Selasa, 25 Maret 2014

Pahlawan Jalan Kita ( The Heroes Of Road) Bekerja Penuh Ikhlas


Quote:

Awal Berdirinya Saber (Sapu Bersih)

Saber Community merupakan komunitas baru yang digagas oleh Siswanto, 39 tahun. Ide pendirian komunitas ini berawal dari rasa prihatin dengan maraknya kasus perampokan yang disebabkan ban kendaraan kempes di tengah jalan karena tertusuk paku. Kesal dengan kejadian itu, Siswanto akhirnya turun ke jalan membersihkan paku – paku yang sengaja ditebar oleh pelaku. Dia tidak sendiri, di jalanan lain di Jakarta, Abdul Rohim dan Endang juga melakukan hal serupa. Karena memiliki tujuan yang sama, ketiganya kemudian sepakat mendirikan Saber Community. Tujuannya untuk memudahkan dalam menyapu ranjau di jalanan, “Biar terarah dan terkoordinasi”, menurut siswanto. Saber Community resmi dibentuk pada 5 Agustus 2011.1

Belakangan komunitas ini menarik banyak simpati, hingga anggotanya pun bertambah menjadi 26 orang. Mereka dari berbagai usia dan memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda. “Ada kurir, pedagang nasi, tukang ojek, supir dan orang kantoran. Saya sendiri seorang kontraktor di Rawamangun”, kata Agus yang merupakan koordinator Saber Community Jakarta Timur dan Bekasi. Saber juga memiliki banyak simpatisan yang tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

Titik operasi komunitas ini pun tidak hanya terfokus pada satu tempat, melainkan tersebar di sejumlah ruas jalan yang rawan ranjau paku, seperti di Fly Over Roxy sampai Harmoni, Jalan Gajah Mada, seputaran Istana dan Monumen Nasional dan di depan Markas Besar TNI Angkatan Darat serta di Jalan Majapahit. Mereka juga beroperasi di sepanjang jalan simpang Galur sampai Atrium Senen dan jalan Gunung Sahari.

Untuk membersihkan paku, mereka menggunakan alat sederhana, yaitu tongkat atau tali yang ujungnya dipasangi magnet. Para relawan Saber Community melakukan “tugasnya” sambil berangkat ke tempat mereka bekerja serta sepulang bekerja. Pada jam – jam berangkat dan pulang kerja itulah banyak korban pengguna kendaraan bermotor yang terkena ranjau paku.

Berdasarkan hasil operasi, paku yang disebar terdiri dari berbagai jenis, termasuk paku payung dan potongan jari – jari payung. Pelaku biasanya menyebar paku sebelum jam berangkat atau pulang kerja, mereka (para oknum) menyebarkan ranjau paku tanpa ketahuan masyarakat sekitar jalan. Ranjau paku tersebut dijatuhkan sebungkus demi sebungkus, yang jika dilindas kendaraan akan terbukalah bungkus tersebut dan paku yang ada di dalamnya menyebar. Sukarelawan Saber tidak dibayar oleh siapapun, mereka juga tidak pernah meminta atau mengajukan proposal bantuan, mereka ini murni sukarelawan sejati.

Saber Community ini mendapatkan penghargaan dari Kapolda Metro Jaya sebagai wujud apresiasi dan dedikasi demi kemanusiaan yang telah komunitas ini lakukan dan berharap ke depannya semakin banyak orang yang peduli akan hal ini.

Semut Orange Community

Sejarah terbentuknya Semut Orange Community adalah pada tanggal 6 Mei 2012. Pendirinya adalah 5 orang anggota senior yang mengundurkan dari komunitas paku yang ada sebelumnya. Nama Semut Orange diambil dari binatang semut sebagai makhluk sosial, berjiwa gotong royong serta mempunyai struktur organisasi yang bagus dan mempunyai disiplin dan kerja keras dalam kehidupannya. Dalam bahasa Inggris semut adalah ANT (Action Not Only Talk = lakukan aksi, jangan hanya bisa berbicara) dan Orange diambil dari warna yang identik dengan Jakarta.

