Senin, 26 Maret 2012

Terapi Oksigen, Pemusnah Virus, Bakteri, dan Kanker


Artikel berikut merupakan ringkasan karya Ed McCabe yang lebih luas. Buku pertamanya yang diterbitkan sendiri, “Oxygen Therapies, A New Way of Approaching Disease” yang laris, telah terjual lebih dari 250.000 kopi, dari mulut ke mulut. Dia juga telah tampil dalam 2000 siaran TV, radio, dan seminar.
Anda bisa membaca artikel ini di buku “Suppressed Inventions & Other Discoveries” (terjemahan Indonesia) karya Jonathan Eisen.
Dari artikel ini Anda akan mendapati keefektifan terapi oksigen dalam membunuh berbagai mikroba termasuk virus, bakteri, dan fungi yang diasosiasikan dengan HIV/AIDS. Artikel ini akan membeberkan rahasia lainnya bagaimana bisa sembuh dari AIDS tanpa memakai obat kimia ARV. Tidak hanya masalah mikroba, terapi oksigen juga akan meningkatkan daya penyembuh tubuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit termasuk kanker.
.
Terapi Oksigen, Pemusnah Virus
Oleh: Ed McCabe
Ada cara yang belum terlalu dikenal tetapi sangat sederhana untuk mengobati hampir seluruh penyakit. Demikian sederhananya sehingga cara itu menggelitik pikiran kita. Tidak seperti sel sehat manusia yang menyukai oksigen, sebagian besar bakteri dan virus primitif, termasuk HIV dan lainnya yang ditemukan pada kanker, AIDS, Ebola, bakteri pemakan daging, kelelahan yang kronis, tuberculosis, rematik, dan sederet penyakit lain, seperti kebanyakan kehidupan lebih rendah mulai dari virus dan bakteri, tidak tahan terhadap oksigen. Bakteri dan virus hampir seluruhnya anaerobic. “Anaerobic” berarti mikroba ini tidak bisa hidup dalam oksigen.
Apa yang akan terjadi pada virus dan bakteri anaerobic primitif yang menyebabkan penyakit bila mereka sepenuhnya dikelilingi oleh oksigen murni yang sangat energik untuk waktu yang lama? Bagaimana jika bentuk khusus oksigen (O2) ini, atau bentuk medisnya yang lebih tinggi yang disebut “ozon” (O3), dalam jumlah cukup, secara perlahan dan hati-hati diperkenalkan secara langsung ke dalam tubuh hari demi hari, setiap hari, selama beberapa bulan, dengan metode konsentrasi tinggi yang biasanya melewati paru-paru, dan memenuhi setiap sel tubuh dengan oksigen? Semua kuman dan mikroba yang terkait dengan penyakit atau penyebab penyakit yang tidak dapat hidup dalam oksigen, juga tidak hidup dalam jaringan dan cairan tubuh beroksigen. Jadi, betapa sederhana bukan? Sungguh mengherankan, Anda tidak pernah diberitahu soal ini.
Apa yang akan terjadi pada HIV dalam tubuh Anda, jika virus itu secara terus – menerus dikelilingi oleh oksigen, atau bentuknya yang lebih tinggi, ozon? Simak The Journal of The American Society of Hematology, edisi 11 Oktober 1991 dalam artikelnya, “Inactivation of HIV type 1 by Ozone in vitro” (halaman 1881): “Ozon, bentuk oksigen yang lebih tinggi, melemahkan aktivitas virus HIV sebanyak 97-100%, dan tak berbahaya bagi sel normal, jika digunakan secara tepat.” Apa yang sekarang bisa diperbuat oleh obat-obatan AIDS yang diresepkan secara berlebihan jika dibandingkan dengan klaim ini dalam hal efektifitas dan keamanannya?
Saya baru saja berbincang via telepon dengan salah seorang penderita dari sederet penderita AIDS yang gagal menjalani pengobatan beracun, dan pada akhirnya mengonsumsi ozon. Secara tipikal, organ hatinya telah rusak sebelum ia mengonsumsi ozon. Kini, ia rela mencari pilihan lain (jika mereka segera mencarinya). Tetapi sayangnya, penyangkalan dan membiarkan orang lain (dokter) bertanggung jawab bagi kesejahteraan Anda pribadi, telah berakar kuat dalam masyarakat kita. Ozon tidak dikenal di negeri ini oleh Anda dan dokter Anda, disebabkan oleh pengaruh perusahaan obat-obatan yang menguasai sistem perawatan kesehatan kita dan media. Mereka bukanlah teman Anda. Ozonlah teman Anda. Dalam bahasa Yunani, ozon diterjemahkan sebagai “nafas Tuhan”. Jutaan dosis ozon telah diberikan oleh RIBUAN dokter di Eropa selama 50 tahun lalu dengan sangat aman. Mengapa penggunaannya tidak diajarkan di sekolah kedokteran di Amerika Serikat ini?
Kelima puluh atau lebih terapi oksigen memiliki metode tindakan yang sama. Hal penting dalam terapi oksigen adalah selalu membanjiri tubuh secara perlahan dan terus meningkat dengan atom oksigen tunggal alam. Oksigen atom tunggal dan produknya adalah oxidizer (pembakar) yang penuh energi – mereka “membakar” atau mengoksidasi produk ampas penyebab penyakit, racun dan polusi lain, serta mengeluarkannya dari tubuh.
Jika tubuh Anda tidak mengeluarkan sendiri racun dengan efisiensi 100%, maka sebagian ampas masih akan tetap tertinggal di dalam tubuh. Setelah beberapa lama, ia akan menumpuk di dalam tubuh Anda, menyediakan tempat bagi berkembangnya berbagai penyakit karena polusi di dalam yang menumpuk. Inilah sebabnya Anda akan menderita banyak penyakit seiring bertambahnya usia. Inilah penyebab utama semua penyakit. Hal ini sangat penting. Ingatlah ini karena wabah virus semakin memburuk dan udara semakin tak mampu menjaga kita. Tubuh Anda secara alamiah tak lagi memiliki atau mendapatkan cukup oksigen yang energik dan bersih. Tubuh Anda tidak lagi bisa mengeluarkan sampah yang menyebabkan penyakit.
Sebagai contoh tentang betapa bagian dalam tubuh kita semakin kotor, saya telah menyaksikan ratusan pasien AIDS, kanker, rematik, dan penyakit lain menjalani terapi oksigen atau ozon. Ketika mereka memulai, darah mereka kotor “berlumpur”, berpenyakit, dan kosong kandungan oksigen sehingga berwarna hampir HITAM. Dengan memberi oksigen/ozon medis kepada mereka setiap hari, dan setelah beberapa minggu proses detoksifikasi dengan pengoksidasian/pemberian oksigen, darah mereka mulai berubah menjadi MERAH cerah, bersih dan HIDUP sepenuhnya.
Atom oksigen juga membakar kuman (mikroba) yang tidak bisa melindungi diri mereka sendiri terhadap kekuatan oksidasinya. Tidak seperti sel manusia normal yang berkembang dan bersifat khusus, kuman, mikroba, dan semua parasit adalah bentuk kehidupan primitif yang lebih rendah. Sel tubuh yang normal melindungi diri mereka dari pembakaran atau efek pengoksidasian dari oksigen dengan menghasilkan dan menggunakan pelapis antioksidan secara alamiah sebagai pelindung mereka sendiri. Sel normal menyelimuti mereka sendiri dengan pelapisan yang mengisolasi dan melindungi, yang tidak dimiliki oleh kuman primitif dan sel kanker sekalipun. Dengan mencari apapun yang bukan merupakan sel sehat manusia yang normal untuk dibakar, oksigen adalah pemburu alamiah, musuh bakteri dan virus yang mematikan, dan juga sel yang mati, sekarat, beralih bentuk, atau berpenyakit seperti yang ditemukan pada kanker.
Secara alamiah, terapi oksigen paling baik digunakan sebagai pencegah bertipe pelengkap pemeliharan. Dengan menjaga kadar oksigen tetap tinggi di dalam cairan tubuh Anda, kita menjauhkan penyakit anaerobic untuk tidak tumbuh berkembang. Jika mereka tidak bisa hidup di dalam oksigen, mereka tidak akan hidup di dalam jaringan yang sangat beroksigen. Jika seseorang menggunakan terapi ini secara benar dan dalam jangka waktu lama, maka cairan internalnya akan kaya oksigen. Sebagian besar orang yang cukup oksigen di dalam cairan tubuhnya, yang saya kenal secara pribadi, tidak pernah mengalami flu lagi.
