. Jemma juga berusaha keras mendapatkan uang untuk yayasan tersebut demi penelitian terhadap penyakit kanker. "Dia sangat inspiratif. Dia selalu berpikiran seorlah-olah esok akan menjadi lebih baik," ujar Janet.

"Dia selalu mengatakan kepada pengidap kanker yang sudah menyerah agar selalu bersemangat menjalani hidup dan tidak menyerah dengan penyakit tersebut," imbuhnya.

Dalam perjalanan kampanye penyakit kanker, Jemma juga berusaha menyampaikan pesan ke perempuan muda agar mengerti tentang bahaya kanker ovarium yang disebut-sebut dengan juliukan 'silent killer'.

Jemma telah membuktikan menjadi inspirasi bagi para perempuan pengidap kanker. Banyak pujian terhadap dirinya.

Liz Engel, dari yayasan Eve Appeal mengisahkan tentang pertemuan pertamanya dengan Jemma yang berkesan. "Saya pertama kali berkomunikasi dengan Jemma tahun 2009 ketika ia menulis kepada saya tentang penyakitnya dan khawatir bahwa sebagian besar orang ia tahu tidak menyadari risiko atau gejala yang berhubungan dengan kanker ovarium ," ujarnya.

"Meskipun hidup dengan bayang-bayang penyakit kanker, ia berusaha untuk membatu kami memberitahukan kepada orang lain terutama perempuan muda tentang bahaya kanker ovarium," terangnya. "Saya senang sekali bertemu dengan Jemma karena selalu tampak gembira," imbuh Liz.

 http://www.beritasatu.com

Senin, 30 Januari 2012

Kisah Sedih Dari Sejarah Kelam Lorong Bawah Tanah Cu Chi, Vietnam



Terowongan bawah tanah di desa Cu Chi kini lebih dikenal sebgai tempat wisata sejarah yang menarik dan menantang. Namun, lorong bawah tanah yang menjadi basis perjuangan milisi Vietcong dalam perang melawan Amerika Serikat (1959-1975) menyimpan sejumlah cerita kelam.


"Banyak turis yang lebih mengagumi kisah heroik para pejuang Vietcong bersama dengan pasukan Vietnam dalam berperang melawan Prancis dan Amerika yang membantu Vietnam Selatan. Namun, ada sejumlah kenangan pahit dan penderitaan yang dirasakan sekitar 10 ribu pejuang dan warga yang harus berpuluh tahun tinggal di lorong sempit dan gelap," kata Nhi Nguyen, seorang pemandu wisata di Kota Ho Chi Minh.


Satu kisah yang menyayat adalah pengorbanan seorang ibu bermarga Le yang terpaksa membunuh seorang anaknya yang baru lahir demi menyelamatkan nasib banyak orang di lorong bawah tanah. Nhi tidak tahu persis kapan kisah ini terjadi, tetapi peristiwa itu berlangsung saat Vietnam berperang melawan Amerika.


"Zaman perang, pemerintah meminta perempuan tidak berhubungan intim dengan pasangannya selama tinggal di terowongan. Namun, seorang perempuan simpatisan Vietcong waktu itu ternyata sudah mengandung," kata Nhi saat mengantar para turis asal Indonesia dari Kota Ho Chi Minh (populer disebut Saigon) menuju terowongan di desa Cu Chi, yang memakan waktu tempuh lebih dari dua jam.

"Ibu itu terpaksa melahirkan di ruang bawah tanah. Namun, selayaknya bayi yang baru lahir, anak malang itu menangis kencang. Ini sangat berbahaya," kata Nhi.

"Padahal tangis bayi itu bisa terdengar di atas permukaan tanah. Ini berisiko membuat pasukan Amerika mengetahui dan menyerang terowongan," lanjut guide yang cukup lancar berbahasa Indonesia itu.

Maka tidak ada cara lain bagi Ibu tersebut untuk menghentikan tangis anaknya selain membunuhnya. "Hidung bayi itu terus dia bekap sampai putranya tak bergerak lagi," ujar Nhi.

Bagi para komandan dan pejuang Vietcong, langkah ibu Le merupakan tindakan heroik karena bisa menyelamatkan banyak jiwa dari serangan bom artileri dan pesawat tempur Amerika ke terowongan Cu Chi. Namun, perempuan itu menjadi sangat terpukul dan akibatnya fatal.

"Dia merasa sangat kehilangan atas kepergian putranya yang terpaksa dibunuh. Maka, setelah Vietnam bersatu dan merdeka pada 1975, ibu itu jiwanya terganggu lalu bunuh diri," kata Nhi yang terbawa oleh kisah itu hingga sempat berurai air mata.

Bosnya, Hung Tran, mengungkapkan bahwa kisah itu kini selalu diutarakan para pemandu wisata setiap kali mereka mengantar para turis ke terowongan Cu Chi.


"Masih banyak lagi kisah yang menggambarkan pengorbanan para warga bawah tanah. Banyak di antara mereka yang mati akibat sanitasi buruk dan wabah penyakit. Belum lagi, terkena gigitan binatang dan serangga beracun yang hidup di bawah tanah," kata Hung.

Selain itu, para warga juga terpaksa menggali terowongan baru yang lebih dalam untuk mencari sumber mata air. "Tindakan itu terpaksa mereka lakukan setelah Amerika merusak sungai Saigon dengan bom Napalm yang mencemari air," kata Hung.

sumber