Komunitas ini mempunya tugas utama menyisir ranjau paku yang ada di sekitar jalan di Jakarta dan sekitarnya, terutama di Jalan Kyai Tapa, Jl. Hasyim Ashari, Jl. Majapahit, depan Istana, Galur dan lain – lain. Mereka melakukan ini semua karena sangat prihatin dengan banyaknya para pengendara sepeda motor yang menjadi korban, yang mana mereka pun pernah mengalaminya, disaat menambal ban dikenai harga yang tinggi dan mutu ban dalam dengan kualitas rendah.

Untuk para pengendara / relawan yang ingin ikut bergabung ke dalam Saber & Semut Orange Communitydapat menghubungi nomor telepon : 021 9403 3834 atau 021 7048 8447
sumber



Spoiler for Suka Duka Relawan Ranjau Paku
Suka Duka Relawan Ranjau Paku 

Spoiler for buka
Quote:
Kerap di caci maki pengendara yang lewat, lalu mendapat ancaman oleh oknum yang menyebarkan ranjau paku, kemudian niat baiknya sering disepelekan dan dianggap remeh oleh masyarakat hingga mengalami kecekaan serius akibat ditabrak pengendara sepeda motor sampai membuat salah satu anggotanya di rawat di rumah sakit. Itulah sebagian kisah pilu dari tim Saber Community, alias relawan sapu bersih ranjau paku saat sedang menunaikan tugasnya di jalan raya.

Dengan bermodalkan hanya beberapa lempeng magnet disertai tali rafia yang diikatkan pada satu lembar batang besi yang diberi roda kecil, anggota relawan sapu bersih “Saber Community” beraksi di beberapa ruas jalan di wilayah Jakarta. Rute yang mereka tempuh lumayan jauh, yaitu berkisar di sepanjang jalan Daan Mogot menuju Roxy, Harmoni, Istana hingga Kwitang arah Senen. Tujuannya hanya satu, yakni mencari paku yang banyak berserakan untuk membuat aman pengendara di jalan raya agar roda mereka tidak bocor secara sengaja oleh oknum tertentu.

Ketika Siswanto, ketua Saber Community menerangkannya kepada kami dari Kompasiana, termasuk saya, Ibu Ani Berta, Ibu Reni Marthauli dan Bang Ali Rahman, usai menghadiri acara Kick Andy. Beliau mengatakan bahwa pelaku penyebar ranjau paku memang tidak semata oknum tukang tambal ban saja, melainkan banyak dilakukan oleh perampok yang sengaja mengambil keuntungan dari prasangka buruk masyarakat kepada profesi tertentu khususnya tambal ban. Seperti kalau seorang pengendara sepeda motor yang bannya bocor atau robek terlihat panik, lalu dihampiri oleh orang yang berpura-pura baik dengan menolong padahal mempunyai niat jahat untuk merampok.

Sebab berdasarkan pengalamannya sehari-hari saat membersihkan jalan raya dari ranjau paku yang berserakan, Siswanto dan beberapa kawan komunitasnya yang berjumlah 16 orang, kerap menemukan kejadian yang terkadang menjengkelkan. Yaitu saat jalanan yang dilaluinya sudah bersih dari ranjau paku karena tersedot oleh alat yang dibawanya itu, namun saat melewati jalan pulang malah paku yang berserakan bisa lebih banyak lagi dari yang dikumpulkan sewaktu pergi. Padahal dengan mata kepalanya sendiri paku-paku tersebut sudah menempel di dalam alat magnetnya itu, tetapi karena ada saja orang yang berniat jahat maka oleh orang tersebut ditebarkannya kembali.

Sungguh suatu pekerjaan yang menjengkelkan, karena sudah lelah menyusuri jalanan dari tempat tinggalnya di Daan Mogot hingga Cideng, eh malah paku tersebut berserakan lagi. Kalau sudah begini, paling Siswanto dan beberapa rekan komunitasnya hanya bisa geleng-geleng kepala akibat perbuatan jahat atau iseng dari oknum tersebut. Sewaktu kami menanyakan apakah kegiatannya itu dibayar oleh pemerintah atau suatu instansi, Siswanto hanya tersenyum. Beliau mengatakan, apa yang dilakukannya beserta anggota relawan Saber adalah inisiatif sendiri tanpa pamrih oleh pihak tertentu, yang gunanya untuk menimbulkan kenyamanan di jalan raya. Baik kepada pengendara lain maupun untuk dirinya sendiri termasuk anggota Saber yang dalam kesehariannya bekerja mengendarai sepeda motor.