Ketika terapi oksigen diperlukan sebagai metode untuk mengembalikan kesehatan pasien, mereka telah sepenuhnya membuktikan diri, berdasarkan ribuan wawancara yang telah saya lakukan dengan pelaku nyata terapi ini. Tambahan pula, literatur medis dunia dipenuhi oleh bukti tentang terapi oksigen/ozon yang tidak mahal dan sangat efektif, dan oksigen telah terbukti sangat aman dan alamiah bila digunakan sesuai petunjuk. Untuk dokumen lebih lanjut, termasuk lebih dari 100 referensi medis, silahkan hubungi The Family News di Miami, telepon (305) 759-9500.
Sekitar 66 persen dari tubuh adalah air. Bagian dalam tubuh kita menyerap cairan, dan organ tubuh kita sebagian besar adalah air serta mengapung dalam lautan internal kita. Dalam dunia kedokteran, gas oksigen/ozon menjadi gelembung-gelembung sangat kecil yang secara perlahan masuk ke dalam cairan tubuh di bagian dalam diri Anda untuk memurnikannya melalui berbagai metode.
Metodenya sederhana. Dalam metode praktik dokter yang paling sederhana, para dokter menginjeksikan jumlah dan konsentrasi ozon tertentu secara perlahan ke dalam darah, ketika pasien tertelungkup. Dalam “authohemotherapy” sebagian darah dikeluarkan, diozonisasi, dan dikembalikan ke dalam tubuh. Orang Jerman menyukai metode ini, tetapi menurut pengamatan saya, metode ini tidak efisien, berbiaya tinggi, dan lambat jika dibandingkan dengan metode yang lebih baru, yang juga sangat aman ketika digunakan secara benar.
Metode sirkulasi ulang yang lebih baru ini adalah kesukaan saya. Dan menurut semua wawancara yang telah saya lakukan, ini adalah yang paling efektif. Dengan menerapkan metode ini, darah pasien yang menderita sakit, terus-menerus disirkulasi di dalam kamar berisi ozon. Dan ampas atau sisa pathogen serta toksin yang teroksidasi disaring dan dibuang. Semua ini terjadi di luar tubuh, dan kemudian darah segar berwarna merah cherry dikembalikan ke dalam tubuh dalam waktu nyata dan terus-menerus, sebagaimana dalam sistem pemilik Medizone Inc., Polyatomic Apheresis Ltd. Cara ini, di mana sebagian besar tindakan terjadi di luar tubuh adalah cara yang terbaik. Dengan demikian, organ tubuh, seperti hati, tidak harus menanggung beban tambahan dari proses penghilangan racun dalam sistem, khususnya karena obat-obatan beracun yang diresepkan telah melemahkan atau merusak organ tubuh. Sayangnya, metode sirkulasi ulang baru ini mahal, dan saat ini hanya tersedia di luar Amerika.
Di sini, banyak pasien AIDS yang telah berhasil dan saya wawancara melaporkan bahwa dokter mereka mengarahkan mereka untuk mengkombinasikan penyuntikan, karung sauna, dan pengisapan melalui anus (rectal insufflations). Sebagian besar orang membeli generator ozon bertipe plasma dingin yang tersertifikasi dan terkait dengan benar (tidak pernah menggunakan generator pijar ultraviolet yang kekuatannya kecil) dan memasangnya untuk diisi oksigen medis murni sebagai gas yang dimasukkan dan menghasilkan konsentrasi gas oksigen/ozon sebesar 27 sampai 42 mikrogram per kubik millimeter mereka sendiri secara lokal. Mereka membeli generator ozon tingkat medis yang setara buatan Eropa “secara gelap” (black market) di Amerika karena FDA tidak akan menyetujuinya, juga disebabkan oleh politik kendali dari perusahaan obat. Orang-orang ini memberikan oksigen/ozon murni dalam jumlah dan kualitas tertentu ke dalam tubuh mereka, atau merendam sebagian besar atau beberapa tubuh mereka di dalam kantung berisi gas itu. Ingat, jangan pernah menghirup ozon berkonsentrasi tinggi, karena paru-paru kita melakukan penghilangan racun terlalu cepat dan akan mengalami edema (penimbunan cairan secara berlebihan di antara sel-sel tubuh atau di dalam berbagai rongga tubuh).
Sel paru-paru secara protektif membesar jika diberikan ozon berkonsentrasi terlalu tinggi, yaitu kadar yang ada di atas batas yang ditemukan di alam. Kemudian, mereka menggunakan gas yang dilembabkan ini untuk memasukkan ozon ke dalam tubuh mereka sendiri melalui rectal insufflations, di mana gas ozon/oksigen dengan konsentrasi, durasi, tekanan, dan volume tertentu masuk ke dalam usus kosong yang mengalirkan ozon/oksigen ke dalam darah.
Kemudian, ada metode “kantung sauna ozon”, yang memenuhi pembuluh kapiler pada kulit, atau mereka memiliki petugas yang terlatih dengan baik yang secara perlahan menyuntikkannya pada mereka, juga dalam konsentrasi dan volume tertentu. Demi keamanan, penyuntikan yang sangat lambat seperti ini harus selalu dilakukan ketika pasien berbaring tertelungkup sebelum, selama, dan setelahnya.
Sebagian orang mandi atau meminum makanan yang mengandung hydrogen peroksida yang sangat larut (yang memecah menjadi air dan melepas oksigen ke dalam darah), atau cairan dan bubuk beroksigen baru. Masing-masing metode memiliki konsentrasi, volume, durasi, dan efek tertentu, jadi bekerjasamalah dengan terapis oksigen yang terlatih dengan baik agar aman. Buku, tape, dan video saya menjelaskan semua ini secara lebih rinci.
Lebih dari delapan tahun lamanya, saya telah melihat begitu banyak orang menyembuhkan bagian tubuhnya yang terinfeksi dan masalah lain dengan menjalani terapi oksigen atau ozon. Namun, mereka terhenti pada protocol sepenuhnya, yakni: melakukannya setiap hari, biasanya terapi ke-4, dalam dosis yang benar, dan konsentrasi yang benar, serta mengombinasikannya dengan oksigen signifikan lain berbasis modalitas, pola makan yang tepat, antioksidan, mineral colloidal, dan enzim. Orang yang hanya “mencoba-coba”, atau mereka yang benar-benar tidak pernah mencobanya, merupakan segelintir orang yang bersikap negatif terhadap metode ini. Bahkan dengan adanya kelompok orang seperti itu yang berkeliaran, kini, istilah yang saya temukan – “Terapi Oksigen” – yang juga menjadi judul buku pertama saya, adalah kata domestik di antara mereka yang memiliki pengetahuan dengan baik, serta ribuan advokat kesehatan kini menggunakan terapi ini untuk mereka sendiri dan bahkan mempromosikannya. Pasti ada sesuatu pada apa yang telah saya ajarkan.
Jika Anda memutuskan untuk memulai terapi oksigen yang membahagiakan ini, ingatlah fakta berikut: menurut beberapa dari ribuan wawancara yang saya lakukan dengan orang yang telah berhasil menggunakan terapi oksigen di seluruh dunia, mereka terlebih dahulu mempelajari, memahami filsafat, dan menggunakan terapi secara penuh; dan kemudian mereka menerapkannya secara benar, terus-menerus, secara perlahan, dan dalam jangka waktu lama.
.
Di Mana Mendapatkan Terapi Oksigen/Ozon?
Seperti Anda lihat dari artikel di atas, terapi ozon juga efektif dalam membunuh bakteri, virus, dan fungi apapun, termasuk segala mikroba yang berhubungan dengan HIV/AIDS. Tidak seperti obat-obatan kimia yang selama ini tidak mampu untuk menyembuhkan secara tuntas/total, terapi oksigen merupakan pengobatan alami yang aman tanpa efek samping. Kini para penderita HIV/AIDS memiliki tambahan harapan untuk bisa sembuh secara total dari penyakit mereka.
Nah, kabar baiknya adalah Anda bisa mendapatkan terapi oksigen atau ozon ini di beberapa kota besar Indonesia. Untuk mendapatkan alamat klinik terapi ozon bisa dicari via Google Search dengan mengetikkan kata kunci “terapi ozon<spasi>nama kota besar terdekat”.
Ada juga suplemen ozon bernama Hydroxygen Plus, juga bisa dicari via Google Search dengan mengetikkan kata kunci “Hydroxygen Plus Indonesia”.
Karya lain dari Ed McCabe tentang Terapi Oksigen bisa Anda temukan di link http://www.oxygenhealth.com/
Untuk pemesanan formula, suplemen beroksigen, dan peralatan terapi oksigen dari Amerika langsung, bisa Anda temukan di link http://www.oxygenamerica.com/
Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)

