Minggu, 27 November 2011

Perjuangan yang sia-sia selama 9/12 tahun (+pic)

Abdul munir mulkhan mengatakan bahwa pendidikan adalah rekaya masa depan. Pendidikan juga menjadi salah satu indikator maju atau tidaknya suatu bangsa atau daerah, oleh karena itu pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan, begitu juga di dalam Islam pendidikan sangat diutamakan maka tidak heran apabila dalam :

Quote:
Quote:
A. alquran mengatakan :
1. ayat pertama yang diturunkan adalah IQRA (bacalah),
2. yarfaillahulladzina amanu minkum wallazina utul ‘ilma darajat (Allah akan meninggikan orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat)
Quote:
Quote:
B. kemudian di hadits mengatakan bahwa :
1. Kewajiban belajar :
Thalabul ‘ilmu faridatan ‘ala kulli muslimin wal muslimah
2. Belajar tak mengenal waktu :
Thalabul ilmu minal mahdi ilal lahdi
3. Belajar tak mengenal tempat :
Utlubul ‘ilma walau bishshin
Dan kemudian diperkuat oleh pemerintah Republik Indonesia dengan memprogramkan Wajib Belajar 9 Tahun.
Namun kebijakan pemerintah selanjutnya membuat sebagian besar orang merasa dirugikan khususnya bagi mereka yang berada di pedalaman atau daerah (bukan pusat pemerinatahan).
Kebijakan tersebut adalah Ujian nasional dengan standar kelulusan yang begitu tinggi dan tanpa mempersiapkan pendidikan secara merata sampai kepelosok daerah. Kebijakan tersebut terkesan dipaksakan karna banyak sekolah-sekolah yang tidak siap baik dari SDM guru (kualitatif maupun kuantitatif), sarana prasarana sekolah dll.
Maka ane menganggap kebijakan Ujian sekolah untuk menentukan kelulusan merupakan penjajahan (penjajahan pemerintah pusat terhadap daerah) diera modern, walaupun kemudian porsi sekolah sudah diberikan untuk menentukan dengan perbandingkan antara sekolah dan UN 40 : 60 %. Karena adanya kesenjangan yang terjadi antara pendidikan di perkotaan dan di daerah, dan juga yang tidak bisa kita pungkiri bahwa bangsa kita masih terjadi kesenjangan ekonomi dan sosial, hal ini semua berpengaruh pada motivasi belajar siswa.
Akibat yang muncul dari UN adalah kemunafikan dan ketidak jujuran dalam pelaksanaan ujian nasioanal yang sebetulnya harus di hindari oleh dunia pendidikan

apakah pendidikan hanya milik orang kaya ?
perlu diketahui siswa yang berada dikampung-kampung harus membagi waktu antara mencari nafkah membantu orang tua dan sekolah harus melawan siswa yang berduit (anak orang kaya), yang setiap waktu mereka tidak terganggu dengan bekerja, setiap waktu mereka bisa membayar guru les atau ikut Bimbingan belajar di lembaga yang sudah bersertifikat, tentu merka tidak akan mampu.

apakah pejuangan yang selama ini (9 tahun untuk SMP dan 12 tahun untuk SMA) harus sia sia gara mereka tidak mendapat nilai bagus ketika ujian yang sebetulnya bukan kesalahan seratus persen dari mereka, karena ada aspek ketidak siapan pemerintah dalam meyiapkan sarana dan guru.

Agan dan sista lihat perjuangan mereka dalam berangkat menuju sekolah
di bawah ini :
Spoiler for sepeda:

Spoiler for diatas kapal motor:

Spoiler for sampan:

Spoiler for sampan:

TS mengajak agan dan sista untuk menolak UN sebagai penentu kelulusan, UN hanya sebagai pemetaan pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jika agan dan aganwati mau titip komentar atau pesan dipersilahkan ya