Minggu, 30 Oktober 2011

10 Aturan Pernikahan yang Boleh Dilanggar (Bag. 1)


Eny Kartikawati - wolipop



img
Dok. Thinkstock
Jakarta - Setelah menikah, orang kerap merasa ada banyak aturan yang harus mereka ikuti. Misalnya saja, Anda dan suami harus selalu melakukan segalanya bersama-sama, menyelesaikan perselisihan tanpa bertengkar, tidak boleh tidur dalam keadaan marah, dan masih banyak lagi.

Dalam bukunya, 'Why Did I Marry You Anyway', psikoterapis Barbara Bartlein mengungkapkan tidak selamanya Anda harus mengikuti seluruha aturan yang ada. Melanggar aturan tersebut justru bisa berdampak baik pada pernikahan Anda.

Berikut ini bagian pertama dari 10 aturan pernikahan yang dapat dilanggar seperti dikutip dari Womans Day:

1. Jangan Tidur Dalam Keadaan Marah
Menyelesaikan perselisihan sebelum naik ke tempat tidur memang baik untuk hubungan Anda dan suami. Namun kalau hal itu dilakukan saat Anda dan pasangan sama-sama dalam keadaan lelah dan stres, tentunya malah bisa berdampak buruk.

Elizabeth Lombarodi, PhD, psikolog dan penulis 'A Happy You: Your Ultimate Prescription for Happines', menganggap saran untuk tidak tidur dalam keadaan marah, tak harus selalu diikuti. Menurutnya lebih baik Anda dan suami beristirihat dulu, baru selesaikan perselisihan itu setelah kalian sudah merasa segar. Dengan cara ini, perselisihan pun lebih bisa diselesaikan dengan kepala dingin.

2. Harus Jujur 100%
Kejujuran memang salah satu faktor penting dalam pernikahan. Namun bukan berarti Anda harus mengatakan dengan jujur semuanya. Ada beberapa hal yang sebaiknya Anda simpan sendiri, selama itu memang tidak penting diketahui oleh suami dan mempengaruhi pernikahan.

Misalnya saja, Anda tidak perlu memberitahukan semua detail kisah masa lalu Anda dengan mantan kekasih. "Hal itu dapat membuat terjadi perbandingan. Saat Anda membandingkan, orang akan merasa direndahkan," ujar Bartlein.

3. Tidak Boleh Liburan Tanpa Suami/Istri
Seringkali Anda mendengar nasihat untuk selalu menghabiskan waktu bersama pasangan dan keluarga, saat Anda memiliki waktu luang atau hari libur. Nasihat itu tidak selamanya benar.

Menurut Dr. Lombardo, nasihat itu bisa menjadi masalah saat Anda dan pasangan punya definisi yang berbeda soal liburan. Misalnya, bagi suami liburan adalah pergi ke tempat yang dia bisa menikmati pantai, sedangkan untuk Anda liburan artinya bisa bersantai di udara yang sejuk.

Tidak hanya soal perbedaan tujuan saja, pandangan bahwa 'Anda dan suami harus selalu bersama-sama melakukan segalanya', juga dianggap Dr. Lombardo kurang realistis. Terkadang Anda perlu melakukan sesuatu sendiri, seperti pergi ke salon dan melakoni crembath atau spa. Sementara suami mungkin juga mau bersenang-senang dengan temannya berolahraga sepeda.

4. Bertengkar = Buruk untuk Pernikahan
Bartlein menjelaskan, penelitian menunjukkan, pasangan yang tidak pernah bertengkar lebih berisiko cerai. Mereka tak pernah bertengkar karena selalu menghindari konflik.

Padahal konflik tidak mungkin bisa dihindari dalam sebuah pernikahan. Tinggal bagaimana Anda dan pasangan bisa menyelesaikan konflik itu dengan sehat dan produktif, bukan saling menyalahkan dan berteriak-teriak satu sama lain.

5. Setelah Punya Anak, Anak Harus Dinomorsatukan
"Seringkali aku melihat pasangan mengorbankan hubungannya demi menjadi orangtua yang baik," ujar Dr. Lombardo. Menurutnya, justru dengan mengutamakan kelanggengan hubungan Anda dan suami, bukan hanya baik untuk Anda, tapi juga anak-anak.

Anak akan merasa aman hidup dengan orangtua yang saling mencintai. "Ciptakan waktu khusus untuk berduaan saat Anda dan suami tidak berdiskusi soal tagihan atau anak-anak. Waktu di mana Anda bisa saling menikmati keberesamaan itu," saran Lombardo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jika agan dan aganwati mau titip komentar atau pesan dipersilahkan ya