Hasil Signifikan Hydroxygen Plus dalam Pengobatan HIV/AIDS


Artikel berikut menunjukkan bagaimana produk alami bernama Hydroxygen Plus dapat memiliki hasil yang signifikan untuk pengobatan AIDS yang sudah parah.
Hydroxygen Plus merupakan produk nutrisi alami unik dengan paten internasional, menggabungkan terapi oksigen dengan terapi multimineral (mengandung lebih dari 78 jenis mineral), berbagai enzim, asam amino, bioenergy, dan probiotik.
Bagi para praktisi kesehatan atau para Odha yang menemui jalan buntu dalam mencari jalan untuk menyembuhkan AIDS Stadium Lanjut, saya merekomendasikan produk ini untuk melengkapi pengobatan alami lainnya yang sudah dan sedang dijalankan.
.
Hasil Uji Klinis Hydroxygen Plus terhadap HIV/AIDS di Johannesburg, Afrika Selatan
Oleh: Ed McCabe – “Mr. Oxygen”
Dimanakan tempat yang lebih baik untuk menguji sebuah produk dengan ketat selain di Afrika? Dr. Priscilla Rowen adalah seorang dokter yang tinggal di Johannesburg, Afrika yang menjalankan praktek Naturopati khususnya dalam bidang obat-obatan Bio-oxidative seperti: ozon dan infus hidrogen peroksida. Teman oxy saya Roland Fritz yang tinggal di Johannesburg membantu saya menemukan beliau ketika saya berkata kepadanya bahwa saya sedang mencari seseorang yang dapat melakukan pengetesan atas sebuah produk di Afrika, Tempat dimana AIDS berkecamuk. Saya mengirimkan surat kepada beliau dan inilah jawabannya.
“Saya tertarik untuk melakukan percobaan dengan produk yang Anda anjurkan, Hydroxygen Plus. Saya adalah seorang anggota dari International Bio-oxidative Medicine Association yang dipelopori oleh Dr. Charles Farr, dan di tahun 1999 saya menghadiri kongres yang diadakannya di USA. Biaya menjadi masalah bagi pasien saya disini, dan saya selalu mencari terapi oral yang terjangkau.
Saya baru-baru ini dibanjiri dengan orang-orang yang saya percaya bisa menjadi subyek yang baik, dapat diandalkan dll…”
Saya (Ed McCabe) menceritakan hal ini kepada President dan Vice President Global Health Trax, Everett Hale dan Lorin Dyrr bahwa saya telah mendapatkan sebuah klinik yang melayani penderita AIDS masyarakat bawah di Afrika. Kebanyakan dari pasien mereka tidak mampu untuk membayar biaya berobat ke dokter dan ini adalah kesempatan yang baik untuk melakukan kebaikan dan mendapatkan data langsung dari lapangan mengenai kemampuan kerja Hydroxygen. Global Health Trax cukup bermurah hati dengan menyumbangkan beberapa dus produk mereka bagi proyek klinik kami disana dan berikut ini adalah hasilnya:
“Sementara dunia terpaku dengan musibah World Trade Center pada tanggal 11/9/2001, 30 juta orang di Afrika sekarat seolah-olah tidak bernilai. Masalah terbesar kami di Afrika Selatan adalah pola makan penduduk berkulit hitam. Sangatlah sulit untuk membuahkan hasil yang baik dengan pola makan tinggi roti, tepung dan Coca Cola! Syukurnya beberapa penduduk mulai mengajarkan bagaimana menanam dan menghasilkan sayur-sayuran bagi kebutuhan sendiri dan saya percaya bahwa mereka akan menjadi kelompok yang akan bertahan hidup.
Pasien AIDS saya berada dalam kondisi yang sangat baik, mereka bekerja dan sangat optimis bahwa mereka akan tetap sehat. Masalah terbesar saya adalah mengumpulkan data bagi Anda karena mereka tidak mampu untuk membayar biaya laboratorium. Namun saya dapat memberitahukan Anda kondisi seorang wanita yang berasal dari Harare, Dumi Hanyani. Hasil test PCR nya (pengetesan bagi virus AIDS) telah turun dari 87.000 di bulan November lalu menjadi 25.000 di bulan Juli tahun ini (delapan bulan.)
Bisakah saya mendapatkan beberapa Hydroxygen lagi? Saya hanya memiliki 6 botol yang tersisa; saat ini saya memiliki 10 orang pasien yang setiap orangnya menerima 2 botol per bulannya. Biarlah kita terus tetap dapat berhubungan dan atas nama pasien dan saya sendiri, saya mengucapkan terima kasih atas dukungan Anda, salam Priscilla (Dr. Priscilla Rowan)”
Di bulan Januari 2002 ia menulis kembali:
”Laporan kali ini berkaitan dengan para pasien yang telah menerima Hydroxygen dan kembali untuk pengecekan ulang selama periode Januari 2001 dan Januari 2002. Beberapa pasien telah dimonitor selama satu periode penuh sementara beberapa pasien lainnya baru bergabung dengan program ini selama 4 – 5 bulan.
Pasien yang namanya tidak dimasukkan kedalam laporan ini adalah mereka yang telah berkonsultasi dengan saya namun tidak kembali untuk pengecekan ulang sehingga saya tidak mendapatkan gambaran tentang kemajuan mereka walaupun mereka telah diberikan Hydroxygen dan jumlah mereka seluruhnya adalah delapan pasien. (Hal ini selalu menjadi masalah klasik yaitu mengumpulkan data tanpa memiliki jutaan dólar karena hasil setiap individu akan berbeda), namun inilah faktanya).
Pasien 1 – Mrs Patricia Kaliki
Usia 35 tahun, mengidap AIDS sejak 1996. Anak keduanya meninggal pada usia 5 bulan oleh karena pneumonia yang terkait dengan AIDS di tahun 1996. Saya pertama kali bertemu dengannya di tahun 1998 dan memberikannya Colloidal Silver dan sebuah suplemen oksigen. Ia juga menjalani terapi ozon dua kali. (Dua kali suntikan ozon hanya membersihkan sedikit, hanya memulai sebuah proses). Ia juga menjalani terapi yang bermacam-macam; dan masalah keuangan menjadi alasan utama mengapa ia tidak kembali melakukannya lebih sering.
Ia kembali di bulan Agustus 2001 bersama dengan suaminya yang sekarat karena AIDS dan mengalami penurunan berat badan yang drastis (Wasting syndrome), diare, dan dehidrasi. Saya berusaha untuk mengobatinya namun ia meninggal seminggu kemudian. Pada keadaan seperti ini, Mrs Kaliki dan putrinya yang berusia 8 tahun memulai penggunaan Hydroxygen. Hari ini (5 bulan berikutnya), mereka berdua dalam kondisi baik dan sehat setelah menggunakan terapi ini. Sehubungan dengan kendala keuangan, pengetesan laboratorium tidak dilakukan pada keduanya.
“Mrs Kaliki sebelumnya memiliki luka besar terbuka pada bagian tulang belakang yang secara perlahan membaik.
P.S. : Saya akan mengirimkan foto pasien apabila mereka mengunjungi saya; saat ini mereka sedang mengunjungi keluarga mereka di Zimbabwe.
Pasien 2 – Mrs Prudence Tsotesi
Ia datang ke saya di bulan Agustus 2001 setelah ditolak asuransi mencairkan polis asuransi pendidikan bagi anak laki-lakinya yang berusia 3 tahun. Ia mulai mengonsumsi Hydroxygen dan herbal lainnya yang selama ini telah di konsumsinya dengan teratur. Di bulan Desember 2001 (4 bulan berikutnya) saya melakukan test darah di laboratorium Lancet. Angka CD4 nya 1.170 dan angka CD8 941, dan hasil test PCR (Virus AIDS) tidak terdeteksi.
Saat ini kami memiliki masalah hukum yang menarik karena perusahaan asuransi menolak memberikan hasil test darah aslinya. Pertanyaan yang terangkat ke permukaan adalah apakah ia positif mengidap AIDS sejak awalnya? Ketika pertama kali saya melihatnya, ia terlihat lelah, kehilangan berat badan dan mengeluh atas napas yang pendek. Di bulan Desember ia kembali sehat dan baru saja dipromosikan ditempatnya bekerja karena hasil prestasi kerja yang baik.
Pasien 3 – Ephriam Mhalakasa.
“Usia 36 tahun. Ia telah menderita sakit sejak 1991. Ketika pertama kali saya melihatnya di bulan Juni tahun 2000, ia merupakan seorang pasien AIDS yang serius dan memiliki angka PCR 84.000. Saya memulai dengan terapi resonansi elektromagnetik, Colloidal Silver dan nutrisi lainnya. Tubuhnya merespon dengan baik. Di bulan Januari 2001, ia mulai mengonsumsi Hydroxygen. Ia bekerja sebagai seorang tukang kebun pada salah satu pasien saya dan majikannya menyediakan kebutuhannya tanpa pernah terputus. Hasil yang ia dapatkan adalah dari seseorang yang sebelumnya hanya terbaring diranjang menjadi seseorang yang mampu bekerja kasar lima setengah hari dalam 1 minggu, 8 jam sehari.
“Tahun lalu ia sama sekali tidak mengalami infeksi; satu-satunya data test darah yang kita miliki adalah di tanggal 1/8/00. Jumlah angka CD3: 1.381. CD4: 204. PCR: 39.000.” (Masalah infeksi virus didalam tubuhnya telah menurun lebih dari 50% sejak ia mengkonsumsi Hydroxygen.)
Pasien 4 – Mr. Albert Gil
Usia 30 tahun. Pasien ini diperkenalkan kepada saya melalui seorang teman yang tinggal di Cape Town. Mengidap AIDS dan mengalami seluruh gejala terkait. Ia diobati dengan berbagai nutrisi, pembersihan, dan infus hidrogen peroksida. Hasil pengetesan awal darahnya adalah sbb: CD4: 89. PCR: 50.000. Ia mulai menggunakan Hydroxygen di bulan Maret 2001 dan perkembangannya sangat baik. Secara klinis ia berada dalam kondisi sehat dan telah kembali bekerja namun saya dibingungkan oleh hasil pengetesan darah berikutnya; Hasilnya berbeda-beda yaitu mulai hasil PCR yang tidak terdeteksi sampai dengan adanya beban virus sebesar 140.000.
Saya menghubungi laboratorium yang melakukan pengetesan berulang kali, mempertanyakan validitas dari hasil pengetesan mereka. Sangatlah sulit meyakinkan seorang pasien yang secara klinis sehat untuk mengeluarkan uang sebesar R 1.400 ($123) melakukan pengetesan yang hasilnya sangat tidak konsisten (Apakah politik telah menguasai laboratorium yang seharusnya memberikan sebuah kebenaran?).
Pasien 5 – M/s Dumi Hanyani
Usia 42 tahun. Ia datang kepada saya di bulan November 2000 dan hasil test darahnya menunjukkan masalah peradangan akut di pangkal otak yang disebabkan oleh virus (Shingles) dan wabah malaria yang baru saja dialaminya semakin menjadi oleh karena kondisi AIDS yang dimilikinya. Hasil test beban virus awalnya adalah 87.800 dan sekarang telah turun menjadi 25.400 di bulan Agustus 2001 (Hanya 29 persen dari kondisi sebelumnya).
Pasien ini berubah dari seseorang yang sangat sakit, yang tadinya tidak mampu membesarkan kedua anaknya menjadi orang yang dinamis sebelum terjun ke dunia menjadi seseorang yang ingin memberitahukan dunia bahwa AIDS dapat diatasi. Ia akan kembali dari Zimbabwe dalam beberapa minggu ke depan dan saya yakin pengecekan darah berikutnya akan mendekati sempurna. – Dr. Priscilla Rowan”
Contoh darah Darkfield yang diambil dari pasien AIDS orang Afrika yang sangat parah dimana terlihat plasma berkabut serta kondisi degeneratif dari sel darah merah.
Pasien yang sama, namun dengan kondisi darah yang sehat setelah menerima pengobatan yang rutin selama 6 bulan dengan Hydroxygen Plus di Afrika.
Catatan: Produk ini diciptakan khususnya sebagai penyeimbang sistem tubuh melalui proses pembersihan (detoksifikasi) dan memberikan suplementasi nutrisi yang telah hilang. Saya (Ed McCabe) tidak sedang mengklaim atau bermaksud untuk mengklaim bahwa produk ini atau produk lainnya yang ada di dalam buku ini pasti akan membunuh virus-virus atau menyembuhkan setiap penyakit serius seperti AIDS.
Kenyataan dimana banyak orang mendapatkan hasil yang luar biasa sangatlah baik. Menurut opini profesional saya, bagi setiap penyakit serius yang disebabkan oleh virus seperti misalnya AIDS memerlukan dokter yang paling tidak terlatih dalam bidang ozon yang dapat memberikan terapi ozon atau terapi lainnya yang lebih baik. Produk ini seringkali digunakan bersamaan dengan ozon di dalam kasus-kasus serius bersamaan dengan dilakukannya pola makan khusus. Anda harus bertanya kepada diri Anda sendiri: Apakah saya dapat membunuh virus dengan menggunakan sayur-sayuran (saja)? Saya kira tidak.
dikutip dari buku karya Ed McCabe “Mr. Oxygen” : Flood Your Body with Oxygen
.
Di Mana Bisa Mendapatkan Hydroxygen Plus?
Untuk mendapatkan produk Hydroxygen Plus di Indonesia, bisa dicari via Google Search dengan mengetikkan kata kunci “Hydroxygen Plus Indonesia”.
Karya lain dari Ed McCabe tentang Terapi Oksigen bisa Anda temukan di link http://www.oxygenhealth.com/
Untuk pemesanan formula, suplemen beroksigen, dan peralatan terapi oksigen dari Amerika langsung, bisa Anda temukan di link http://www.oxygenamerica.com/
Untuk melihat artikel-artikel Indonesia lainnya yang kontroversial tentang penyembuhan AIDS, silahkan kunjungi situs www.aidsalternative.co.nr
Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)