Kendati sama sekali tidak mendapatkan materi, Siswanto dan relawan Saber tetap merasa puas dan bangga karena usaha yang mereka lakukan sedikitnya telah diterima masyarakat luas, khususnya yang berdomisili di Jakarta. Kemudian beliau pun menambahkan bahwa beberapa bulan yang lalu, komunitas relawan Saber mendapatkan penghargaan dari Walikota Jakarta Barat karena aksi mereka yang sangat tulus dalam melakukan tugas yang memang bukan kewajibannya. Apalagi ditambah dengan apresiasi yang diberikan Kapolda Metro Jaya terhadap relawan Saber dengan memberikan penghargaan serta pakaian khusus dan ID card resmi sebagai warga negara yang turut membantu aparat kepolisian dalam memberikan kenyamanan di jalan raya dari ranjau paku.

Menilik saat pertama kali dibentuknya pada bulan Agustus 2011 lalu, Saber Community atau relawan sapu bersih ranjau paku, awalnya hanya karena pengalaman gemas yang dialami beberapa anggota karena menyaksikan fenomena banyaknya paku yang bertebaran hampir di setiap sudut Ibukota. Sebab karena paku-paku tersebut, ban kendaraan mereka menjadi bocor akibat melewati jalan yang dipenuhi ranjau paku. Kemudian setelah tidak begitu puas dengan pelayanan yang diberikan beberapa tukang tambal ban yang kerap memberlakukan harga mahal saat akan mengganti ban dalam yang bocor hingga mencapai diatas rp 30.000 rupiah, meski tidak semua tukang tambal ban berlaku seperti itu namun banyak juga yang mengambil keuntungan dengan dalih malam hari gelap dan tiada satupun toko ban yang buka. Padahal keseharian dari Siswanto, Abdul Rohim serta anggota relawan lainnya hanya warga biasa yang bekerja sebagai tukang ojek, buruh bangunan, sopir angkot hingga pegawai swasta tentunya merasa keberatan.

Usul punya usul, akhirnya beberapa dari mereka membentuk sebuah wadah komunitas warga yang bernama Saber Community, dengan maksud untuk kegiatan sosial bersama-sama membersihkan jalan raya dari ranjau paku. Hingga kini berjalan lebih dari setengah tahun, komunitas Saber tetap eksis bahkan anggotanya bertambah banyak dengan hadirnya simapatisan yang berasal dari beberapa warga yang juga terdorong tekadnya untuk bahu membahu membersihkan jalan raya dari ranjau paku. Kendati begitu, ujian untuk mereka pun bertambah banyak pula dengan ulah iseng dari sekelompok oknum yang sering menyebar paku dalam rentang waktu yang berlainan. Bahkan sekelompok oknum yang berniat jahat tersebut kerap dipergoki oleh anggota relawan hingga saling kejar-kejaran diantara mereka, dan tak jarang menyerang relawan dengan cara menimpuk dari belakang memakai botol minuman.

Untung saja saat itu, salah satu anggota relawan Saber bernama Rohim yang sedang berkeliling tidak sampai terkena pecahan beling dari botol minuman tersebut. Pun begitu ketika Siswanto yang saat itu sedang menyusuri jalan dengan alat magnetnya, dari arah berlawanan dikata-katai dengan kalimat yang kasar dan tidak senonoh lalu kabur kembali setelah dihampirinya. Siswanto hanya bisa bersabar menyaksikan ulah oknum tak bertanggung jawab yang mungkin merasa tidak senang dengan keberadaan relawan Saber yang kerap menggagalkan aksi mereka berniat jahat di jalan raya.

