Selasa, 28 Januari 2014

ACEH DOELOE

Selamat Datang kembali ke Blog ane, yang udah hampir satu tahun TERLANTAR, Ushh...usshh kasihan. ya wajar karena bentar lagi mau UN jadi Admin yang masih kelas 3SMA disibukan banyak tugas, dan Bimbel.
  Langsung kepada tema kita sekarang yaitu Aceh Doeloe, daerah yang terletak di ujung barat Indonesia ini merupakan salah satu daerah istimewa di Indonesia selain Yogyakarta. Sehingga daerah ini dijuluki Kota Serambi Mekkah.
  Kota Banda Aceh adalah salah satu kota sekaligus ibu kota Aceh, Indonesia. Dahulu kota ini bernama Kutaraja, kemudian sejak 28 Desember 1962 namanya diganti menjadi Banda Aceh. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat segala kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya.

  Selain itu Aceh Darussalam juga sangat terkenal setelah terjadinya Tsunami besar yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang mengakibatkan ribuan nyawa melayang.

Sekarang ane bakal kasih foto-foto Aceh tempo doeloe,Ceekiidooot....!!





Pejuang Aceh Doeloe
Kantor Pos Aceh Deoloe
Weeew... Jadul banget, Semua masih dari bahan kayu dan yang mengendalikannya juga masih bangsa belanda.

Hotel Pertama Aceh


Sepasang Pengantin Aceh -1880
Agan-Agan bisa lihat difoto ini betapa Sederhana dan sangat melekat dengan Adat Aceh. Tapi yang dipertanyakan kenapa ada "pistol" yang dipakai oleh pengantin laki-laki. Apakah mungkin itu hasil jarahan dari bangsa belanda ??? Mungkin saja. 

Masyarakat Aceh Doeloe
Masyarakat Aceh pada masa penjajahan hingga sekarang terkenal dengan ke-Religiusan nya, itu pula yang mengakibatkan bangsa belanda susah untuk menjajah Aceh. dan mengutus salah satu pasukannya untuk belajar ilmu agama islam di arab saudi dan kembali ke aceh sebagai guru mengaji kemudian mencari titik kelemahan dari masyarakat Aceh. Baru setelah beberapa tahun belanda mengetahui bahwa kelemahan masyarakat aceh ialah, Musyawarah. Tidak lama kemudian bangsa belanda dan masyarakat aceh ber-musyawarah dan belanda pun mampu menguasai kota serambi mekah tersebut.



Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien pejuang indonesia yang memiliki cerita begitu Ironis, lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang sangat taat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia. Ibunda Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang bangsawan Lampagar. Cut Nyak Dhien dibesarkan dalam lingkungan suasana perjuangan yang amat dahsyat, suasana perang Aceh. Sebuah peperangan yang panjang dan melelahkan. Parlawanan yang keras itu semata-mata dilandasi keyakinan agama serta perasaan benci yang mendalam dan meluap-luap kepada penjajah.
  Cut Nyak Dhien dinikahkan oleh orang tuanya pada usia belia, yaitu tahun 1862 dengan Teuku Ibrahim Lamnga putra dari uleebalang Lam Nga XIII . Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. 
 
Namun, tak lama suaminya meninggal pada saat perang aceh tahun 1873, Hal ini membuat Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda. Setelah itu, Teuku Umar, tokoh pejuang Aceh, melamar Cut Nyak Dhien. Tadinya Cut Nyak Dhien menolak, namun karena Teuku Umar mempersilahkannya untuk ikut bertempur dalam medan perang. Cut Nyak Dien akhirnya menikah lagi dengan Teuku Umar pada tahun 1880. Hal ini membuat meningkatnya moral semangat perjuangan Aceh melawan Belanda. pada tanggal 11 Februari 1899. Teuku Umar gugur tertembak peluru. Karena hal ini, Cut Nyak Dien memimpin pasukan pada usianya yang ke 50 tahun melawan Belanda. 
Lama-lama pasukan Cut Nyak Dhien melemah. Kehidupan putri bangsawan ini kian sengsara akibat selalu hidup di dalam hutan dengan makanan seadanya. Usianya kian lanjut, kesehatannya kian menurun, seiring dengan bertambahnya usia, Cut Nyak Dien pun,semakin tua. Penglihatannya mulai rabun dan berbagai penyakit orang tua pun mulai menyerang.

Beberapa hari kemudian ia ditangkap oleh Belanda. Dia pun akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Di Sumedang tak banyak orang tahu perempuan ini. Tua renta dan bermata rabun, Pakaiannya lusuh, dan hanya itu saja yang melekat di tubuhnya. Sebuah tasbih tak lepas dari tangannya.


Bendera Alam Zulfikar/Bendera Kerajaan Aceh

Lukisan Pelabuhan Aceh
Inilah yang mengakibatkan Bangsa-bangsa eropa ingin merebut Aceh, Dikarenakan Aceh memiliki pelabuhan yang sangat pas untuk melakukan jual-beli barang/rempah-rempah pada masa itu hingga sekarang meskipun tidak sejaya pada masa kerajaan.

Masjid Baiturrahman -Aceh
Inilah Masjid pelindung rakyat aceh saat terjadinya tsunami besar pada tangga 26 desember 2004, ratusan orang berlindung di dalam,di atap, di dinding-dinding masjid ini, Dan Alhamduillah keajaiban itu terjadi semua yang berindung di masjid ini selamat.

Sekian sedikit informasi dari saya semoga bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan komentar, Komentar anda sangat berharga bagi kami. Jalani hidup kedepan dan pelajari segala hal dari belakang Salam Indonesia Tempo Doeloe # Riki Hardiansyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

jika agan dan aganwati mau titip komentar atau pesan dipersilahkan ya