Inspirasi Kisah Ah Long, Bocah Odha 6 Tahun yang Hidup Sendiri


Ah Long, seorang pengidap HIV berusia 6 tahun yang telah tinggal sendirian sejak ibu dan ayahnya meninggal karena AIDS pada tahun 2008 dan 2010 – kini dirawat di sebuah rumah amal untuk sementara waktu. Sebelum diperhatikan oleh pemerintah, anak kecil ini memasak, mencuci, dan belajar sendiri, dan ia juga memelihara beberapa ekor ayam.
Orang-orang disekitarnya mengucilkannya karena Ah Long diketahui dilahirkan dengan virus HIV yang mengalir di darahnya. Ah Long harus menjaga dirinya sendiri karena kebanyakan orang takut untuk mendekat. Satu-satunya sahabat sejatinya adalah anjingnya yang selalu setia menemani disampingnya.
Ah Long membuat api untuk memasak makan malamnya.

Rumahnya yang sangat sederhana.
Lagi menanam sayuran di sekitar rumahnya.

Ah Long bermain di depan rumahnya.
Ah Long belajar sendirian di kamarnya.
Ia telah tinggal di rumah orang tuanya di sebuah desa di kaki bukit Gunung Malu di Liuzhou, Provinsi Guangxi, Cina. Ah Long memiliki seorang nenek berumur 84 tahun, yang secara berkala mengunjunginya dan sering memasak untuknya. Neneknya juga menanam sayuran di dekat rumah untuk Ah Long.
Ah Long membawa kayu bakar, menuruni setapak di bukit ke rumahnya.
Mandi sendiri.
Karena kondisi penyakitnya, orang-orang disekitarnya tidak menghiraukannya. Sekolah tidak mau menerimanya, bahkan para orangtua murid sepakat akan mencelakainya apabila Ah Long muncul ke sekolah dan bermain dengan anak-anak mereka. Dokter pun tidak ingin mengobati luka-lukanya dan neneknya – satu-satunya anggota keluarganya – menolak untuk tinggal bersamanya. Bahkan Departemen Kesejahteraan setempat menolak untuk merawat anak itu. Yang menjadi pendampingnya hanyalah seekor anjing yang bernama Lao Hei.
Ah Long bermain dengan Lao Hei di depan rumah mereka.
Sahabat setia dan satu-satunya.
Bermain sendirian, tanpa teman-teman sebayanya.
Bermain sendirian.
Dan lagi-lagi hanya bermain sendirian.
Parahnya, Ah Long menerima tunjangan subsistensi bulanan dari biro sipil sebesar 70 yuan (sekitar 90 ribu rupiah), yang tentu saja tidak cukup baginya.
Sejak cerita Ah Long disorot oleh media, anak itu telah menerima perhatian yang luar biasa dari masyarakat maupun pemerintah di Cina. Awal bulan Desember 2010 lalu, rumah amal di kota Liuzhou, di mana anak itu tinggal di desa kaki bukit dari Gunung Malu, setuju untuk merawatnya. Pemerintah setempat juga akan memberikan biaya hidup sebesar 1.200 yuan (sekitar 1,5 juta rupiah) setiap tahunnya pada Ah Long dan neneknya.
Netizen yang peduli juga menyumbang 24.000 yuan (sekitar 30 juta rupiah)untuk membangun rumah baru untuk Ah Long. Salah satu dari mereka, Zhang Fei, yang mengawasi konstruksi, mengatakan bahwa rumah baru ini memiliki luas sekitar 60 meter persegi. Rumah ini memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan toilet.
Rumah baru (kiri) untuk Ah Long dibangun di sebelah rumah lama (kanan).
Sekarang, ketika Ah Long telah ‘mengungsi’ ke rumah amal, nasib rumah lamanya tidak diketahui. Tetapi kita gembira untuk mengetahui bahwa penderitaan Ah Long sebagai orang buangan yatim piatu dan orang yang dikucilkan masyarakat akhirnya akan segera berakhir. Sebuah esok yang lebih baik telah menanti!
Semoga kisah nyata Ah Long ini bisa menginspirasi Odha-Odha lainnya untuk berjuang melawan stigma dan penyakit mereka.
Link referensi:

Banyak Kondisi Non-AIDS yang Bisa Menyebabkan CD4 Rendah


Test CD4 seringkali dipakai oleh medis konvensional dalam mengukur kesehatan para Odha dengan keyakinan bahwa CD4 yang rendah HANYA ditemui di kasus HIV/AIDS. Yang sering dikabarkan oleh dunia adalah:
  1. Test CD4 digunakan sebagai tolak ukur kesehatan Odha. Makin rendah CD4 Odha, makin parahlah kondisi kesehatannya.
  2. Hasil Test CD4 rendah HANYA ada pada kasus HIV/AIDS, bukan di kasus penyakit/kondisi kesehatan lainnya.
Dalam artikel ini, saya akan membuka rahasia besar bahwa sudah ada penelitian-penelitian yang mengungkapkan fakta:
  1. Hasil Test CD4 rendah JUGA ADA pada kasus serangan jantung, pneumonia, olahraga berlebih, luka, depresi, malaria, TBC, narkoba, kehamilan, malnutrisi, isolasi sosial, dan sebagainya.
  2. Mereka yang diteliti (dengan hasil CD4 rendah) adalah orang-orang HIV-negatif.
Saya berikut contoh beberapa hasil penelitian-penelitian tersebut:
Jumlah CD4 Rendah di Ruang ICU
Di tahun 1995, Feeney dan kawan-kawan menguji jumlah CD4 pada 102 pasien di ruang ICU, dimana semuanya adalah HIV negatif. Pasien-pasien menderita 34 penyakit yang berbeda-beda, dimana yang paling umum adalah serangan jantung, pendarahan yang parah, gagal ginjal, trauma, dan penyakit paru kronis. 30% dari mereka memiliki jumlah CD4 kurang dari 300 dan 41% memiliki CD4 kurang dari 400.
Dalam studi ini ditemukan hasil yang sama pada rasio CD4/CD8, yang memberikan fakta bahwa perhitungan rasio CD4/CD8 ternyata TIDAK HANYA ada pada kasus HIV/AIDS, tapi juga ada pada kasus penyakit UMUM.
.
Jumlah CD4 Rendah pada Kasus Pneumonia, Pielonefritis, Abses, Luka Terinfeksi, Selulitis, dan Sepsis
Pada tahun 1983, sekitar satu tahun sebelum HIV pertama kali disebutkan sebagai kemungkinan penyebab AIDS, Williams dan kawan-kawan menerbitkan sebuah studi yang menunjukkan sangat kurangnya jumlah CD4 pada 146 orang dengan infeksi akut serius yang dirawat di rumah sakit mereka di New Mexico. Infeksi termasuk pneumonia, pielonefritis akut, abses, luka yang terinfeksi, selulitis, infeksi jaringan dalam, dan sepsis.
Para penulis hanya menyediakan jumlah CD4 rata-rata untuk sebagian besar pasien, kecuali untuk grafik yang memplot jumlah CD4 untuk semua 45 pasien pneumonia. Penelitian ini mengungkapkan bahwa 31 dari 45 (69%) memiliki jumlah CD4 kurang dari 500 sel/mm3, 19 dari 45 (42%) memiliki jumlah di bawah 300, 13 dari 45 (29%) memiliki jumlah di bawah 200, 6 dari 45 (13% ) memiliki 100 atau kurang, dan 2 dari 45 (4%) memiliki kurang dari 50 nilai. CD4 rata-rata untuk semua penderita pneumonia adalah 574.
.
Jumlah CD4 Rendah pada Kasus Malaria
Malaria disebabkan oleh parasit dari spesies plasmodium, dan sangat umum di Afrika dan di daerah tropis. Pada tahun 1999 diterbitkan surat mendokumentasikan turunnya jumlah CD4 pada pasien Afrika dengan malaria (Chirenda 1999). Penulis memeriksa jumlah CD4 pada 78 pasien dengan malaria yang HIV-positif, dan 19 yang HIV-negatif. Dia terkejut menemukan bahwa kasus malaria pada HIV-negatif lebih banyak memiliki jumlah CD4 sangat rendah dibanding pada kasus HIV-positif, rata-rata, dengan 8 dari 19 (42%) kasus HIV-negatif yang di bawah 200, sementara hanya 31 dari 78 (40%) kasus HIV-positif memiliki jumlah CD4 di bawah 200. Tujuh HIV-negatif kasus malaria memiliki jumlah CD4 di bawah 100. Selain itu, 6 pasien HIV-positif memiliki jumlah CD4 yang normal.
.
Jumlah CD4 Rendah pada Kasus Kehamilan Normal
Beberapa studi telah dipublikasikan mengenai jumlah CD4 selama kehamilan normal. Baru-baru ini, Burns dan kawan-kawan menerbitkan sebuah studi pada tahun 1996, di mana mereka berusaha untuk mengendalikan faktor pembaur seperti peningkatan volume darah yang biasanya terjadi pada kehamilan.
Mereka menggunakan persentase CD4 dan mendapati bahwa sel CD4 temuan mereka untuk wanita HIV-negatif ternyata konsisten dengan mayoritas penelitian sebelumnya, yang menunjukkan penurunan jumlah CD4 selama kehamilan normal (Burns et al. 1996, halaman 1465 ).
Mereka juga menemukan bahwa wanita HIV-positif mengalami penurunan lebih parah dalam perhitungan pasca-melahirkan dibandingkan dengan wanita HIV-negatif, meskipun mereka gagal untuk mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan menurunkan jumlah CD4. Ini termasuk setiap infeksi bahwa wanita mungkin pernah mengalami, efek traumatis dari operasi Cesar yang biasanya dilakukan pada wanita HIV-positif untuk mencegah penularan neonatal, atau stres psikologis berpotensi parah yang mengkhawatirkan jika bayi mereka juga akan HIV-positif, yang dapat berlangsung hingga 18 bulan
Pada tahun 1989 sebuah studi yang diterbitkan mengenai kehamilan normal, ditemukan adanya pengurangan persentase CD4 pada trimester 1 dan trimester 2, serta pengurangan rasio CD4/CD8 pada trimester 2 (Castilla et al, 1989.).
Para penulis pada studi sebelumnya melihat berbagai perubahan limfosit selama kehamilan dan menyatakan, “Dalam studi ini, variasi dalam jumlah dan proporsi CD4 + limfosit adalah perubahan yang paling sering dilaporkan (Castilla et al, 1989, halaman 104).” Persentase CD8 limfosit + ditemukan tidak berubah. Mereka juga mengklaim bahwa, “kami telah memperhitungkan semua faktor yang diketahui saat ini dapat mengubah konsentrasi subset T-sel dalam darah”(Castilla et al. 1989, halaman 104), namun pada kenyataannya mereka tidak mempertimbangkan faktor-faktor yang dijelaskan dalam makalah ini, seperti infeksi, trauma, olahraga berlebih, variasi normal sehari-hari, atau stres psikologis. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan dokter dan peneliti melakukan penelitian yang berfokus khusus pada tingkat CD4 sering tidak menyadari berapa banyak kondisi yang berbeda menyebabkan rendahnya jumlah CD4.
Ada satu studi terakhir yang perlu dipertimbangkan lagi (Sridama et al. 1982). Para peneliti ini menemukan berkurangnya jumlah CD4 mutlak, serta berkurangnya persentase CD4 + T-sel dalam 76 wanita dengan kehamilan normal. Pada trimester ketiga, wanita hamil memiliki rata-rata hanya 543 + 169 CD4 + T-sel, dibandingkan dengan 1073 + 441 pada wanita tidak hamil. Kedua angka mutlak dan persentase tetap rendah sampai beberapa bulan pasca-melahirkan, dan hasil yang sama diperoleh untuk rasio CD4/CD8 yang juga berkurang.
B-sel ditemukan meningkat yang berarti sesuai dengan peningkatan kadar antibodi yang biasanya ditemukan dalam kehamilan manusia, dan yang juga sering terlihat pada orang yang didiagnosis HIV-positif. Ini adalah satu-satunya studi pada kehamilan normal yang menyediakan data tentang jumlah CD4 mutlak, dan rata-rata 543, dengan standar deviasi dari 169, yang berarti adanya persentase besar dari wanita-wanita ini yang memiliki tingkat lebih rendah dari 500, titik di mana obat antiretroviral akan dimulai pada seseorang yang didiagnosis HIV-positif.
.
Masih Banyak Lagi Faktor Non-HIV/AIDS yang Bisa Mengurangi Jumlah CD4
Ya, benar. Masih ada banyak faktor non-HIV/AIDS yang bisa menyebabkan CD4 kita turun, dan ini tidak hanya terjadi pada para Odha, tapi juga non-Odha. Apa yang saya beberkan di atas adalah kutipan dari jurnal medis The British Medical Journal Online, September 2003, berjudul: “Low CD4 Counts: A Variety of Causes and Their Implications to a Multi-factorial Model of AIDS” oleh Matt Irwin, MD.
Referensi-referensi medis untuk artikel ini juga ada banyak, seperti yang bisa Anda lihat di bawah artikel. Jika Anda ingin mempelajari lebih mendalam tentang topik ini, saya menyarankan Anda untuk membaca artikel berbahasa Inggris di link: http://www.aliveandwell.org/html/viral_load_tcell/low_cd4.html
Anda juga bisa melihat fakta lainnya bahwa kadar kolesterol seseorang juga bisa mempengaruhi jumlah CD4 dan fakta bahwa orang-orang sehat juga bisa memiliki CD4 yang rendah. Penasaran untuk mengetahui hal-hal ini lebih dalam lagi? Silahkan Anda membaca artikel saya yang berjudul “Awas, Jangan Tertipu dengan Test CD4!”.
Mungkin Anda tidak percaya dengan apa yang kami tulis, yang sangat bertentangan dengan pandangan umum. OK, tidak apa-apa. Demi keselamatan para Odha, bagi Anda yang tidak percaya, saya menyarankan Anda untuk melakukan uji coba mandiri (jangan menunggu orang lain atau pemerintah untuk melakukannya bagi Anda), yaitu sebagai berikut:
  1. Ujilah jumlah CD4 dari minimal 10 orang sehat, misal: dokter, tabib, olahragawan, dll dimana mereka juga menjaga pola makan sehat dan kadar kolesterol yang normal. Kita lihat berapa di antara mereka yang memiliki jumlah CD4 yang rendah.
  2. Ujilah jumlah CD4 dari minimal 10 orang hamil non-Odha yang sehat. Kita lihat berapa di antara mereka yang memiliki jumlah CD4 yang rendah.
Para kaum cendikiawan atau professional kesehatan biasanya hanya melakukan uji coba CD4 pada Odha. Cobalah melakukan uji coba pada beberapa orang non-Odha dan lihat bagaimana hasilnya!
Semoga artikel ini bisa membuka mata kita semua untuk tidak memakai Test CD4 sebagai tolak ukur kesehatan para Odha.
Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)

Jika Benar HIV Tidak Ada, Mengapa Banyak Odha yang Meninggal?