“Yang terpenting adalah kita sebagai warga negara wajib untuk saling menjaga dan membantu warga lainnya terutama pengguna jalan, walau dengan alat yang seadanya ini”. Ucap Siswanto mengakhiri pembicaraan sambil memperagakan kegunaan alat penyapu ranjau paku yang telah ditempeli magnet dan bisa di dorong karena ditambahi beberapa roda kecil.sumber

Spoiler for Hasil Operasi SABER dan Semut Orange
Semut Orange Kumpulkan 650 Kg Ranjau Paku 

Spoiler for buka


Spoiler for Tambal Ban Gratis
Jadi Korban Ranjau Paku? Ini Ada Tambal Ban Gratis 

Spoiler for buka
Quote:
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ada satu tempat tambal ban unik di Jalan Kyai Haji Hasim Ashari sekitar kawasan Roxy Jakarta Pusat.
Beda dengan tambal ban biasa, pos yang terletak tidak jauh dari dealer Nissan itu tidak memungut bayaran. Mereka gratis menambal setiap ban sepeda motor yang kempis terkena paku jalanan. Para relawan di tambal ban itu menamakan diri "Komunitas Semut Orange".
Menurut Ketua 'Semut Orange" Johan P. Tuilan (50-an), tambal ban gratis hadir karena melihat banyaknya pengendara motor yang terkena ranjau paku. "Sehari paling banyak kami tambal sekitar 20 motor," kata Johan yang akrab dipanggil Yossy tersebut.
Nama "Semut Orange" menurut Yossi terilhami dari semut, binatang yang hidup berkoloni dan masing-masing punya tugas yang jelas. "Selain itu, semut bahasa Inggrisnya 'ant', ini sama dengan visi kami yang 'ANT', singkatan dari action no talk," kata Yossi. Kata "orange" menurut Yossi digunakan karena mereka berada di Jakarta. "Orange" adalah warna yang digunakan kesebelasan Persija Jakarta.

Sambil menambal ban sepeda motor yang bocor, Yossi mengemukakan para anggota "Semut Orange" merupakan mantan anggota Komunitas Sapu Bersih (Saber) yang keluar karena kesetidakpahaman dengan para pengurus lainnya. Saber adalah kelompok relawan yang setiap hari mengumpulkan ranjau paku.

Jika ban dalam yang bocor sudah terlalu parah, "Semut Orange" menyediakan ban dalam seharga Rp 25 ribu, sama dengan harga yang mereka beli dari toko. "Semut Orange" membuka pos tambal ban gratis pukul 06.00-18.00 WIB karena memprioritaskan pekerja dan pengantar anak sekolah. "Pengennya buka 24 jam tapi karena keterbatasan jumlah anggota dan tenaga jadi cuma pagi sampai sore aja," kata Yossy.

Setiap pagi mereka menyapu paku-paku yang bertebaran di sekitar Harmoni hingga Roxy dengan alat bermagnet yang mereka buat sendiri. "Kami benar-benar murni ingin membantu masyarakat bukan mengharapkan imbalan," kata Wakil Ketua Semut Orange Sanawi. Dia mengaku keluarganya mendukung kerja sebagai relawan itu.

Mereka mengakui tidak bisa menolak ketika ada warga yang memberi imbalan. "Semut Orange" telah menyediakan kotak uang untuk menampung sumbangan warga selain membuat rekening bank atas nama Komunitas Semut Orange. "Kami sebisa mungkin berusaha transparan kepada masyarakat," kata Sanawi.

Komunitas ini berdiri sejak 6 Mei dan kini telah beranggotakan 12 orang. Selama sebulan ini sekitar 300 sepeda motor sudah mereka tambal. Yossy mengaku bahagia ketika bisa membantu menambal ban sepeda motor bocor.

Walau telah bersusah payah memberi pelayanan gratis mereka mengaku masih mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari warga. "Mas di sana masih banyak pakunya lho. Kenapa nggak diambil sih," kata Sanawi menirukan komentar warga.
Sanawi mengatakan ranjau paku tidak akan pernah habis karena jumlah tukang tambal ban semakin banyak dan penghasilan mereka ada jika sepeda motor ada yang bocor.
sumber

Spoiler for VIDEO AKSI PAHLAWAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

jika agan dan aganwati mau titip komentar atau pesan dipersilahkan ya