Jika memang HIV itu tidak ada, mengapa banyak Odha yang meninggal dunia? Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh orang-orang yang belum memahami pandangan AIDS Denialist (golongan yang mengatakan bahwa HIV itu tidak ada dan bukan penyebab AIDS). Dan jawaban saya, serta para ahli medis holistik lainnya adalah para Odha meninggal karena:
  1. Penyakit umum yang berat, misal: pneumonia, TBC, kanker, kerusakan liver dan ginjal.
  2. Depresi berat karena stigma yang ada dan tidak tahan menanggung beban psikis menderita penyakit maut dan ‘memalukan’.
  3. Efek samping ARV yang muncul bertubi-tubi sampai pada titik tubuhnya tidak kuat lagi menahan toksisitas ARV yang menumpuk.
.
Jika Suatu Penyakit Muncul, Jangan Langsung Berpikiran ‘Parno’
Beberapa Odha yang baru percaya bahwa AIDS bisa disembuhkan tanpa ARV, saya bekali dengan pemikiran ini.
Jika ada suatu penyakit muncul, seperti misalnya flu, masuk angin, panas dalam, sakit kepala, letih lesu, dan diare, janganlah langsung punya pikiran ‘parno’ (negatif dan berlebihan) bahwa itu pasti karena HIV yang sedang aktif menyerang. Semua gejala penyakit tadi juga ada pada penyakit umum yang tidak berkaitan dengan HIV.
Saya berikan contoh: Jika Anda bekerja terlalu berat dan sedang banyak pikiran, Anda OTOMATIS akan merasa lelah dan sakit kepala. Dalam kondisi seperti inilah daya tahan tubuh Anda menurun. Jika dalam kondisi seperti itu Anda tidak segera minum air banyak dan tidak segera tidur untuk istirahat, Anda akan dengan mudah terserang penyakit, atau tertular sakit orang lain.
Apalagi di musim pancaroba, banyak orang akan lebih rentan menderita flu. Bahkan dalam kebanyakan kasus, orang yang salah makan atau makan kebanyakan juga bisa sakit perut dan diare.
Kondisi psikis yang begatif juga bisa membuat orang sakit. Contoh: Banyak para Ibu akan sakit kepala dan jatuh sakit jika terlalu khawatir memikirkan anaknya. Seorang suami yang baru kehilangan istri yang dicintainya juga bisa sakit bahkan meninggal dilanda duka yang mendalam.
Dan tentu saja, semua gejala atau sakit ini akan hilang tanpa HARUS memakai ARV, seperti misalnya: flu, masuk angin, dan sakit kepala diobati dengan obat alami, jaga pola makan sehat, dan istirahat cukup. Sakit perut dan diare akan hilang jika kita berhenti stress, diobati secara alami, dan jaga pola makan yang sehat.
Jadi ketika satu atau beberapa penyakit mulai muncul, saya menganjurkan para Odha pasien saya supaya jangan berpikiran parno, panic, dan terburu-terburu minum ARV. Saya menganjurkan mereka untuk konsumsi obat alami, jaga pola makan, dan istirahat cukup. Tepat seperti dugaan, penyakit-penyakit tersebut mulai mereda dan hilang, tanpa konsumsi ARV.
.
Jika Ada yang Meninggal Jangan Langsung Berpikir Karena Serangan HIV
Banyak penyakit UMUM yang bisa menurunkan daya tahan tubuh dan pada akhirnya menyebabkan kematian. Contoh: kanker, TBC dan pneumonia.
Dalam artikel yang dikutip dari dr. Mercola,”Efek Samping Dari Obat AIDS ‘Tidak Berbeda’ dari AIDS Itu Sendiri”, telah menunjukkan kepada kita bahwa ARV itulah yang menjadi AIDS YANG SEBENARNYA! Sebagai contoh efek samping dari AZT (merek Retrovir atau Zidovudine) adalah: Asthenia, sakit kepala, rasa tidak enak badan, Anorexia, sembelit, mual, muntah, sakit perut, arthralgia, meriang, maag, letih lesu, insomnia, otot sakit, neuropathy, hyperbilirubinemia, hepatomegaly, stomatitis, splenomegaly, batuk, gatal-gatal pada kulit, infeksi telinga, lymphadenopathy, anemia, serangan jantung, edema, hematuria, gugup, berat badan turun, sakit punggung, sakit dada, flu, cardiomyopathy, syncope, gynecomastia, mulut kering, dysphagia, perut kembung, Aplastic anemia, hemolytic anemia, leukopenia, lymphadenopathy, pancytopenia, hepatitis, sakit kuning, pancreatitis, gemetar, rasa cemas, depresi, pusing, kejang, vertigo, rhinitis, sinusitis, pruritus, Stevens-Johnson syndrome, mudah berkeringat, urticaria, amblyopia, hilang pendengaran, photophobia, sering kencing, dan lain-lain (masih ada yang lainnya?!).
Dari semua efek samping yang tercantum, itu semua adalah gejala AIDS, karena ARV merusak ginjal, hati, syaraf dan organ pencernaan. Jadi Odha akan benar-benar menderita AIDS pada saat mengkonsumsi ARV. Dan jika dikonsumsi rutin sampai SEUMUR HIDUP, efek samping yang dirasakan makin meningkat. Dapat dibayangkan apa yang terjadi jika tubuh Odha tidak lagi kuat dengan toksisitas ARV yang menumpuk di dalam tubuhnya. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan kematian.
.
Ada Odha yang 10 Tahun Konsumsi ARV tapi Sehat-sehat Saja
Beberapa kali saya mendengar sanggahan, bahwa ada Odha yang lama mengonsumsi ARV bahkan 10 tahun, tapi dia sehat-sehat saja dan tidak terlihat gejala efek samping. Ini seakan-akan menjadi bukti bahwa yang membuat para Odha ini tetap sehat adalah ARV. Memang kasus-kasus seperti ini benar adanya dan tidak dibuat-buat oleh para Odha pro-ARV. Namun, perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:
1. Apa KEBANYAKAN Odha menunjukkan efek positif seperti ini?
Tiap orang memiliki metabolisme yang berbeda-beda, jadi jenis dan tingkat efek samping yang muncul pada Odha akan berbeda-beda. Pada kenyataannya, lebih banyak Odha pro-ARV yang memperlihatkan efek samping daripada yang tidak ada efek samping. Kasus-kasus unik seperti ini boleh dibilang jarang terjadi.
2. Sampai berapa lama tubuhnya bisa memetabolisme dengan baik ARV yang keras?
Kemampuan tubuh dalam menetralisir efek samping ARV PASTI terbatas. Obat kimia itu mengobati, tapi juga merusak secara ‘slow but sure’ (pelan tapi pasti). Jadi yang terjadi bukanlah tidak ada efek samping, tapi sebenarnya BELUM ada efek samping.
3. Apa dia benar-benar SEMBUH TOTAL dengan konsumsi ARV?
Jawabannya sudah tentu TIDAK PERNAH sembuh. Konsumsi ARV tidaklah menyembuhkan. Selama Odha tidak melepaskan ARV, selama itu pula ia akan tetap diperbudak dengan jadwal ketat konsumsi ARV, mengalami efek samping, serta tetap mendapat cap sebagai Odha.
Anda mungkin sekarang bertanya-tanya, jika tanpa ARV, bagaimana caranya para Odha bisa sembuh? Jawabannya adalah:
  1. Mengedukasi diri sendiri tentang HIV/AIDS ‘yang sebenarnya’ dari jurnal dan tulisan-tulisan medis holistik.
  2. Menjaga pola makan dan gaya hidup yang sehat.
  3. Mengobati secara alami via nutrisi, suplemen, herbal, atau terapi lainnya.
Artikel ini tidak saya tulis untuk MEMAKSA para Odha berhenti ARV. Saya menulisnya untuk memberikan pencerahan, sehingga para Odha jadi lebih waspada, dan bisa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan pengobatan.
Silahkan para Odha memilih, mau tetap mengonsumsi ARV tapi tidak pernah sembuh, atau menjalani pengobatan alami sampai akhirnya sembuh? Nasib para Odha akan ditentukan oleh pilihan sederhana ini.
Aidsalternative, Dt. Awan (Andreas Hermawan)

Seri Berpikir Holistik: Apa DNA dan Kesehatan Bisa Dipengaruhi Lewat Pikiran dan Perasaan?

Seri Berpikir Holistik: Apa DNA dan Kesehatan Bisa Dipengaruhi Lewat Pikiran dan Perasaan?


Sains konvensional menganggap bahwa DNA tidak bisa diubah. Namun dalam sains medis holistik yang mempelajari sains fisika dan biologi quantum, DNA bisa diubah melalui apa yang kita pikirkan dan rasakan.
HeartMath Institute, pada tahun 1992 hingga tahun 1995, menyelidiki akibat dari perasaan yang murni terhadap DNA. Para ilmuwan, Glen Rein dan Rollin McCraty, bermaksud mengadakan penyelidikan pada DNA manusia. Untuk percobaan ini, pertama-tama DNA dimasukkan ke dalam gelas yang sudah terisolasi, setelah itu diletakkan dekat orang-orang dengan emosi yang sangat kuat.
Untuk melakukan hal ini, para peserta tes tersebut menggunakan teknik-teknik spiritual dan emosional yang berbeda-beda, seperti ketenangan pikiran, konsentrasi pada perasaan positif, dan fokus pada hati (perasaan).
Hasilnya sungguh-sungguh mengesankan dan tidak bisa diabaikan. Meskipun para ilmuwan meragukan hal-hal tersebut akan berpengaruh pada DNA, namun mereka bisa mengamati sesuatu, yang menurut hokum fisika konvensional adalah tidak mungkin terjadi.
Pada saat peserta tes memancarkan perasaan mereka yang sangat kuat, terlihat reaksi elektrik yang sangat jelas. Para peserta eksperimen tersebut mempengaruhi molekul DNA di dalam gelas hanya dengan kekuatan emosi mereka.
.
Perasaan Manusia Mempengaruhi Bentuk DNA
Untuk daya nalar kita, hal ini mungkin sangat sulit dimengerti. Menurut ilmu pengetahuan konvensional yang kita pelajari, DNA tidak bisa berubah. Kita dilahirkan membawa DNA dan tidak ada yang bisa mempengaruhi atau mengubahnya, baik di dalam tubuh maupun dari luar tubuh kita. Dan sekarang, harus kita sadari bahwa DNA ternyata dapat berubah dan bahkan bereaksi terhadap getaran energy yang sangat halus! Dalam rentetan percobaannya, HeartMath Institute melangkah lebih jauh dan meyelidiki reaksi dari plasenta DNA manusia. Ini adalah bentuk yang paling murni dari sebuah DNA.
Untuk itu telah disiapkan 28 buah plasenta DNA di dalam tabung-tabung gelas. Setiap gelas dibagikan kepada 28 orang peneliti yang sudah terlatih untuk mengembangkan kekuatan emosi (perasaan) mereka.
Di dalam percobaan ini telah telah dibuktikan juga bahwa DNA tersebut berubah bentuk sesuai dengan perasaan para peneliti tadi. Jika para peneliti merasakan pengakuan (dihargai) DNA akan saling membuka dan rangkaian DNA ini akan menjadi semakin panjang. Sebaliknya, jika para peneliti merasakan kekecewaan, takut, marah, atau stres, maka DNA akan menjadi lebih pendek. Bahkan DNA juga memutuskan kode-kodenya! DNA bereaksi pada perasaan-perasaan negatif dengan cara menciutkan (mengerutkan) diri.
Kini, kita mengerti mengapa perasaan-perasaan negatif membuat kita merasa tertutup terhadap dunia luar. Jika merasa marah atau sedang murung, maka kita akan merasa terisolasi dari kehidupan ini. Memang kenyataannya begitu. Namun, kita sendirilah yang menyebabkan hal itu.
Pemutusan kode DNA ini dapat dihentikan, jika para peneliti tadi kembali merasakan kegembiraan, dihargai, rasa syukur, dan kasih saying. Dalam hal ini, kode-kode DNA akan kembali “dinyalakan”, seperti menyalakan sebuah lampu.
Perubahan yang diukur pada DNA ternyata sangat besar dan luas sekali dibandingkan dengan yang, misalnya, disebabkan oleh elektromagnet.
Hasil dari ekprerimen ini dipublikasikan dalam sebuah artikel berjudul: “Local and Non Local Effects of Coherent Heart Frequencies on Conformational Changes of DNA.”
.
Pengaruh Perasaan pada Kekebalan Odha
Pada akhirnya, percobaan ini diteruskan pada pasien yang didagnosa positif HIV (Odha= Orang dengan HIV/AIDS) dan ditemukan bahwa perasaan dihargai, rasa syukur, berterima kasih, dan cinta mengembangkan kekuatan pertahanan tubuh mereka 300.000 kali lebih besar dibandingkan jika mereka sama sekali tidak merasakan hal tersebut.
Dari situ diduga bahwa di sinilah letak kunci dari kesembuhan mereka. Karena itu, mereka dianjurkan untuk selalu melatih rasa gembira, kasih sayang, rasa syukur, dan dihargai, karena melalui perasaan-perasaan itulah kita dapat menaikkan daya tahan tubuh kita sebesar 300.000 kali.
Kita bisa terhindar dari beberapa penyakit jika selalu merasakan hal-hal positif, karena perasaan-perasaan tersebut dapat menciptakan sistem kekebalan tubuh yang sangat kuat.
.
Pengaruh Pikiran dan Perasaan pada Kasus Penyakit Unik
Untuk membuat Anda lebih mengerti bagaimana pikiran dan perasaan positif serta tanpa keraguan bisa membuat mujizat kesembuhan, saya mengajak Anda menyimak contoh 2 kasus dengan penyakit atau kondisi kesehatan yang unik. Pertama-tama adalah dari Pierre Franckh, penulis buku “Law of Resonance”:
“Dalam kehidupan, saya juga punya pengalaman mengenai kekuatan penyembuhan dari dalam diri sendiri. Hal ini tentunya dianggap tidak mungkin oleh ilmu kedokteran.
Waktu itu, saya baru berusia sekitar 20 tahun dan menderita sakit punggung yang sangat hebat. Kemudian, saya langsung diperiksa ke bagian medis yang menangani penyakit ini.
Setelah pemeriksaan pertama, keluarlah diagnose yang sangat menghancurkan hati. Ternyata, saya menderita penyakit Morbus Bechterew, sebuah penyakit kronis yang menyerang tulang belakang. Beberapa tahun lagi, punggung saya akan menjadi kaku. Hal itu tidak bisa disangsikan lagi karena semua hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan hal tersebut.
Lalu, saya harus kembali untuk diperiksa satu minggu kemudian, tentunya setelah saya bisa menenangkan diri. Semua jelas: Penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan saya tidak bisa lagi melanjutkan kehidupan saya sebagai seorang actor. Dalam waktu yang sangat singkat, tulang belakang saya akan menjadi kaku, sehingga seolah-olah itu adalah satu-satunya tulang yang ada. Tidak hanya itu, dalam waktu yang bersamaan, punggung saya juga akan menjadi bungkuk sehingga saya hanya bisa melihat ke bawah saja.
Satu minggu berlalu – satu minggu yang paling berat dalam kehidupan saya. Dulu, saya belum tahu bahwa kita bisa ‘sukses mewujudkan keinginan’ atau mengetahui tentang fisika quantum. Saya tidak tahu bahwa orang bahkan dapat mengubah DNA hanya dengan kekuatan daya pikirnya. Saya hanya mengetahui satu hal, bahwa saya sehat. Punggung saya sangat baik. Saya penuh kekuatan. Saya lincah, gesit, dan bebas bergerak.
Kemudian, saya memesan tempat untuk berlatih tenis selama setahun penuh. Bukan karena saya merasa putus asa, melainkan karena merasa begitu gembira bisa bergerak dengan bebas. Karena saya tahu, begitu bahagianya menjadi orang sehat. Bagi saya saat itu, tidak ada lagi keragu-raguan. Hidup saya akan dimulai sekarang!
Saya tertawa ketika membaca cerita-cerita lucu. Saya berterima kasih atas saran-saran yang diberikan kepada saya. Saya merasa terbangun dan merasakan kehidupan di dalam diri saya. Saya merasa sehat. Saya berkonsentrasi setiap hari, siang dan malam, setiap menit, setiap detik pada keajaiban yang akan terjadi pada diri saya.
Hal itu sungguh sangat mengherankan bagi lingkungan saya. Tidak ada orang yang bisa menerangkan kegembiraan hati saya, kebahagiaan yang saya rasakan, dan kecintaan saya terhadap sesuatu dan setiap orang. Saya menari dan menyanyi, saya merasa begitu utuh. Saya penuh rasa terima kasih dan sangat menghargai kehidupan saya selama ini.
Lalu, tibalah saatnya saya kembali diperiksa oleh dokter, kembali dites di laboratorium. Dan para dokter terheran-heran melihat pasiennya yang begitu gembira. Kemudian terjadilah kejutan itu. Tidak bisa diterangkan! Tidak bisa dimengerti! Sesuatu yang belum pernah terjadi! Sesuatu yangtidak mungkin keliru!
Seorang dengan tergagap-gagap berdiri di hadapan saya. Radang rematik pada tulang belakang saya menjalar hingga tulang selangkangan, semuanya dulu masih terlihat sangat jelas, tapi kini … Kami harus mengulang pemeriksaannya sekali lagi. Tapi, 3 hari kemudian para dokter tetap saja tidak bisa menjelaskannya. Semua penyakit itu hilang begitu saja. Tidak ada yang bisa terdeteksi lagi dan tidak ada yang bisa dibuktikan lagi. Kecepatan pengendapan darah terlihat normal, tidak ada lagi HLA-B27. Para dokter tentu saja merasa bahagia, tapi …
Saya kira mereka pasti lebih menghendaki semua berjalan sebagaimana mestinya, dengan penyakit dan segala konsekuensinya, sehingga kehidupan mereka pun bisa berjalan dengan normal.
Tapi sekarang, kami hanya saling berjabat tangan dan mereka masih menggeleng-gelengkan kepala penuh ketidakmengertian. Saya bahkan masih sempat menenangkan mereka, dan mengatakan bahwa mereka telah melakukan semuanya dengan benar. Kemudian, saya mulai lagi berlatih tenis.”
Tidak kalah uniknya, Sandra – pembaca buku Pierre, juga memberikan kesaksian melalui suratnya kepada Pierre. Demikian isi suratnya:
Hallo Pierre,
Saya telah berhasil mewujudkan beberap keinginan saya. Berikut ini adalah contoh dalam masalah kesehatan:
Saya menderita gangguan pencernaan, yang disebut bulimia. Saya merasa terpaksa harus menelan begitu banyak makanan, lalu memuntahkannya kembali supaya berat badan saya tidak bertambah. Lima tahun lamanya saya menjalani 2 macam kehidupan yang saling bertentangan dan tidak ada yang mengetahui hal ini. Dari luar, saya terlihat baik-baik saja. Tapi dalam hati, saya merasa sangat malu.
Suatu hari, seseorang menyarankan saya sebuah buku mengenai “berpikir positif”, yang tujuannya untuk “sukses mewujudkan keinginan”. Saya merasa sangat tertarik, karena sadar bahwa hanya diri sayalah satu-satunya yang bisa mengubah keadaan ini. Jadi, saya mulai mengatakan kepada diri sendiri hal-hal baik yang saya inginkan terjadi pada diri saya, say juga membuat sugesti dalam hati.
Disamping itu, saya selalu membayangkan saat saya menjadi ramping, langsing, dan sehat, serta mendapatkan pujian dari teman-teman karena aura positif yang terpancar dan bentuk tubuh saya yang ideal. Semua berlangsung beberapa saat lamanya, tapi saya yakin ini adalah jalan satu-satunya menuju kesuksesan.
Kemudian, kehidupan saya berubah sama sekali. Semuanya terjadi seperti yang saya bayangkan. Pertama-tama, saya harus membiasakan diri untuk makan secara teratur tanpa harus memuntahkannya lagi. Awalnya semua tidak berjalan dengan baik, sampai saya akhirnya membuang timbangan badan saya. Tapi kemudian, berat badan saya turun sekitar 10 kg dalam waktu kurang dari 1 tahun, bahkan hal ini berlanjut terus. Sampai sekarang, saya masih menginginkan berat tubuh ideal saya sekitar 60 kg.
Kini, saya bisa makan apa saja yang saya mau, tanpa khawatir berat badan akan bertambah. Artinya, bulimia yang saya derita sudah menjadi masa lalu, dan semua saya lakukan sendiri, tanpa bantuan orang lain. Ditambah lagi, saya memiliki berat badan yang saya inginkan.
Salam,
Sandra
Nah, semoga 2 contoh di atas cukup memberikan keyakinan kepada Anda bahwa penyembuhan dengan pikiran dan perasaan, atau biasa disebut dengan “faith healing” (penyembuhan dengan iman) adalah nyata, bahkan bisa lebih berkhasiat daripada obat-obatan.
Jadi, jika Anda mengharapkan kesembuhan total, mulailah berpikir dan merasakan keyakinan yang positif, serta tanpa keraguan.
Healindonesia, Dt. Awan (Andreas Hermawan)

Peran Kulit Manggis untuk Pengobatan AIDS


Banyak sekali herbal, suplemen, atau terapi-terapi alami yang bisa digunakan untuk pengobatan AIDS sebagai pengganti ARV. Diantaranya adalah kulit manggis, dimana memiliki banyak khasiat dan aman tanpa efek samping.
Untuk bisa lebih memahami manfaat kulit manggis bagi para Odha (Orang dengan HIV/AIDS), berikut tulisan yang saya kutip dari buku “My Healthy Life – Kulit Manggis vs Penyakit Maut”.
.
Kulit Manggis untuk HIV-AIDS
Tak ada air mata berderai-derai, ketika dokter mendiagnosis Bethari Drupadi positif mengidap penyakit maut: HIV-AIDS. Angka penanda virus – CD4 – hanya 69; kadar normal minimal 1.500. Penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu sungguh ganas karena beragam infeksi lain seperti tuberkulosis, hepatitis, dan tumor lebih mudah menyerang. Itu karena tubuh rentan akibat sistem kekebalan tubuh lemah. Namun, menghadapi diagnosis itu, Bethari Drupadi – ia enggan nama sebenarnya tertulis di sini – sangat tenang.
“Kalau sebelumnya saya melakukan seks bebas, saya menyesal. Saya kan hanya ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak di rumah,” kata Bethari Drupadi. Bercokolnya HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodeficiency Syndrome) diduga bermula pada awal Januari 2011, saat Drupadi mengunjungi kerabatnya di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Diduga karena masa inkubasi virus relative lama, dalam hitungan bulan atau tahun. Di pedalaman Papua itu ia menggigil karena terserang malaria sebagaimana diagnosis dokter di sebuah Pusat Kesehatan Masyarakat di Mimika.
Untuk mengatasi malaria, Drupadi menjalani opname sepekan di Mimika. Ketika itulah ia mendapat suntikan antiplasmodium. Setelah kondisi membaik, perempuan 40 tahun itu pulang ke Jakarta. Namun, beberapa hari kemudian ia kembali menggigil. Itulah sebabnya ia bergegas memeriksakan diri ke dokter pada 31 Januari 2011. Tiga kali hasil tes membuktikan bahwa ia positif HIV-AIDS dengan CD4 hanya 69.
Dokter memberikan dua jenis tablet antiretroviral untuk mengatasi virus anggota famili Retroviridae itu. Namun, Drupadi enggan mengonsumsi tablet itu. “Pokoknya herbal,” kata Drupadi. Alasannya herbal lebih aman terhadap organ tubuh. Sejak belia saat tumbuh di Jawa Tengah bagian timur, ia memang terbiasa mengonsumsi herbal untuk menjaga kesehatan. Menurut Franklin Leyder yang 18 tahun terakhir menangani penderita HIV-AIDS, antiretroviral mengganggu organ lain seperti ginjal.
Selain itu, pasien HIV-AIDS yang mengonsumsi antiretroviral paling pol hanya bertahan hidup 3 tahun. Untuk mencari herbal anti-HIV/AIDS, Drupadi berselancar di dunia maya hingga dini hari, pukul 03.00. Ketika itulah ia menemukan informasi bahwa kulit manggis mujarab mengatasi HIV-AIDS. Drupadi girang bukan main. “Saya seperti mendapat durian runtuh, “katanya dengan kedua bola mata berbinar. Setelah tidur sejenak, pagi itu ia memacu motor ke Puncak, kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk membeli buah manggis.
Harap mafhum di sekitar rumahnya, ia tak mendapati penjual buah Garcinia mangostana. Drupadi membeli total 15 ikat buah anggota family Clusiaceae itu. “Kebetulan anak saya suka manggis,” kata ibu dua anak yang beranjak dewasa itu. Ia menjemur kulit queen of fruit alias ratu buah hingga kering, lalu merebus kulit dua buah manggis dalam dua gelas air hingga mendidih, dan tersisa segelas. Air rebusan itu yang ia minum tiga kali sehari. Rasanya agak sepat.
Selama lima bulan hingga Juni 2011, ia rutin mengonsumsi rebusan buah anggota family Clusiaceae itu. Namun, karena menganggap tak praktis, ia beralih ke olah kulit manggis setiap konsumsi yang kini banyak beredar di pasaran. Pada 12 Agustus 2011, ia memeriksakan diri ke dokter dan CD4 membubung hingga 800. Hanya dalam tiga bulan, CD4 Drupadi melambung. “Dalam kamus kedokteran, belum ada lonjakan CD4 sesignifikan itu. Paling hanya 100,” kata Franklin.
Drupadi berencana memeriksakan kadar CD4 pada awal Oktober 2011. Pengalaman Franklin mendampingi para pasien HIV-AIDS yang mengonsumsi jus kulit manggis, kadar CD4 mencapai 1.500 dalam 6-8 bulan; Drupadi baru rutin minum rebusan kulit manggis dan jus. Syaratnya pasien menghindari stress dan mencegah konsumsi daging, susu formula, dan goreng-gorengan.
Sumber: “My Healthy Life – Kulit Manggis vs Penyakit Maut”.
.
Pendapat Menurut AIDS Denialist
Kutipan di atas merupakan tulisan yang bukan dari golongan AIDS Denialist. Jadi kutipan tersebut ditulis berdasarkan batas pemahaman penulis kutipan tadi, dimana masih memperlihatkan bahwa HIV adalah penyebab AIDS dan CD4 merupakan tolak ukur kesehatan Odha.
AIDS Denialist mempercayai dan memiliki bukti-bukti kuat bahwa HIV bukanlah penyebab AIDS. Penurunan CD4 yang selama ini diyakini hanya terjadi pada kasus HIV/AIDS ternyata juga dialami oleh penderita penyakit-penyakit umum lainnya serta orang-orang sehat, dimana mereka bukanlah HIV positif.
Saya dari – golongan AIDS Denialist – sengaja mengutip tulisan di atas untuk memberikan contoh kepada para Odha, tentang kulit manggis sebagai salah satu obat alami yang bisa dijadikan pengganti ARV, yang sudah pasti lebih aman tanpa efek samping.
Bagi para pembaca yang ingin mengetahui lebih detail tentang HIV bukan penyebab AIDS, fakta-fakta ketidakakuratan test HIV, viral load, dan CD4, serta bagaimana menyembuhkan AIDS (bukan sekedar mengobati), bisa membaca artikel-artikel bahasa Indonesia di www.aidsalternative.co.nr
Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)

Enam Situs Pengujian Stop Penggunaan Test HIV OraQuick Karena Hasil Positif Palsu yang Diselidiki oleh FDA dan CDC


Setidaknya enam situs pengujian di San Francisco, New York City dan Los Angeles awal bulan ini menghentikan penggunaan dari test antibodi OraQuick Advance Rapid HIV ½ dari perusahaan OraSure Technologies, sebagaimana CDC dan FDA menginvestigasi laporan tentang jumlah abnormal hasil positif palsu dari tes-tes yang ada (Lin/Chung, Los Angeles Times, 12/20).
Pengujian OraQuick membaca strip yang sebelumnya diletakkan pada gusi pengguna. 20 menit kemudian, akan muncul 1 garis pada strip yang menunjukkan hasil HIV negatif, atau muncul 2 garis jika hasilnya positif (Kaiser Daily HIV/AIDS Report, 12/16).
San Francisco Department of Public Health mengumumkan bahwa dari 9.400 test yang dilakukan oleh 14 klinik kesehatan di San Fransisco tahun 2005, 49 hasil HIV positif dari test oral OraQuick ternyata merupakan positif palsu.
Selain itu, Asisten Komisaris Kesehatan kota New York – Susan Blank – berkata bahwa ada 30 hasil positif palsu di bulan November setelah menemukan rata-rata 5 positif palsu di bulan-bulan sebelumnya (Kaiser Daily HIV/AIDS Report, 12/12). New York City Department of Health and Mental Hygiene, the L.A. Gay and Lesbian Center, University of California-San Francisco AIDS Health Project dan 3 pusat pengujian yang lebih kecil di San Fransisco telah berhenti menawarkan test oral kepada para pasien karena khawatir akan hasil yang positif palsu.
10 Daftar Mobil Paling Mahal di Dunia

Bagi penggemar supercar mewah, tentunya harga banderol yang selangit tidak akan menjadi kendala yang berarti. Bahkan, mereka tidak segan-segan menghabiskan uang ratusan miliar hanya untuk membeli supercar terbaru.

Baru-baru ini Forbes merilis 10 daftar supercar termahal di dunia. Kriteria yang masuk dalam daftar ini meliputi harga yang tinggi, fitur mewah, dan pastinya memiliki tenaga super kencang.

Posisi pertama ditempati oleh

Bugatti Veyron Super Sport. Mobil seharga US$ 2,6 juta atau Rp23,4 miliar ini dibekali mesin 16 silinder dan dapat menghasilkan tenaga 1.200 hp. Bugatti Veyron Super Sport dapat melaju dari kecepatan 0-100km/jam dalam waktu 2,4 detik.

Spoiler for buka:



Sedangkan posisi kedua berhasil ditempati oleh

supercar asal Italia, Ferrari 599XX. 'Kuda Jingkrak' ini dapat melesat dari kecepatan 0-100 km/jam dalam waktu 2.9 detik. Jantung pacunya berasal mesin V12 yang dapat melontarkan tenaga 700 hp. Ferrari 599XX dibanderol dengan harga US$ 2 juta atau sekitar Rp18 miliar.

Spoiler for Ferrari 599XX:



Di tempat ketiga yakni, Zenvo ST1. Supercar buatan Denmark ini dihargai US$ 1,8 juta atau sekitar Rp16 miliar. Kemudian di posisi selanjutnya, diisi oleh Koenigsegg Agera R, dengan kisaran harga US$ 1,7 juta atau sekitar Rp15,3 miliar.

Spoiler for buka:

Untuk posisi kelima dan keenam, masing-masing ditempati oleh

Aston Martin One-77 dan Maybach Landaulet. Kedua memiliki harga yang sama yaitu US$ 1,4 juta atau sekitar Rp12,6 miliar.

Spoiler for Aston Martin One-77:
Aston Martin One-77


Spoiler for maybachlandaulet:
maybach landaulet


Adapun posisi ketujuh berhasil diduduki oleh

Pagani Huayra, yang dilepas ke pasar dengan harga US$ 1,3 juta atau sekitar Rp11,7 miliar.


Spoiler for pagani-huayra-xl:


Sedangkan mobil buatan Pamam Sam, Hennessey Venom GT, harus puas di posisi kedelapan dengan harga banderol US$ 1 juta atau sekitar Rp9 miliar.

Spoiler for hennessey venom gt:




Terakhir, di posisi sembilan dan sepuluh ditempati oleh

SSC Tuatara (US$ 970.000 atau sekitar Rp8,7 miliar) serta Porsche 918 Spyder (US$ 845.000 atau sekitar Rp7,6 miliar)

Spoiler for ssc tuatara:

Spoiler for spyder:



yang terkahir ndan
Spoiler for buka:


Terimakasih